Identitas ke-Indonesiaan merupakan sebuah pencarian dan proyek bersama yang belum selesai pasca kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Hari-hari ini kita masih melihat kebingungan di sana-sini akibat tidak memahami identitas ke-Indonesiaan. Konflik antar suku ataupun konflik antar pemeluk agama menjadi pertanda kebingungan atas realitas perbedaan antarelemen masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pertanyaan apa itu Indonesia sebagai sebuah nation menjadi pertanyaan yang masih aktual ditanyakan hingga saat ini.

Proses dialektika Indonesia sebagai bangsa sudah dimulai pada era sebelum kemerdekaan yang ditandai dengan kesadaran sebagai masyarakat yang terjajah. Momentum Sumpah Pemuda semakin mengukuhkan kesadaran perlunya persatuan sebagai sebuah bangsa yang memiliki satu tanah air, berbangsa satu, dan menjunjung tinggi satu bahasa yang dijadikan bahasa persatuan. Kesadaran sebagai bangsa yang satu itu kemudian mengkristal dengan tercapainya kemerdekaan Indonesia. Nasionalisme yang tumbuh pada masa itu bisa dikatakan merupakan nasionalisme yang kosmopolit dan antiimperialisme. Ketika rezim Orde Baru berkuasa, nasionalisme yang berkembang di Indonesia lebih bercorak militeristik dan diartikan secara sempit yang dihubungkan dengan kepentingan pembangunan secara fisik. Nasionalisme era Orde Baru menuntut adanya kepatuhan warga terhadap negara. Ketika memasuki era pasca reformasi, masyarakat Indonesia masih mewarisi konsepsi nasionalisme warisan Orde Baru. Di samping itu, keran demokrasi yang dibuka lewat reformasi ternyata justru memunculkan krisis nasionalisme, sehingga persatuan justru kembali dibangun berdasarkan kesamaan ras, suku, agama atau kepentingan golongan.

Gagasan tentang nasionalisme dari Ben Anderson merupakan gagasan yang relevan untuk menggali kembali roh nasionalisme. Dalam perspektif  Ben Anderson nasionalisme bukanlah sesuatu warisan dari masa lampau, namun lebih kepada sebuah “proyek bersama” (common project) untuk kini dan di masa depan. Proyek tersebut memerlukan pengorbanan pribadi, bukan justru mengorbankan orang lain (Anderson, 2001:4 ). Sebagai contoh pada era revolusi, para pejuang rela mengorbankan diri sampai mati demi mencapai kemerdekaan dan mempertahankan apa yang disebut sebagai Indonesia. Selanjutnya, Ben Anderson mengajukan gagasan bahwa nasionalisme itu muncul dalam suatu wilayah tertentu ketika para penduduknya mulai mermiliki sebuah tujuan bersama, juga masa depan bersama atau diikat oleh rasa persaudaraan yang dalam (Anderson, 2001:4). Dalam rumusan yang lebih singkat nation diartikan sebagai komunitas politik terbayang (imagined political community).

Merujuk pada gagasan nasionalisme dalam kerangka pemikiran Ben Anderson tersebut kemudian dapat diinventarisir bahwa nasionalisme memerlukan tujuan bersama atau bayangan masa depan bersama yang bisa mengikat dan menumbuhkan persaudaraan yang dalam di antara penduduk yang mendiami satu kesatuan wilayah geografis. Lalu bagaimana dengan dengan ke-Indonesiaan? Apa yang menjadi tujuan bersama atau gambaran masa depan itu? Pembukaan UUD 1945 sebenarnya sudah mengungkapkan dengan gamblang bahwa tujuan Indonesia sebagai sebuah bangsa ialah menciptakan masyarakat cerdas, adil dan makmur. Kemudian sebagai pedoman hidup dalam berbangsa digagaslah Pancasila oleh para pendiri bangsa ini. Sayangnya kedua hal tersebut ternyata belum cukup untuk mengikat semua warga bangsa dalam satu persaudaraan yang dalam, keluar dari kotak-kotak agama, suku, ras, maupun golongan bila kita menilik pada fenomena yang terjadi belakangan ini,  yaitu fenomena krisis nasionalisme.

Nasionalisme sebagai proyek bersama harus ditangani secara serius bukan dengan cara instan agar krisis nasionalisme tidak terus berulang. Faruk, Guru Besar FIB UGM, berpendapat bahwa upaya membangun nasionalisme harus menjadi realitas kultural yang bermula dari pemerintahan yang juga nasionalis. Penegakan hukum secara adil tanpa tebang pilih juga merupakan bagian dari upaya membangun nasionalisme (Harian Kedaulatan Rakyat, 4 /03/2017). Jika dikaitkan dengan pandangan nasionalisme Ben Anderson, maka pemerintahan yang nasionalis harus mengupayakan atau menggaungkan visi nasionalisme yang bisa senantiasa menyatukan segenap elemen masyarakat di masa kini maupun masa depan. Kemajemukan harus diterima sebagai realitas dan identitas kebangsaan dan persatuan dapat dibangun dengan kesatuan tekad melawan ketidakadilan, kezaliman, kejahatan, dan kemiskinan, sehingga bisa tercipta komunitas politik terbayang yang bebas dari ketidakadilan, kezaliman, kejahatan, dan kemiskinan.

Ke-Indonesiaan atau nasionalisme dengan demikian merupakan nasionalisme yang inklusif atau kosmopolit. Inklusifitas merupakan sebuah pengakuan, penghargaan atas eksistensi/keberadaan serta penghargaan dan penghormatan atas keberbedaan dan keberagaman. Dengan ke-Indonesiaan atau nasionalisme yang inklusif akan tercipta pula masyarakat yang inklusif, sebuah masyarakat yang mampu menerima berbagai bentuk keberagaman dan keberbedaan tanpa kehilangan persatuan sebagai satu bangsa. Kearifan lokal warisan para leluhur bangsa ini pun sebenarnya sudah mengajarkan inklusifitas, seperti semboyan bineka tunggal ika, kegotong-royongan, tepo saliro/tenggang rasa, serta toleransi, namun sayangnya hal ini kerap dilupakan oleh para generasi penerus bangsa ini karena tergerus oleh arus zaman atau pelekatan identitas pada kesukuan, ras, atau agama.

Gagasan nasionalisme yang inklusif atau kosmopolit merupakan sebuah bentuk nasionalisme yang semestinya ditempuh Indonesia sebagai satu bangsa. Dengan tetap membawa masyarakat pada rel ini, gagasan nasionalisme yang dibayangkan Soekarno sebagai nasionalisme yang khas Timur bisa diwujudkan, sebuah nasionalisme yang bukan tiruan Barat, tetapi nasionalisme yang menerima rasa-hidupnya sebagai suatu wahyu dan menjalankan rasa-hidupnya sebagai suatu bakti.

Tulisan singkat ini tentu bukanlah sebuah gagasan yang bisa menyelesaikan persoalan proyek nasionalisme maupun identitas ke-Indonesiaan. Meskipun demikian, tulisan ini dapat menjadi langkah awal merintis atau merancang berbagai upaya membangun dan memupuk nasionalisme yang inklusif di tengah-tengah masyarakat, sehingga cita-cita untuk menjadi bangsa yang cerdas, adil, dan makmur dapat segera diwujudkan bukan justru sebaliknya jatuh ke dalam tubir jurang perpecahan dan pertikaian sesama anak bangsa.

__________________________________

Ditulis oleh Antonius Hendrianto
Pengamat Sastra dan Budaya asal Yogyakarta
Email: antoniushendrianto@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *