Sala atau sering disebut dengan nama Surakarta merupakan sebuah kota yang memiliki cerita tersendiri dalam hidupku. Kurang lebih 24 Tahun aku hidup, tumbuh dan berkembang di kota ini. Perjumpaan dan pengalaman memberikanku pemahaman banyak hal salah satunya tentang keberagaman.

Keberagaman suku, agama, ras dan antar golongan senantiasa menyatu dalam kehidupanku. Misalnya di kampung tempat tinggalku yaitu Tipes, Serengan. Setiap warga bergotong royong tanpa membedakan asal usul dalam aktivitas seperti acara kematian, pernikahan, kelahiran ataupun peringatan hari kematian seseorang. Semua berjalan begitu menyenangkan dan penuh kebersamaan.

Pengalaman lain yaitu ketika saya mulai bergabung dengan kawan-kawan Forum Pemuda Lintas Agama Kota Surakarta. Forum ini senantiasa menyuarakan nilai-nilai persatuan dan kebersamaan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Forum ini terdiri dari beberapa orang yang memiliki latar belakang suku, agama, ras dan antar golongan. Dialog merupakan sebuah sarana untuk kami merawat dan melestarikan kedamaian di kota Sala dalam forum yang kecil tersebut.

Pada Tahun 2013 saya bergabung dalam aksi Solo Bergandeng Tangan di Car Free Day Slamet Riyadi, kegiatan tersebut merupakan salah satu aksi untuk memperingati hari sumpah pemuda.
Suasana ditengah keramaian Solo Car Free Day (SCFD) pun dirasakan berbeda dengan hari minggu biasanya. Rasa keakraban dan nasionalisme pun sangat terlihat antar pemuda, hal ini berlangsung ketika berkumpul dengan beberapa komunitas pemuda lintas agama, seperti Gerakan Pemuda Ansor, Sanggar Samanthabadra Himpunan Mahasiswa Sipil UNS, Mahasiswa Atmi, Mahasiswa Katolik Solo dan Ikatan Siswa-siswi Katolik Surakarta. Kegiatan ini membawa pesan untuk Se masyarakat terutama kaum muda agar kaum muda tetap teguh mempertahankan kesatuan Indonesia dan menjaga lingkungan untuk masa depan yang lebih baik.

Belum lama ini, tepatnya November 2016 ratusan anak muda memadati depan Pasar Gede Solo. Mereka bukan hendak berbelanja atau melakukan unjuk rasa. Rasa kebersamaan dari berbagai elemen warga lintas agama mengusung satu acara musik bertajuk Konser Bhinneka Tunggal Ika. Acara ini digagas untuk kembali mengingatkan untuk pentingnya memahami sekaligus mengaktualisasikan nilai-nilai kebhinekaan untuk persatuan bangsa.

Bagi saya acara-acara tersebut memang sangat penting untuk dilaksanakan agar nilai-nilai persatuan senantiasa menjadi sebuah gagasan yang hidup dan dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Namun hal yang tidak kalah penting lagi, yaitu tentang penyebaran gagasan ini kepada seluruh masyarakat akar rumput agar semakin kuat dalam solidaritas dan kebersamaannya. Selain itu pemerintah kota juga meningkatkan dukungan dalam perwujudan perdamaian dengan latar belakang Sala yang sangat beragam. Pemerintah kota dan pihak Kepolisian perlu untuk menindak tegas intoleransi mengatasnamakan diri paling suci yang terjadi di sekitar Solo.

Hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara hendaknya turut memperhatikan seperti pepatah Jawa yang berbunyi “Rukun Agawe Santosa, Crah Agawe Bubrah” Barang siapa hidup rukun maka hidup bermasyarakat akan teguh sentosa dan barang siapa hidup penuh pertentangan kebencian maka hidup bermasyarakat akan mengalami kehancuran.

 

Penulis : Tiead Adhika G

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *