“HAI manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,” itu bunyi al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13.

Saya yakin, di agama manapun, Tuhan tak diyakini sebagai Arab atau Tionghoa. Dia sebagai Yang Mahakuasa bahkan tak melihat jasad kita. Yang dinilai? Hati kita.

Tempat lahir, warna kulit, ras, suku, bahasa, dan agama, merupakan realitas primordial yang diterima seseorang, bukan didapat sebagai hasil usahanya sendiri. Hanya atas kondisi tertentulah fitrah itu berubah.

Berbangga pada ras dan kesukuan, bahkan merendahkan ras dan kesukuan lainnya, sungguh tidak diajarkan pada agama mana pun. Tak ada patokan ras mana yang lebih unggul, atau suku mana yang paling buruk. Tak ada jaminan ras mana yang gemar berbuat kasar, atau suku mana yang paling pelit. Tak ada. Yang ada hanya orang baik, orang jahat. Jika kamu berbuat baik, orang tak akan tanya apa agama dan sukumu, kata Gus Dur.

Pada fitrahnya, Indonesia sudah membuka diri pada beraneka budaya dan berkembang menjadi identitas-identitas. Tak terbendunglah munculnya rasa bangga atas suatu suku atau ras sekaligus sikap menghinakan yang tak sama dengannya. Hal ini menjadi pemicu munculnya kesalahpahaman bahkan bentrok besar-besaran hingga memakan korban jiwa. Sebut saja genosida; praktik pembunuhan besar-besaran suku bangsa oleh suku bangsa lain.

Genosida era kini jauh lebih menakutkan. Ia berubah menjadi lebih melekat pada struktur sosial, tidak hanya bersifat langsung dan konvensional. Didukung dengan kemajuan teknologi, kebebasan mutlak untuk meracau di media sosial tanpa dipayungi batasan hukum yang memadai. Semua ini membuat tumbuhnya rasa benci pada ras tertentu, hingga merasa bebas untuk main hakim sendiri. Genosida modern ini mudah sekali ditemui. Tinggal buka chat grup atau broadcast message, dan lihatlah betapa menjadi rasis itu semudah menyebar pesan di media sosial.

Keberagaman tak bisa dipungkiri. Di manapun ada sayangnya menjadi masalah serius ketika identitas agama dan etnik ditaklukkan dan ditunggangi oleh kepentingan politik. Sehingga yang muncul bukannya mempromosikan keunggulan positif serta perdamaian budaya dan agama, melainkan lobi dan gerakan politik untuk berebut kekuasaan dengan memanipulasi dalil dan sentimen keagamaan,.

Peliknya lagi, duet maut antara politik dan sentimen agama dan ras ini memamah biak, meluas di masyarakat yang terjangkit cinta buta pada kubu tertentu, buta dan tak mau tahu pada bagaimana politik bekerja yang mana ia mengaburkan semua kebenaran.  Masyarakat yang sehari-hari matanya meraba layar, jarinya menari di atas keyboard, segera menyebarluaskan pesan tanpa mau tahu kebenarannya. Semakin emosional, semakin kontroversial, semakin lekas disebarkan.

Namun, menurut Komaruddin Hidayat, masih ada belahan masyarakat Indonesia golongan lain. Masyarakat golongan kedua misalnya, semakin kritis bahkan muak dengan gerakan sempalan yang mengandalkan simbol agama dan mengobrak-abrik sentimen keagamaan. Sayangnya, mayoritas mereka memilih diam, khawatir nantinya dicap sebagai anti-agama, atau sederhananya: tak mau ikut ribut. Sehingga, yang tumbuh dan tetap memamah biak adalah masyarakat golongan pertama.

Pertanyaannya, Anda masuk golongan mana?

Ghia Nodia pernah menyimpulkan; nasionalisme ibarat satu koin yang mempunyai dua sisi. Sisi pertama adalah politik, dan sisi lainnya adalah etnik. Tidak ada nasionaisme tanpa elemen politik, tetapi substansinya tak bisa lain kecuali sentimen etnik.

Ketika diprovokasi maka akan langsung marah, ketika dipuji-puji maka akan langsung pongah? Padahal, tak ada yang lebih busuk selain praktik politik yang tidak adil. Lalu kita, mau berkubang di situ-situ saja? Percaya dan cinta buta?

Jakarta yang Serba Bisa; Ahok dan Hoax

Hidup kita belakangan ini dipekaki oleh Ahok dan Hoax. Mirip, tapi beda, tapi berhubungan. Kian meluber aneka kabar burung yang merupakan respon dari perkataan calon gurbernur DKI Jakarta Basuki Tjahya Purnama atau akrab disapa Ahok terkait ayat Surat Al-Maidah.

Sebagian umat Muslim merasa Ahok melecehkan agamanya. Lalu muncul banyak kebencian yang tak hanya menyasar Ahok maupun partai pendukung dan politisi di sekitarnya, tetapi juga menjalar pada masyarakat keturunan Tionghoa. Kebencian ini terpampang nyata, mudah ditemui di media sosial maupun grup chat. Bahkan yang harusnya hanya jadi urusan Jakarta pun kini meluas hingga seluruh pelosok Indonesia. Jakarta memang serba bisa.

Tak bisa saya pungkiri, sebagai muslim, bahwa perihal nasionalisme dan agama dipandang sebagai satu kesatuan. Islam memang selengkap itu ajarannya. Siapa pemimpin yang layak dipilih, bagaimana pola memimping negara, segalanya punya rujukan

Selengkap itu Islam, sedinamis itu juga sebaiknya diterapkan. Artinya, kita tak hidup di zaman khalifah. Kita hidup di tengah era yang  jauh lebih kompleks. Tak hanya ada muslim di sini. Tak hanya ada Jawa di sini. Dinamis itu perlu, tanpa memisahkan diri dari semangat yang Islam punya.

Pada akhir abad ke-19, para pemikir Islam baru mulai membincangkan relasi Islam dengan patriotisme, nasionalisme, dan nation-state. Pada masa itu, seorang muslim dari Kalimantan Tengah pernah menulis surat kepada Muhamad Rasyid Ridha, tokoh pembaharu Islam di Mesir, untuk menanyakan apakah nasionalisme bertentangan dengan Islam atau tidak? Rasyid kemudian mengutip sebuah hadist yang menyatakan bahwa hubbul wathan minal iman, yang artinya cinta tanah air merupakan bagian dari iman. Tanah air itu tanah kelahiran, Anda dilahirkan di sana dengan izin Allah, bi idznillaah.

Semua dari kita mungkin salah dan mungkin benar. Tapi tak bisa ditampik bahwa agama dapat diekspresikan dengan ragam cara. Dalam ber-Islam pun, kita tumbuh bersama empat mazhab yang kesemuanya baik. Pro kontra itu biasa. Yang satu hanya Allah. Allah Esa.

Sayangnya kini, jika dibandingkan dengan langgengnya empat mazhab itu, dengung amarah selalu lebih dulu maju dibanding “rasa mengerti”. Kita lebih dulu menyalahkan siapa pun yang beda pendapat dengan tokoh panutan kita, maupun berbeda pendapat dengan prinsip kita sendiri. Ini jelas karakter yang provokatif dan rentan memicu kesalahpahaman.

Kondisi ini tak bisa dibilang sederhana, karena masalah kesalahpahaman yang tidak diluruskan ini ke depannya akan jadi bibit konflik, mengingat kita sebagai umat dan bangsa sudah sangat sensitif dan seringnya tak mau berpikir jernih. Juga saya, juga kamu. Kita. Apalagi, sekali lagi, didukung kebebasan berpendapat. Sebuah konsekuensi logis, tentu. Tapi ketahuilah, bebas itu punya batas. Kebebasan kita berbatasan dengan kebebasan orang lain. Silakan direnungkan, silakan dipraktikkan. Mau hidup damai, kan?

Lagipula, hai umat muslim, bukankah munculnya berbagai mazhab dan pemikiran juga menunjukkan bahwa keragaman itu suatu keniscayaan?

*

 JADI, mengapa kita perlu bersikap adil dan jauh-jauh dari rasis? Karena, persatuan dan ketahanan budaya kita dapat menjadi dasar demi mengawal terbentuknya kemapanan demokrasi dan berjalannya fungsi hukum sebagai cerminan dari efektivitas nasionalisme negara-bangsa Indonesia yang bersifat multietnik dan multikultural.

Ajaran agama, penjelasan ilmiah dan ketegasan hukum perlu diintegrasikan untuk membangun Indonesia yang beradab agar pluralitas etnik dan agama menjelma jadi aset bangsa, bukan sumber kericuhan dan anarkisme. Urgensi lain adalah kita perlu mengembangkan penalaran publik (public reasoning) dengan mengedepankan civic values yang mendorong keunggulan nilai dan tradisi dari etnik dan agama yang ada di Indonesia. Praktik literasi media harus digencarkan seiring dengan maraknya kabar burung dan kesempitan berpikir masyarakat kita.

Semua perbedaan seyogyanya diterima dengan lapang dada. Setiap etnik dan agama harus bersama membangun peradaban melalui dialog. Peradaban sebuah bangsa perlu topangan kuat pilar pendidikan, ekonomi, dan hukum. Jika ketiganya lemah, masyarakat yang mengaku relijius pun peradaannya akan keropos.

Daripada menjadi rasis, ingatlah bahwa Indonesia masih punya banyak tuntutan untuk dibenahi: pembangunan demokrasi, hak asasi manusia (bagi kaum buruh dan masyarakat yang terpinggirkan), pemerataan pembangunan, ekonomi kerakyatan, kelestarian lingkungan hidup, ketahanan budaya menghadapi globalisasi, juga masalah moral dan spiritual.

Sebuah Kesimpulan dan Ajakan

MEMANG demikianlah dinamika politik negara kita. Semakin terlihat bagaimana corak kepentingan antarpihak demi meraih kekuasaan dan keuntungan. Ada yang sungguh-sungguh memperjuangkan rakyat? Hm, mungkin ada. Tapi jelas tak semuanya tulus ikhlas. Maka, berhentilah menjadi penggemar berat dengan rasa cinta yang membabi-buta.

Dewasalah berbangsa. Apapun dinamika yang tumbuh baik di ranah politik, agama, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya, sadarilah satu hal yang paling esensial dari dinamika itu, yakni bahwa pembangunan dan kehidupan nasional di negeri ini haruslah berpihak pada kemajuan yang dicita-citakan. Mentalitas elit dan masyarakat pun semestinya berorientasi pada kemajuan, bukan kemunduran. Di sinilah pentingnya membangun kedewasaan.

Sikap dewasa ini seyogyanya dicontohkan oleh para elit demi memberi keteladanan dan keberanian untuk mencari solusi, mengembangkan pola pikir dan tidakan positif. Sedangkan mentalitas serba penuh ketakutan, memuji berlebihan atau mencerca tanpa alasan, provokasi, memutlakkan pendapat diri sendiri maupun golongan, hal-hal ini menjadi resistensi bagi masa depan bangsa dan harus mulai dikikis. Inilah perbedaan sikap yang harus kita cermati.

Ada satu kutipan dari Badiuzzaman Said Nursi, seorang ulama pejuang Turki, yang akan saya jadikan penutup di sini: Seseorang yang melihat kebaikan dalam berbagai hal berarti memiliki pikiran yang baik. Seseorang yang memiliki pikiran yang baik akan mendapatkan kenikmatan dari hidup.

You only live once. Jadi, mau hidup tentram, kan? Kalau iya, maka mari dewasa berbangsa.

 

Terinspirasi dari:
Pragmatisme Poltik Kaum Elit: Haedar Nashir.
Nasionalisme dan Ketahanan Budaya di Indonesia: Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan LIPI Press.
Agama Punya Seribu Nyawa: Komaruddin Hidayat.
Obrolan dengan Ayahanda Faizal Riza

 ____________________________________________

Penulis adalah Inasshabihah,’ alumnus Universitas Multimedia Nusantara angkatan 2010. Mantan Redaktur Pelaksana Ultimagz, pers kampus Universitas Multimedia Nusantara. Perempuan berhijab ini juga pernah bekerja sebagai editor, social media officer, contributor, dan relawan jurnalis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *