SEMARANG – Untuk mempererat tali persaudaraan antarpemuda lintas iman di Kota Semarang, Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) bersama Pemerintah Kota Semarang mengadakan acara Srawung Kaum Muda Lintas Iman dengan tajuk “Sukacita Orang Muda Merajut Hidup Damai dalam Keberagaman” di Halaman Balaikota Semarang, Minggu (5/3). “Kegiatan ini berangkat dari keprihatinan akan maraknya intoleransi umat beragama di Indonesia,” ujar ketua panitia, Lukas Awi Tristanto, yang ditemui di sela-sela pagelaran gebyar budaya.

Acara yang dimulai pukul 10.30 ini, diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh peserta. Walikota Semarang, Hendrar Prihadi, yang memberikan sambutan di awal acara mengatakan bahwa srawung yang berarti silaturahmi atau rembug bersama merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia diharapkan dapat memunculkan ide yang bisa memecahkan berbagai persoalan di Semarang. “Perbedaan adalah kekuatan bangsa. Sebagai kaum muda yang enerjik, harus dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki, dan juga positive thinking, yakin bahwa selalu ada jalan,” tutur beliau.

Dalam acara yang dihadiri oleh lebih dari 2000 peserta dan lebih dari 70 komunitas, baik dari sekolah, gereja, maupun berbagai komunitas di kota Semarang ini, semakin meriah dengan adanya pagelaran budaya anak muda, seperti band akustik dari Komisi Kerasulan Mahasiswa (Kokerma) Semarang, GKJ Semarang Barat, dan BPD. Selain itu tak ketinggalan pula tari Jangger dari penari Hindu, tari Warak dari YPAK, hingga tari Saman dari UIN ikut menyemarakkan acara yang digagas sejak dua bulan lalu ini. Antusiasme peserta yang hadir pun terlihat saat panitia menghentikan pendaftaran acara donor darah dikarenakan jumlah pendonor yang melebihi kapasitas.

Refleksi akan keberagaman agama disampaikan secara bergantian oleh beberapa tokoh lintas agama di kota Semarang yang turut hadir dalam acara ini, antara lain JS Andi Gunawan (Kong Hu Chu), Pandita Anggadhammo Warto (Buddha), I Nengah Wirta Darmayana (Hindu),  Gus Ubaidillah Achmad (Islam), Pendeta Tjahjadi Nugroho (Kristen Protestan), Sumarwanto (aliran kepercayaan), dan Romo Aloys Budi Purnomo (Katolik). Para tokoh tersebut berpesan bahwa perbedaan yang ada di Indonesia adalah ciptaan Tuhan yang seharusnya dapat dijadikan pemersatu bangsa. Indonesia merupakan Negara yang berhasil membawa keberagaman dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. yang terdapat di cengkeraman kaki Burung Garuda, simbol bangsa Indonesia.

Penampilan budayawan dari Yogyakarta, Joko Pinurbo, yang membawakan syair dan puisi turut melengkapi kemeriahan acara. Selain itu peserta pun dibuat kagum dengan adanya pertunjukan permainan saxophone dari Romo Aloys Budi dengan Heidi (Power Slave) membawakan lagu Amazing Grace yang diiringi oleh tiga orang penari sufi.

Di tengah pertunjukan tari rebana dan tari sufi, hujan tiba-tiba turun dengan deras dan membubarkan kerumunan peserta yang tengah menikmati pertunjukan. Namun, salah seorang penari sufi tetap menari walaupun diguyur hujan deras. Hingga pada akhir pertunjukan, Romo Aloys Budi pun menghampiri dan memeluk penari tersebut sebagai bentuk apresiasi atas totalitasnya.

Sebagai puncak acara, didengungkan Deklarasi Cinta Damai Kaum Muda Lintas Iman Se-Kota Semarang, yang diwakili oleh beberapa orang muda dan para tokoh agama dan diikuti oleh seluruh peserta. Isi dari deklarasi tersebut yaitu

Kami, orang muda lintas agama Semarang, untuk Indonesia menyerukan kepentingan untuk

  1. Mengembangkan sikap hidup inklusif, inovatif, dan transformatif, serta melawan setiap bentuk radikalisme dan intoleransi di muka bumi ini.
  2. Mencintai dan menciptakan kerukunan dalam keberagaman untuk mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat, dan beriman, apapun agama kami.
  3. Berjuang dengan siapa saja untuk terus membangun persaudaran dan persahabatan sejati.
  4. Menjaga dan menegakkan Pancasila, UUD 1945 Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demikian deklarasi kami. Semoga tekad ini dapat kami wujudkan dan menjadi berkat bagi umat dan masyarakat.

Semarang, 5 Maret 2017

Lagu Heal the World menjadi penutup dari acara ini. Intoleransi yang terjadi di Indonesia harus dihentikan, dimulai dari kesadaran para kaum mudanya bahwa berbeda itu anugerah.

_________________________________________

Paguyuban Persaudaraan Lintas Agama (PELITA) Semarang
Contact Person : Lukas Awi Tristanto (HP: 081 228 210 295)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *