Intoleransi di Indonesia memang secara statis sudah berlangsung lama. Dari awal kemerdekaan, gagasan negara agama sudah terbentuk dalam diskusi dan perdebatan. Tetapi pasti ada jawaban, kenapa founding fathers berbesar hati menerima perbedaan? Apakah didasarkan pada pertimbangan politis semata? Ataukah ada permenungan filosofis yang memasukan fakta kultural yang historis tentang kemajemukan Indonesia?

Selalu saja ketika melintasi sebuah jalan besar di Jakarta, tempat dua rumah ibadah terbesar berbagi tempat bersama, hati saya secara pribadi terenyuh. Fakta tersebut mengantarku pada sebuah permenungan, bahwa bangunan dan manusia bukanlah entitas yang terpisah. Selalu saja ada pesan emosional dari bangunan kepada manusia yang mampu menangkapnya. Bagi saya posisi semiotik Istiqlal dan Katedral mau merawat sejarah tentang kemajemukan suatu masyarakat. Indonesia?

Kedua bangunan tersebut membangun memori kolektif toleransi yang sama. Keduanya adalah simbol yang ditugaskan sebagai penjaga persatuan. Oleh karena itu jangan sekali-kali membangun perbedaan untuk keduanya. Itulah alasan lain kenapa Soekarno bersikukuh membangun Istiqlal di samping Katedral berbeda dengan Hatta yang lebih menginginkan tanah kosong di Jl. Moh. Husni Thamrin yang kini menjadi lokasi Hotel Indonesia.

Menariknya, rancangan bangunan Istiqlal justru lahir dari tangan jenius arsitek Kristen Batak, Friedrich Silaban. Ia memenangkan sayembara yang digelar oleh pemerintah pada tanggal 22 Februari sampai 30 Mei 1955. Desain bersandi Ketuhanan-nya memenangkan urutan pertama dari Top Five sayembara pada waktu itu.

Baginya, bangunan bukanlah persoalan fisik semata. Istiqlal harus mampu menterjemahkan keunikan kultural dari arsitektur Indonesia. Istiqlal juga harus merepresentasi imajinasi muslim Indonesia. Sintesa keduanya melahirkan Istiqlal yang tidak hanya berdiri di atas fondasi religius tetapi juga kultural, khas Islam Indonesia yang toleran.

Tetapi kenapa pemimpin dan masyarakat 50-an tidak mempersoalkan agama Silaban? Apa yang terjadi bila rancangan dan pembangunan itu dilakukan saat sekarang? Ketuhanan menjadi sebegitu parsial seolah transendensi dan imanensinya diperuntukkan pada kelompok tertentu saja. Dan itu yang terjadi saat ini.

Situasi sosial politik Indonesia menjadi retak oleh karena isu intoleransi. Klaim mayoritas minoritas mempersoalkan kemajemukan yang semakin memperkeruh keadaan. Kita akhirnya jatuh pada supremasi intoleransi yang melegitimasikan suara kerumunan dan membenarkan tekanan masa.
Atau mungkin persoalan tersebut dipicu oleh nasionalis yang mengagungkan Pancasila sampai pada taraf pembekuan nilai-nilainya. Sehingga, bayi yang terlahir di bumi Indonesia sudah mengalami kebingungan sedari awal dengan seabrek penjelasan abstrak mengenai Pancasila. Apa itu Ketuhanan? Apa itu Kemanusiaan? Apa itu Persatuan? Dan lain sebagainya.

Kaum nasionalis itu kehilangan akal untuk menarasikan kebangsaan secara kreatif, sehingga di tengah problematika akhir-akhir ini kata “kebangsaan” dan “kebhinnekaan” sudah sedemikian “mengenyangkan”, justru sedari berpikir. Padahal bahasa alternatif lain terpateri abadi dalam jejak Katedral yang bersanding mesra dengan Istiqlal, maha karya kaum minoritas, Silaban. Empat tingkat balkon dan satu lantai utama Istiqlal bahkan melambangkan angka “5” yang mewakili lima Rukun Islam sekaligus Pancasila, falsafah kebangsaan Indonesia.

Istiqlal yang megah menyimpan totalitas jejak arsitek Kristen tersebut, yang akhir-akhir ini semakin sering dilupakan. Memang, narasi sejarah yang tidak diolah secara kreatif hanya akan menjadi pegangan untuk merengkuh sewaktu-waktu banjir intoleransi menghampiri. Persis seperti yang diusahakan oleh tulisan ini.

Tetapi tulisan ini hendak menguatkan kembali gradasi Silaban dalam jejak di Istiqlal. Bukan upaya Kristenisasi, tetapi lebih pada penyadaran, bahwa apapun yang berdiri di tanah negara ini tidak terlepas dari campur tangan orang lain. Tulisan ini juga hendak mengutarakan bahwa di tengah gempuran wacana HOAX yang membingkai pikiran kita, masih ada Istiqlal dan Katedral yang dalam diam dan konsisten menggambarkan itu semua. Persoalannya, apakah itu disadari?

Sekali-sekali berjalanlah kesana dan biarkanlah bawah sadarmu dibimbing oleh kemesraan dua bangunan tersebut.

 

Penulis : Fandis Nggarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *