Sangat menarik ketika seorang teman saya mengirimkan tautan berita dari Historia.id yang berjudul “Manusia Indonesia adalah Campuran Beragam Genetika”. Mengapa artikel ini menjadi begitu menarik?

Artikel ini telah membawa saya larut dalam pengalaman saat SMA. Pada mata pelajaran Sosiologi, guru saya meminta kami membuat bagan silsilah keluarga sampai sepanjang mungkin. Tujuannya, untuk menelusuri darah apa saja yang tercampur dalam satu individu.

Lucu buat saya ketika saya menghabiskan banyak kerta untuk menuliskan satu silsilah keluarga ayah saya dan ibu saya. Ayah saya adalah orang yang paling berapi-api menceritakan siapa saja kakeknya, kakek buyut dan leluhurnya. Dia mengatakan bahwa keluarga kami adalah keturunan orang India dari pesisir Malaka. Leluhur saya juga bukan penganut agama Katolik, lebih tepatnya masih menganut agama adat, sejenis animisme. Keluarga saya menjadi Katolik sejak kakek buyut saya belajar dari seorang misionaris Portugis.

Cerita silsilah keluarga Ibu saya tak kalah menarik, bahkan, keluarga Ibu saya ternyata memiliki buku silsilah keluarga. Ibu saya pernah berkata bahwa dia keturunan Timur Tengah, alias keturunan Arab. Tepatnya di tanah Irak. Awalnya saya kira Ibu saya bercanda, tetapi tante saya yang adalah kakak tertua Ibu saya juga membenarkan hal itu, katanya leluhur saya bahkan seorang Arab yang beragama muslim. Terus bagaimana ceritanya keluarga saya semua bisa menjadi Katolik?

Ayah saya pernah berkata kepada saya, bahwa kakek saya dari pihak Ibu punya perawakan tubuh seperti fisik orang Melanesia, ketimbang orang Melayu. Badannya tinggi, besar, berkulit gelap dan rahangnya nampak keras dan kuat. Sangat berbeda dengan fisik keluarga ayah saya yang mirip fisik orang Melayu, berkulit putih dan tinggi badan biasa saja.

“Opa itu katanya asal usul keluarganya dari Adonara bukan asli Maumere makanya perawakannya sangat Melanesia,” begitu kata ayah saya.

Adonara adalah salah satu daerah di Flores Timur. Saya lalu membaca beberapa literatur tentang Adonara dan muslim dari beberapa website. Dari hasil penelusuran itu saya semakin yakin, bisa jadi, kakek buyut saya entah generasi yang mana, memang orang Adonara keturunan Arab. Dia lalu migrasi ke Maumere, dan menikah dengan orang setempat. Sementara saat itu, misionaris Katolik sudah membaptis banyak daerah menjadi Katolik, termasuk kampung saya.

Pernah suatu kali, ketika tante saya sedang menjadi caleg DPR RI, tiga belas tahun yang lalu ketika dia berkampanye di Adonara, dia bertemu dengan seorang perempuan berjilbab yang mukanya sangat mirip dengan Ibu saya. Dia pun menceritakan hal itu kepada ibu saya, keduanya pun meyakini bahwa leluhur mereka memang berasal dari Adonara dan seorang muslim.

Sebenarnya sebelum Katolik masuk ke Flores, penduduk Flores sudah menganut agama Islam. Flores memang menjadi pijakan banyak pedagang asal Portugis, Arab, dan India. Menurut buku I Remember Flores, New York (1957) gelombang pertama misionaris Portugis menyebarkan agama Katolik terjadi pada 1512 hingga 1605. Para misionaris itu adalah Ordo Dominikian, dengan misi pertama di Pulau Solor pada 350 tahun lalu. Dari Solor misionaris bergeser ke Larantuka dan Maumere.

Gelombang kedua penyebaran agama Katolik terjadi pada 1914-1920 oleh dua kongregasi yaitu Serikat Yesus alias Societas Jesu (SJ) dan Societas Verbi Divini (SVD). Pada 1920 Serikat Yesus meninggalkan Flores dan menyerahkan kelanjutan misi kepada Ordo SVD.

Bisa jadi, penyebaran agama Islam di Flores sebelum tahun 1512 yang diyakini sebagai gelombang pertama penyebaran agama Katolik. Seperti halnya agama impor lain, agama Islam pun tentu masuk ke Flores melalui jalur perdagangan oleh orang-orang Arab. Ya, bisa jadi salah satu pedagangnya adalah leluhur saya, bukan begitu? Dia lalu menikah dengan orang Adonara yang punya garis genetik Melanesia.

Saya lalu menemukan lagi beberapa jenis Islam di Adonara. Pertama adalah Komunitas Islam Lamaholot atau Watan Lewo. Kedua, adalah Komunitas Islam pesisir (bahasa Lamaholot: Watan). Biasa dikenal dengan Solor Watan Lema atau Solor Lima Pantai. Ketiga, adalah Komunitas Islam Pendatang. Wah, kira-kira asal-usul keluarga saya dari yang mana ya?

Bisa jadi, leluhur saya adalah komunitas Islam Pesisir, mereka lalu pergi melaut dan akhirnya membina keluarga atau komunitas baru di pesisir pantai Selatan Maumere. Sementara kampung itu sudah dibaptis oleh misionaris Katolik. Ya, kampung saya saat ini ada di Bola, Maumere, sudah menjadi kawasan berpenduduk mayoritas Katolik. Hal ini terbukti dengan keberadaan salib yang ditancapkan oleh misionaris Serikat Yesus, yaitu Santo Fransiskus Xaverius.

Nama kampung saya adalah Watukrus atau Batu Salib. Batu Salib itu berdiri tepat di depan rumah kakek saya, sungguh indah setiap saya pulang kampung dan mengingat perjalanan hidup keluarga saya. Meskipun demikian, saya pun masih punya cita-cita ingin berkunjung ke Adonara, menelusuri jejak leluhur saya.

Hal itu membuat saya sangat bangga dengan keluarga saya yang punya sejarah begitu unik. Namun yang paling membekas untuk saya adalah karena terlahir dalam sebuah komunitas yang begitu toleran. Tidak ada pergolakkan ketika akhirnya pun keluarga saya yang (mungkin) muslim pesisir menjadi Katolik.

Keluarga ibu saya sangat toleran terhadap agama lain. Ya, mungkin karena pengetahuan yang sama bahwa kami sebenarnya juga bukan orang asli dari Flores. Bukan seorang yang asli Katolik.

 

Lalu Kenapa Ribut?

Nah, tulisan ini akhirnya lahir ketika saya merefleksikan keributan yang terjadi social media. Kemunculan pada sejumlah hinaan kepada mereka yang keturunan Arab ataupun keturunan Cina. Pemicunya adalah karena ada meme-meme tidak jelas mengatakan bahwa orang Cina itu bukan pribumi. Lalu serbuan balik diberikan kepada mereka yang keturunan Arab juga tidak boleh disebut sebagai pribumi.

Nah, kebetulan, saya keturunan Arab nih ceritanya. Jadi? Saya bukan pribumi?

Padahal kata ayah saya dan beberapa teman saya, para sunan, Wali Songo, penyebar agama Islam di Pulau Jawa aslinya adalah orang Cina? Terus kenapa jadi rebut masalah begini ya?

Pribumi di Indonesia tidak diukur dari asal muasalmu. Pribumi buat saya adalah sebuah prinsip, sebuah identitas yang kita berikan kepada diri kita sendiri. Sebuah identitas yang kita miliki untuk menjaga keharmonisan hidup dalam komunitas berbangsa dan bernegara Indonesia.

Saya seorang pribumi, maka saya punya kewajiban mengharmonisasikan kehidupan di bumi Indonesia ini. Dengan toleransi dan menjunjung perdamaian dalam keberagaman. Bukan hanya toleransi tetapi juga selalu peduli kepada sesame yang membutuhkan.

Jadi kalau ada yang bilang orang Cina itu ada yang bukan pribumi, silakan saja. Label itu layak diperuntukkan kepada oknum keturunan Tionghoa, notabene pemodal yang mengutamakan bisnis ketimbang memanusiakan manusia. Oknum-oknum demikian bisa disebut tidak memiliki perasaan sebagai pribumi, oleh sebab itu mereka bukan pribumi.

Ingat, jangan mengukur orang Tionghoa semuanya kaya, saya pernah survei ke kawasan Cina Benteng misalnya, mereka hidup pas-pasan atau bahkan ada yang berkekurangan. Beberapa orang Tionghoa itu juga hidup berpindah-pindah, digusur, karena kepentingan bisnis. Ingat, orang Tionghoa pun memiliki perasaan sebagai pribumi, jadi janganlah kita menghina semua orang keturunan Tionghoa bukan pribumi.

Begitupula sebaliknya dengan oknum keturunan Arab yang punya banyak gelar keagamaan tetapi tidak bisa mempertahankan keharmonisan hidup berbangsa. Atau bahkan menyebarkan kebencian dan provokasi terhadap kelompok lain. Mereka juga keturunan Arab, dan boleh saja disebut bukan pribumi ketika oknum tersebut tidak memiliki perasaan dan tanggung jawab sebagai pribumi.

Kita bisa mengambil refleksi sejenis dari film Disney, ‘Moana’ tentang seorang anak perempuan yang sangat mencintai tanah airnya. Namun dia terpaksa meninggalkan tanah airnya untuk menyelamatkan negerinya dari kekeringan akibat kutukan. Perjalanan itu juga menjadi sarana Moana menemukan jati dirinya. Dalam perjalanan menerjang lautan dia mengetahui kalau dirinya adalah keturunan pelaut, penjelajah, voyagers. Dia bahkan berhasil menyelamatkan sebuah pulau dari kutukan, dan mengubah pulau itu menjadi negeri baru untuk disinggahi.

Itu pula yang saya lihat dalam diri saya dan sebagian besar orang Indonesia. Nenek moyangku seorang pelaut bukanlah sekadar lagu nasional yang wajib dihafalkan saat Sekolah Dasar. Lagu itu memberi pesan bahwa nenek buyut orang Indonesia adalah seorang penjelajah, datang dari banyak golongan, dan pintu masuk peradaban berada di samudera. Mereka adalah pelaut, penjelajah.

Semoga apa yang saya refleksikan ini menjadi cukup jelas bagi beberapa pihak yang kebingungan memberikan label kepada diri mereka sendiri.

Pribumi bukan diukur dari asal usul, darah, tetapi dari kesadaran mental sebagai bangsa Indonesia.

 

Gloria Fransisca Katharina Lawi

Sumber:

Manusia Indonesia adalah Campuran Beragam Genetika. Historia.id. http://historia.id/kuno/manusia-indonesia-adalah-campuran-beragam-genetika/2#detail-article diakses pada 19 Februari 2017

Islam di Flores Timur. Blog Hurek. http://hurek.blogspot.co.id/2006/06/islam-di-flores-timur.html diakses pada 19 Februari 2017

Menapak Tilas Jaman Keemasan Kerajaan Adonara Flores. Salimun.com. http://salimun.com/2016/06/02/menapak-tilas-jaman-keemasan-kerajaan/ diakses pada 19 Februari 2017

Perjalanan Sejarah Melanesia di Indonesia. National Geographic. http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/10/perjalanan-sejarah-melanesia-di-indonesia diakses pada 19 Februari 2017

One Reply to “Indonesia dalam Diriku Arab-India-Flores, Kamu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *