Globalisasi dan Perebutan Panggung

Globalisasi adalah ranah hidup segala macam paham atau nilai. Dalam hal ekonomi, misalnya ada kapitalisme, sosialisme, Ekonomi Pancasila, hingga syariah. Belum lagi nilai-nilai budaya dan pergaulan sehari-hari, mulai dari sopan santun dengan pakaian tertutup model budaya Timur hingga yang serba terbuka dalam budaya Barat. Di dalam agama juga demikian: Ada yang ingin menjadi penganut agama Islam, ada pula yang ingin menjadi orang Katolik. Ada yang merasa cocok dengan ajaran Trimurti dari agama Hindu, ada pula yang lebih cocok dengan ajaran untuk menghormati leluhur menurut Konfusius. Jadi, bukan cuma dalam hal-hal yang terkait dengan hidup di dunia, dalam hal-hal yang terkait dengan hidup surgawi pun orang-orang memilih mana yang cocok dan mana yang tidak cocok untuk diri mereka.

Keterbatasan tidak memungkinkan manusia untuk menganut dan menjadikan semuanya sebagai pegangan hidup. Ada kemungkinan terjadinya percampuradukan paham atau nilai, misalnya, menjadi penganut Katolik, tapi juga menjalankan adat leluhurnya. Dapat pula yang terjadi adalah orang memeluk paham yang satu dan menolak yang lain. Mungkin banyaknya paham dan nilai yang beredar juga membuat sebagian orang jadi bingung atau ragu, mana yang sungguh baik dijadikan pegangan hidup dan mana yang tidak. Ada yang mengatakan baik, ada yang tidak.

Globalisasi lalu menjadi medan perebutan panggung paham dan nilai. Para penyebar paham atau nilai tersebut menganggap diri paling baik atau lebih baik daripada yang lain. Dalam ungkapan Held et al. (1999),”setiap zaman baru menciptakan para pemenang dan pecundang baru”. Banyak pihak yang berusaha menjadi pemenang; mereka tidak mau menjadi pecundang.

Situasi itu sebenarnya sudah ada sejak dulu, namun ruang kebebasan yang diusung dalam globalisasi membuatnya semakin panas. Simak komentar Held et al. (1999) berikut ini, yang dengan lugas memberi ungkapan lain bagi perebutan panggung paham dan nilai tersebut:

”Kita telah melihat bahwa globalisasi sedang mengubah dunia kita, tapi dengan cara yang rumit, berlapis-lapis, dan kasar….Globalisasi hingga hari ini telah…lebih jauh meningkatkan perpecahan di dalam dan lintas masyarakat.”

Salahkah globalisasi? Tidak juga. Di balik perebutan panggung itu, sesungguhnya globalisasi menyisakan peluang. Syaratnya adalah para penyebar paham atau nilai harus mau berhenti berebut panggung dan duduk bersama. Yang dibicarakan dalam duduk bersama itu adalah “alih-alih menjadi ranah pertentangan antarnilai dan paham, bagaimana seharusnya globalisasi menjadi peluang agar berbagai nilai dan paham dapat saling berdampingan dan memberi sumbangan untuk kemajuan hidup manusia?” Di sinilah kita seharusnya dapat memanfaatkan globalisasi dan kemajuan zaman, termasuk dalam konteks Indonesia.

Bukan Toleransi yang Dibutuhkan

Bila ingin melihat wajah globalisasi, lihatlah wajah Indonesia, yang sudah lama menjadi ranah hidup berbagai paham dan nilai. Konteks Indonesia dengan keanekaragaman paham dan nilai tersebut semakin menunjukkan betapa pentingnya duduk bersama itu. Kita sudah punya sarananya, yaitu yang ditunjukkan dalam sila keempat Pancasila: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyarawatan/perwakilan”. Ringkasnya: musyarawarah-mufakat. Syaratnya: berhentilah berebut panggung. Bila ingin menunjukkan keunggulan suatu paham atau nilai, caranya bukan dengan menghambat yang lain. Perlihatkanlah keunggulan itu melalui sumbangan yang dapat diberikan paham atau nilai tersebut demi kemajuan bangsa ini.

Jika semua orang sibuk saling menghambat, dijamin tidak akan ada sumbangan apa-apa yang muncul. Bangsa ini akan segera runtuh karena tidak ada sumbangsih apa-apa yang dapat memajukannya. Mengapa? Karena, sementara yang lain itu sudah terlanjur dihambat tanpa sempat menunjukkan sumbangsihnya, mereka yang menghambat itu juga tidak menunjukkan keunggulan sumbangannya sendiri akibat terlalu sibuk menghambat orang lain.

Untuk dapat duduk bersama dan saling memberi sumbangan yang unggul, yang dibutuhkan bangsa ini jelas bukanlah toleransi, yang kerap didengung-dengungkan itu. Kelemahan toleransi terletak pada pembiaran, penenggangan, dan penenggangan terhadap perilaku, paham, atau nilai yang berbeda dari orang yang bersikap toleran tersebut. Pembiaran dan penenggangan menunjukkan sebentuk sikap pura-pura tidak tahu atau tidak mau tahu mengenai kenyataan berupa keberagaman paham dan nilai. Bila ada penerimaan, hal itu hanya dilakukan sejauh paham atau nilai lain itu tidak mengganggu paham dan nilai yang diyakini orang yang toleran itu.

Ketika ada titik di mana paham dan nilai lain dirasa mengganggu, sikap toleran menjadi sulit dipraktikkan. Padahal, perkara mengganggu-diganggu itu kerapkali bersifat subjektif. Ada orang dari suatu kelompok yang merasa terganggu oleh keberadaan paham atau nilai lain. Pada saat yang sama, ada pula orang dari kelompok yang sama, namun merasa tidak terganggu oleh paham atau nilai yang lain itu. Sementara itu, penganut paham atau nilai yang lain itu merasa tidak mengganggu. Perselisihan mungkin dapat terjadi bukan hanya di antara pihak yang merasa terganggu dan yang dianggap mengganggu. Perselisihan juga dapat terjadi di antara pihak-pihak dari kelompok yang sama karena di antara mereka sendiri terjadi perbedaan pendapat.

Alih-alih sikap toleran, yang seharusnya lebih dikembangkan di dalam keberagaman paham dan nilai adalah cinta kasih. Dalam cinta kasih, perbedaan dan keberagaman paham dan nilai tetap diakui dengan segala kelebihan atau kelemahannya. Perbedaan dan keberagaman itu tidak lagi diperlakukan seakan-akan “boleh asalkan tidak saling mengganggu”. Para penganut suatu paham atau nilai tidak perlu menghabiskan energi dengan terus-menerus berjaga dan waspada atas nama ‘toleransi’. Dalam cinta kasih, semua pihak akan menonjolkan keunggulan paham atau nilai yang dianut dengan memberi sumbangan terbaik untuk peradaban manusia, bukan dengan menghancurkannya.

Realitas keberagaman paham atau nilai yang dianut bukanlah hambatan untuk saling memberi sumbangan demi kebaikan bersama. Upaya saling memberi sumbangan itu tidak akan cukup bila hanya didasarkan pada toleransi. Oleh karena itu, mereka yang menginginkan kemajuan Indonesia pasti setuju: Indonesia jelas butuh cinta kasih!

______________________________________

Penulis adalah Rafael Mathando Hinganaday, saat ini menjalani studi S2 di Fakultas Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *