Toh kalau Tuhan sudah memilih untuk mengetuk pintu hati manusia, siapa lagi yang mampu melawanNya? Tuhan memang selalu punya cara untuk mengubah kembali skenario hidup manusia.

Peristiwa dalam satu decade terakhir tentu masih membekas dalam ingatan kita. apalagi bila peristiwa- tersebut memiliki tekanan yang menggugah emosi banyak orang seperti pemboman Hotel JW Marriot pada tahun 2003. Persoalan ketidakadilan sosial yang direpresentasikan oleh simbol kapitalisme Marriot mungkin masih bisa dirunut. Tetapi, klaim terorisme semakin susah dinalar ketika korban jiwa menjadi sasarannya. Untuk apa?

Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang sia-sia. Transisi menuju era reformasi ternyata melahirkan kekuatan ketiga. Kekuatan ini mengangkangi demokrasi untuk tujuan fundamentalismenya. Bahkan, kelompok tersebut ternyata difasilitasi oleh negara. Sehingga, ketika HTI terdaftar sebagai organisasi masa yang legal, mau kita pahami dalam cara apa lagi segala kontradiksi yang ada? Kebebasan berkumpul dan menyatakan pendapat-kah?

Terorisme, dengan demikian, adalah ujung dari proses fundamentalisme yang radikal. Ketika proses tersebut tidak diantisipasi sedari awal, jangan heran bila terorisme kian mendapatkan legitimasi-nya. Saya jadi teringat dengan catatan Einstein dalam bahasa Jerman, “Was mich erschreckt, ist nicht die Zerstoerungkraft der Bombe, sondern die Explosionskraft des menschlichen Herzens zum Boesen”. Einstein bahkan mengatakan bahwa ketakutannya tidak terletak pada daya rusak suatu bom, tetapi pada daya ledak hati manusia yang memunculkannya.

Deradikalisasi menjadi penting ketika persoalan ini semakin terjadi. Tentang ini, ijinkan saya mengulang kembali kisah yang tidak semua orang ketahui. Kisah tentang bagaimana hati yang keras menjadi lunak, melalui refleksi mereka yang mendalam setelah menjarak dari peristiwa 2003.

Ali Fauzi adalah mantan anggota teroris dari kelompok Moro Islamic Liberation Front (MILF). Ia adalah perakit bom pentolan Jamaah Islamiyah yang mengarsiteki berbagai instruktur perakitan pemboman wilayah Jawa Timur tahun 1998. Mantan terpidana ini pernah ke Mindanao dan ditangkap Kepolisian Nasional Filipina lalu dikembalikan ke Indonesia pada tahun 2006. Bom yang dirakit oleh anak didik Ali mengenai Feby yang adalah korban pemboman Marriot 2003.

Feby Firmansyah adalah satu dari sekian korban yang berjuang untuk bisa kembali hidup normal seperti yang lainnya. 45% tubuhnya terserang luka bakar. Beberapa operasi dijalani untuk memulihkan luka bakar tersebut. Perawatan empat bulan di Rumah Sakit bukanlah hal yang mudah.

Bagi Feby, proses pemulihan terberat justru terletak pada disposisi mentalnya. Ia mengakui bahwa di saat seperti itu hanya rasa dendam lah yang mampu membela posisi dirinya. Namun perasaan tersebut semakin membawa dampak yang buruk bagi proses pemulihan. Secara perlahan berkat dorongan dari istrinya, ia belajar untuk sekali lagi memaafkan.

Narasi yang emosional dari pengalaman kedua orang di atas justru terjadi pada pertemuan mereka di acara  Summit Against Violent Extremism  Dublin, Irlandia. Feby begitu merasa emosional ketika ia dipertemukan dengan Ali. Tidak mudah memang untuk memaafkan teroris yang pernah menyerang dirinya. Siapapun pasti sulit melakukannya. Tetapi situasi di atas panggung meminta konsistensi batin yang pernah dijanjikan Feby kepada orang terdekatnya. Feby dengan segala luka fisik dan psikisnya memilih untuk memaafkan Ali.

Ali juga tidak mudah menerima situasi ini. Ia betul-betul merasa bersalah dan larut dalam penghakiman diri. Bertahun-tahun ia harus menjalani hidup dengan rasa bersalah yang berat. Malah di atas panggung, pelukan maaf ia dapatkan dari sang korban. Baginya, itu pengalaman yang menggetarkan sekaligus menyembuhkan. Selama dua jam dia menangis, apalagi ketika melihat keadaan fisik Feby. Feby yang memaafkan dirinya dipeluknya kembali. “Hari ini saya nambah satu saudara lagi dan itu kamu Feb”, kata Ali.

Ketika Ali dibebaskan dari dosa masa lalunya, Feby dikuatkan oleh kerelaan memaafkan. Memang memaafkan adalah usaha paling sulit sekaligus anugerah paling indah di dunia. Semuanya itu diladansi oleh cinta pada perdamaian yang tidak semua orang mengerti apa alasannya. Tetapi kedua orang ini sudah mencoba untuk mengalami indahnya menabur perdamaian dalam situasi tersulit yang tidak bisa dibayangkan.

Ali Fauzi, mantan teroris, kemudian aktif dalam kampanye perdamaian melalui Aliansi Indonesia Damai. Ia aktif menjadi pembicara yang bertemakan deradikalisasi. Feby Firmansyah, kotban terorisme, juga gencar menyerukan pesan perdamaian melalui Asosiasi Korban Bom Terorisme Indonesia. Ia tidak ingin ada lagi korban terorisme seperti dirinya. Keduanya terlibat bersama sebagai peacemaker di Peace Generation (PeaceGen), sebuah wadah yang giat mensosialisasikan perdamaian kepada generasi muda.

Membaca kisah mereka, saya pun semakin dikuatkan dan dicabut dari pesimisme saya yang akut mengenai perdamaian dunia. Hal yang paling penting lagi adalah perubahan pandangan saya bahwa perdamaian dan pertobatan bisa dialami oleh semua umat apapun agamanya, siapapun dirinya di masa lalu. Toh kalau Tuhan sudah memilih untuk mengetuk pintu hati manusia, siapa lagi yang mampu melawanNya?

Tuhan memang selalu punya cara untuk mengubah kembali skenario hidup manusia.

 

Penulis : Fandis Nggarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *