Situasi yang terjadi di Indonesia belakangan ini, penyebaran ujaran kebencian berbau SARA di media sosial maupun ruang publik, tentunya mengoyak-ngoyak nilai kesatuan di dalam kebinekaan yang selama ini telah menjadi konsensus bersama bangsa Indonesia. Apakah nilai ini sungguh telah menghilang dari masyarakat kita atau hanya segelintir kelompok saja yang menyingkirkan nilai ini dari pandangan hidup keseharian mereka, sehingga yang berbeda dipandang sebagai musuh yang harus dimusnahkan atau disingkirkan. Hilangnya keterbukaan terhadap kebinekaan di ruang publik merupakan sebuah ancaman serius yang bisa membawa Indonesia pada jurang disintegrasi bangsa.

Kebinekaan atau keberagaman merupakan realitas sehari-hari yang tidak bisa ditolak di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku, budaya, agama, ras, dan golongan, suatu anugerah dari Tuhan YME. Meski perbedaan bagaikan bahan baku yang mudah terbakar menjadi bara konflik, tetapi di sisi lain hal itu sesungguhnya menjadi kekayaan yang memperkaya dan memperkuat nation bulding Indonesia.

Fenomena di jalan raya pun sebenarnya sudah mengajarkan banyak hal tentang keberagaman. Jalan raya merupakan metafora keberagaman yang sehari-hari bisa dijumpai oleh siapapun di pelosok negeri ini. Di jalan raya tidak ada pembatasan suku, agama, ras, dan golongan. Yang ada hanyalah para pengguna jalan raya, ada pengendara sepeda, becak, dokar, motor, mobil, dan truk. Bentuk dan merk kendaraan yang lalu lalang di jalan raya beraneka ragam, bahkan orang yang menggunakan kendaraan pun sangat beraneka ragam. Para pengguna jalan raya hanya terikat pada tata tertib lalu lintas yang sama. Saat terjadi kecelakaan di jalan raya, para pengguna jalan maupun warga yang ada di sekitar tempat kejadian pun akan memberikan pertolongan dengan ikhlas tanpa harus bertanya terlebih dahulu bertanya tentang agama, suku, ras, dan golongan para korban kecelakaan. Spontanitas menolong para korban kecelakaan di jalan raya merupakan tindakan yang didorong oleh nilai-nilai kemanusiaan yang ada di dalam diri manusia. Ini merupakan naluri alamiah yang ada pada setiap manusia yang diberikan oleh Tuhan YME.

Para leluhur di negeri ini pun sesungguhnya telah mewariskan penghargaan terhadap keberagaman di dalam masyarakat melalui tradisi-tradisi yang diwariskan secara kultural. Misalnya, tradisi tumpengan yang dihidupi oleh masyarakat Jawa. Sebuah tumpeng terdiri dari nasi kuning (nasi tumpeng) yang berbentuk kerucut dan diletakkan di tengah, dikelilingi aneka macam lauk-pauk (ingkung, ikan asin, gorengan bacem, irisan telur dadar), sayuran (kuluban, lalap), dan jajanan pasar (pisang raja, nagasari, apem, kerupuk). Semua disusun dan diletakkan di atas tampah (nampan dari anyaman bambu) yang dialasi daun pisang. Tumpeng biasa dibuat untuk upacara selamatan atau syukuran di dalam masyarakat Jawa. Tumpeng bukan sekadar makanan, tetapi di dalamnya terkandung berbagai nilai simbolik. Tumpeng mengungkapkan sisi sosio-religius masyarakat Jawa.

Bentuk kerucut merupakan lambang awal dan akhir atau simbol kehidupan manusia dan alam sekitarnya yang berawal dari Tuhan dan berakhir dari Tuhan (Sutiyono, 1998: 62). Bangun kerucut juga merupakan sebuah bangun ruang yang terdiri dari sekumpulan lingkaran yang semakin mengecil dan berujung lancip. Dalam bangun kerucut terdapat kumpulan lingkaran dan kumpulan lingkaran ini menyimbolkan orang-orang yang berkumpul atau bermasyarakat, sedangkan ujung yang lancip bemakna menyembah kepada Tuhan YME (Sutiyono,1998:62).

Tumpengan berfungsi sebagai upacara permohonan keselamatan dan berkat kepada Tuhan YME sesuai dengan makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Di sisi lain, dalam perspektif sosial, tumpengan menjadi upacara yang mampu mengumpulkan anggota masyarakat dengan berbagai latar belakang untuk bersama-sama berdoa memohon keselamatan atau mengucapkan syukur. Anggota masyarakat yang hadir dalam upacara tersebut mengambil bagian dalam tumpeng yang sama secara simbolik maupun riil sebagai bentuk kesatuan tanpa memperhitungkan berbagai perbedaan yang melingkunginya.

Contoh lain tradisi yang juga mewariskan penghargaan terhadap keberagaman, yaitu tradisi megibung dalam masyarakat Bali. Tradisi Megibung merupakan tradisi makan bersama dalam posisi melingkar dan duduk bersila yang mulanya dilakukan oleh warga Karangasem, salah satu kabupaten di Provinsi Bali, kemudian menyebar ke berbagai penjuru Bali, bahkan hingga ke Lombok. Megibung berasal dari kata gibung yang diberi awalan me-. Gibung artinya kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang, yakni saling berbagi antara satu orang dengan yang lainnya. Megibung adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang untuk duduk makan bersama dan saling berdiskusi dan berbagi pendapat (http//:id.wikipedia.org). Melalui tradisi Megibung, masyarakat Bali secara kultural telah berusaha memupuk persatuan dan rasa kebersamaan masyarakat yang berbeda status sosial maupun agama dari generasi satu ke generasi selanjutnya.

Selain kedua tradisi tersebut tentulah masih banyak tradisi di berbagai daerah di Indonesia yang menggambarkan bagaimana harmoni dalam keberagaman itu sudah dibangun dari masa ke masa dan menjadi kearifan lokal dalam menghadapi persoalan hidup bermasyarakat. Sungguh miris jika apa yang telah lama dibangun secara apik oleh para leluhur kemudian diabaikan atau bahkan dihancurkan oleh sebagian kecil masyarakat yang menjarah ruang publik dengan arogansi yang anti keberagaman.

Kearifan lokal yang ada di dalam masyarakat maupun spontanitas rasa kemanusiaan masyarakat merupakan sebuah modal penting dalam mengejawantahkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam laku hidup harian masyarakat Indonesia. Dengan menyadari dan membatinkan kembali kearifan lokal yang menghargai nilai keberagaman niscaya keutuhan NKRI dengan Pancasila bisa terjaga dan mengakar kuat di jantung kehidupan masyarakat Indonesia serta mampu menghadapi berbagai tantangan dan ancaman dari dalam maupun dari luar.

 

penulis : A. Hendrianto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *