Istirahatlah kata-kata

Jangan menyembur-nyembur

Orang-orang bisu

Kembalilah ke dalam rahim

Segala tangis dan kebusukan

Dalam sunyi yang mengiris

Tempat orang-orang mengingkari

Menahan ucapannya sendiri

Tidurlah kata-kata

Kita bangkit nanti

Menghimpun tuntutan-tuntutan

Yang miskin papa dan dihancurkan

Nanti kita akan mengucapkan

Bersama tindakan

Bikin perhitungan

Tak bisa lagi ditahan-tahan

 

Wiji Thukul, Istirahatlah Kata-Kata

 

Begitulah puisi karya Wiji Thukul, seorang aktivis yang hilang dalam upaya reformasi 1998. Sosoknya yang menghilang kini semakin banyak dan berlipat ganda di social media. Masyarakat bereuforia menonton film otobiografi Wiji Thukul yang berjudul ‘Istirahatlah Kata-Kata.’

 

Tulisan ini sama sekali tidak ingin mengupas film karya sutradara Yosep Anggi Noen itu, sebaliknya, tulisan ini justru membawa tafsiran lain soal pesan-pesan Wiji Thukul dan relevansinya pada persoalan masyarakat kita saat ini.

 

Istirahatlah Kata-Kata, bukan meminta seseorang untuk bungkam. Sebaliknya, Wiji Thukul menulis syair itu dengan hidup melalui kata-katanya. Sebuah ajakan untuk mempertahankan kehidupan tetap manusiawi melalui perjuangan yang lahir dari kesadaran kolektif. Rasa senasib dan seperasaan sebagai masyarakat yang terhimpit dengan kemiskinan serta kepemimpinan yang otoriter.

 

Lihat saja bagaimana Wiji mengajak pembaca untuk jangan terus berkata-kata tetapi melakukan perjuangan bersama untuk menggulingkan rezim dan memperjuangkan demokrasi. Oleh sebab itu, saat saya menonton film ini, saya malah jadi berpikir, apakah kita saat ini sedang berada pada nafas perjuangan yang sama?

 

Tidak. Mengapa?

 

Dalam kacamata saya, saat ini kita tidak sedang menghadapi permasalahan bangsa yang sama. Kita justru berada jauh dari perasaan senasib dan seperasaan. Mungkin inilah kondisi kita saat ini, kita tidak mengenal apa sih musuh kita bersama, sehingga kita dengan mudah terprovokasi untuk bermusuhan satu sama lain lewat argumen-argumen bernafaskan kebencian.

 

Kita tidak bisa mengistirahatkan kata-kata. Kita terus berperang lewat kata-kata di social media. Dari mulai menyebarkan berita dan informasi yang memprovokasi. Di sisi lain juga ada yang melakukan akso kontra dengan menyebarkan kata-kata persatuan dan kesatuan.

 

Tak hanya kata-kata, kita juga menggencarkan tindakan. Aksi demonstrasi yang tak kunjung selesai. Aksi penolakan terhadap suku, ras, dan agama tertentu. Memang sejak dulu menjadi golongan minoritas adalah sasaran empuk amukan massa.

 

 

 

Follow Qureta Now!

 

Menonton kisah perjalanan Wiji Thukul yang berlari-lari sebagai buronan pemerintah, saya malah berpikir, apa yang terjadi dengan pemerintah kita saat ini? Ada dengan masyarakat kita? Mengapa kita seperti kehilangan induk yang akan menentramkan dan menjaga kita? Di sisi lain kita pun tidak memiliki lagi perasaan senasib sebagai bangsa?

 

Jika anda bertanya, siapa musuh kita saat ini, saya masih selalu sepakat dengan syair Wiji Thukul. Kita masih berhadapan dengan masalah kesenjangan sosial. Salah satu contohnya adalah kemiskinan. Konteks sosial satu ini akhirnya menjadi dalih bahwa orang miskin pasti memiliki sumbu emosi yang pendek.

 

Orang miskin cepat terprovokasi, orang miskin cepat dimobilisasi membentuk gerakan demonstrasi. Itulah mengapa kita mengenal istilah demo bayaran.

 

Di situlah kita berpisah. Musuh yang kita hadapi atas nama bangsa Indonesia saat ini memiliki wujud yang berbeda. Ibaratnya, seperti bunglon, musuh itu mengelabuhi dan membuat kita mudah terprovokasi untuk menyerang satu dengan lain. Kita berpisah dari perbedaan SARA dan juga pilihan politik.

 

Sepertinya, ceritera tentang cita-cita bangsa Indonesia sudah tak laku lagi diumbar-umbar di tengah peliknya permasalahan Indonesia yang masih harus berhadapan dengan persaingan global.

 

Di situlah menurut saya kita harus menjernihkan kembali apa musuh bersama kita saat ini? Korupsi? Ah itu basi, itu zaman pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Rezim Otoriter? Ah, itu basi, zaman Presiden Soeharto. Musuh Kolonialisme seperti yang diungkapkan beberapa ormas? Mungkin yang bersangkutan kurang membaca beberapa literatur tentang sejarah kemerdekaan Indonesia.

 

Lalu siapa musuh bersama kita sekarang? Komunisme? Buruh China? Ini logika yang konyol menurut saya, karena mungkin yang mempopulerkan anti kolonialisme haruslah anti komunisme dan anti China harus bisa membedakan, tidak semua orang China itu kaya menjadi penguasa modal. Serta tidak semua orang Indonesia yang lebih suka dibilang pribumi itu miskin, beberapa juga menjadi tuan besar dan memperbudak sesamanya.

 

Jika yang kita lawan adalah penistaan, tentulah itu adalah penistaan terhadap akar bangsa kita yaitu Pancasila. Sebuah ideologi khas, khusus, disusun untuk Indonesia, dan oleh orang-orang Indonesia sendiri. Itulah mengapa menjadi sangat lucu jika kondisi politik bangsa kita memanas jelang Pilkada namun begitu reaktif terhadap segala istilah masa lalu, seperti orang yang lupa sejarah, seperti kacang lupa kulitnya.

 

Muncul isu komunisme lewat lambang palu arit, lalu muncul juga isu kolonialisme, antek China, Amerika, dan lain-lainnya. Seperti orang tidak waras yang kehilangan akal, dan kita hanyut dalam merespon hal itu tanpa berusaha menjernihkan pikiran itu.

 

Menjadi jelas bagi saya, tanpa bermaksud mensakralkan, bahwa yang seharusnya menjadi musuh kita bersama saat ini adalah orang-orang yang berniat meruntuhkan Pancasila sebagai dasar negara. Boleh saja orang berpendapat Pancasila berada dalam kawasan abu-abu. Mengapa? Maklum saja, hubungan agama dan negara di Indonesia ini tidak jelas masuk dalam ruang privat ataukah ruang publik.

 

Wiji Thukul dan kawan-kawan aktivis masa lalu mungkin tidak menghadapi peperangan horizontal, antar masyarakat karena adanya perasaan senasib ditindas oleh rezim. Mereka bisa membina gerakan yang terstruktur dan sistematis karena kesamaan visi. Itulah yang tidak kita miliki saat ini, menyedihkan. Oleh sebab itu, saya menganggap enteng bahwa akan terjadi revolusi untuk kesekian kalinya. Alasan? Kita tidak senasib sepenanggungan.

 

Usai menonton Istirahatlah Kata-Kata saya malah membatin, jika Wiji Thukul masih ada saat ini, syair apa yang akan dia ciptakan merespon permasalahan bangsa? Akankah dia setia untuk menjaga keutuhan bangsa, memperjuangkan hak-hak mereka yang miskin dan mengalami ketidakadilan karena mereka minoritas?

 

Ingat, minoritas tak selalu soal kuantitas, apalagi yang berkaitan dengan SARA. Minoritas juga mereka yang tersisihkan, miskin dan dijadikan kambing hitam. Selama permasalahan kesejahteraan dan kemanusiaan tidak mendapat perhatian masyarakat, dan kita hanya menuntut dari pemerintah (sementara pemerintah nampaknya abai saja), kita akan selalu terjebak pada adu domba politik identitas.

 

Semoga Wiji Thukul ada dan terus berlipat ganda!

 

 

Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu

Apa gunanya ilmu

Kalau hanya untuk mengibuli

Apa guna baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu

Di mana-mana moncong senjata

Berdiri gagah

Kongkalikong

Dengan kaum cukong

Di desa-desa

Rakyat dipaksa

Menjual tanah

Tapi, tapi, tapi, tapi

Dengan harga murah

Apa guna baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu

 

 

Penulis : Gloria Fransisca

 

Tulisan ini pernah dipublikasikan sebelumnya di qureta.com pada tanggal 25 Januari 2017.

Link : http://www.qureta.com/post/seandainya-wiji-masih-ada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *