Siang itu, lima orang teman-teman Berbeda Itu Biasa (BIB) mengikuti acara tur singkat yang diselenggarakan oleh Jakarta Good Guide dan 100 Persen Manusia pada Sabtu, 25 Maret 2017 bertajuk ‘A Walk To Understand.’

Seperti yang dilansir dalam Rappler.com, Rain Cuaca, Director 100 Persen Manusia mengatakan ada sekitar 48 peserta yang mengikuti acara A Walk To Understand.

A Walk to Understand adalah kegiatan jalan-jalan, jalan kaki, yang mengunjungi dan melewati rumah-rumah peribadatan. Berbagai macam agama dan kepercayaan yang ada di daerah Pasar Baru,” jelasnya.

Senada dengan Rain, Founder Jakarta Good Guide, Farid Mardhiyanto mengatakan melalui acara ini pihaknya ingin agar para peserta untuk mengalami dan mengetahui sendiri ada bermacam tempat ibadah buat berbagai keyakinan di Indonesia.

“Sampai saat ini mereka hidup berdampingan dengan harmonis. Toleransi, tidak ada kerusuhan,” imbuhnya.

Finka Hendratantular (25) salah seorang peserta menceritakan kepada BIB para peserta dalam acara tersebut dibagi dalam beberapa kelompok lalu berjalan kaki bersama. Titik pertemuan di Stasiun Djuanda, lalu menyeberang memasuki Masjid Istiqlal. Finka mengungkapkan perasaannya yang sangat senang saat memasuki Masjid Istiqlal.

“Ternyata kawasan Masjid pun ramah, terbuka, dan super terpelihara. Terlihat banyak orang yang datang dan pergi dan sangat kondusif. Tidak ada yang curiga dan berusaha bertanya ini itu,” ujarnya.

Setelah mengelilingi Masjid Istiqlal, peserta melanjutkan perjalanan ke Gereja Katolik Katedral Jakarta. Finka memperhatikan beberapa peserta muslim yang berhijab juga sangat excited mengunjungi Gereja Katedral.

“Muka-mukanya penasaran. Duduk rapi mendengarkan kisah sejarah gereja dan lain-lain, adem dipandang. Saat diajak mengobrol pun mereka sangat ok,” kata Finka.

Selain Finka, Guido Cesar Pradistyan (23) juga menceritakan keterkagumannya memasuki Masjid Istiqlal. Menurutnya, ada cerita yang sangat menarik dari bangunan megah Istiqlal.

“Sangat terkesan pada sejarah masjid ini, apalagi ketika tahu kalau arsitek dari masjid ini adalah seorang Kristiani. Menurut saya ini menjadi bukti bahwa orang zaman dahulu terlebih Presiden saat itu tidak membeda-bedakan latar belakang apa yang dimiliki,” ungkapnya.

Selanjutnya para peserta ke arah Pasar Baroe menyusuri Sekolah Santa Ursula, dan Gedung Pos Indonesia. Dia bercerita, sesampainya di depan Gedung Pos, peserta mendapatkan penjelasan dari tour guide bahwa Gedung Farma konon bekas tempat ibadah freemason di Indonesia.

Pada salah satu gang, peserta pun mengunjungi Vihara Sin Tek Bio tempat keturunan Tionghoa penganut Budi Dharma beribadah. Tour guide juga menggiring peserta menuju Sri Sathya Sai Baba Indonesia, Harae Khrisna Temple, Sikh Temple, dan Rumah Ibadah Saksi-Saksi Yehuwa. Lokasi terakhir yang dikunjungi adalah Gereja Kristen Protestan PNIL atau yang lebih akrab disebut Gereja Ayam.

Finka yang adalah alumnus SMA Sancta Ursula berharap acara ini bisa menjadi salah satu ajang masyarakat memahami keyakinan pihak lain. Dia optimistis ajang ini bisa menggiring orang Indonesia semakin dewasa untuk memisahkan agama saat melihat problem di masyarakat.

Sementara itu Guido yang alumnus Universitas Multimedia Nusantara jurusan Jurnalistik ini mengatakan semakin terinspirasi agar menghasilkan karya-karya tulisan ataupun foto tentang keberagaman Indonesia.

“Saya yakin, banyak orang saat ini mudah terpengaruh oleh hal-hal yang disebar melalui media sosial. Jadi mengapa tidak kita menyebarkan sesuatu hal yang baik disitu,” tuturnya.

GFK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *