Saya sebagai penulis dalam tulisan ini diwajibkan untuk bercerita sedikit mengenai mengapa saya bisa ada di Sumba Timur. Singkat saja saya adalah orang kota Jakarta yang tidak mempunyai kampung. Masa kecil saya diwarnai dengan pergi ke warnet ketika teman-teman saya yang lain mudik. Inilah alasan mengapa saya norak. Kemudian, ketika lulus kuliah saya ingin menjadi seseorang yang bermanfaat bagi masyarakat. Berhubung saya tidak mengenal tetangga saya, maka saya harus mencari masyarakat yang mana dengan kehadiran saya bisa memberikan manfaat bagi mereka. Nasib pun membawa saya ke Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur dalam program melistriki desa yang belum mempunyai akses terhadap listrik.

Sumba Timur adalah bukit-bukit yang aduhai dengan cahaya sinar matahari sore. Saya membayangkan saya versi lebih cantik naik kuda di bukit bersama kuda-kuda liar. Betapa menakjubkannya! Pengalaman yang saya yakin tidak mudah dialami beberapa tahun kedepan karena kuda sudah dikandangkan. Namun mimpi itu tidak pernah terjadi. Kenyataannya, keinginan saya untuk membeli kuda saja tidak bisa terpenuhi karena kuda yang banyak dijual masih liar. Ironi bahwa saya mensyukuri dapat melihat kuda-kuda liar merumput di bukit, tetapi saya tidak bisa memiliki seekor kuda karena kuda tersebut liar. Pernah suatu ketika di jalan setapak kecil saya berpapasan dengan seseorang yang sedang menarik kudanya. Dengan sedikit dialog Bahasa Sumba, orang lokal yang bersama saya menyingkir dari jalan sempit tersebut, merapat ke dinding tebing dan menyuruh saya tidak bergerak. Alasannya: kuda liar. Tendangannya maut. Baiklah saya urungkan bermain-main dengan kuda liar.

Perhatian saya beralih ke babi. Pemandangan yang langka melihat babi berkeliaran. Seekor babi gempal lewat dengan santai, menyapa tamu dengan teguran “ngok.. ngok..” sambil mengendus tanah. Babi hitam, babi putih, babi coklat bermain bersama diatas kubur batu nenek moyang. Suasana yang tidak pernah saya temui di pulau Jawa. Saya sangat mengagumi babi. Tentu saja karena rasanya enak. Melihat babi-babi kecil membuat saya bahagia karena saya selalu teringat babi hong (babi kecap). Dalam keadaan senyam-senyum sendiri, menikmati pemandangan babi, rekan kerja saya berkata, “Nanti kalau sudah lama sini malah gak pengen makan babi loh.Saya juga juga berpikiran hal yang sama. Bagamana mungkin saya mengonsumsi babi-babi lucu ini. “Soalnya babi makan tainya sendiri, lanjut rekan kerja saya. Saya tidak menanggapi lebih lanjut. Lagipula, saya tidak tahu kebenaran babi mengonsumsi tainya sendiri atau tidak. Yang saya tahu, kura-kura Brazil piaraan saya melahap tainya sendiri utuh-utuh, dan saya tidak jijik karena hal itu.

Beberapa minggu, lanjut beberapa bulan, saya tinggal di desa Kamanggih (dan desa disekitarnya), kecamatan Kahaungu Eti, Kabupaten Sumba Timur. Pemandangan seperti kuda, sapi, babi, anjing, ayam sudah menjadi biasa. Setiap pagi dan sore selalu ada sekawanan sapi lewat didepan rumah saya digiring oleh penggembala yang adalah tetangga saya sendiri juga. Tidak jarang ada berita mengenai seekor sapi masuk ke kebun dan manghabisi sayur warga. Saya selalu tertawa mendengar hal itu. Itu terjadi seringkali karena keteledoran manusia yang lupa menutup pagar, dan jelas bukan sapi yang salah. Namun menjadi lucu saja mendengar keluhan mereka yang kebunnya habis dibabat sapi (atau babi). Jika saya di posisi mereka, hal pertama yang akan saya lakukan adalah tepok jidat karena hanya itulah yang bisa dilakukan.

Pada masa-masa awal saya tinggal di Sumba Timur ini, saya masih ketakutan dengan penyakit endemik daerah timur Indonesia: Malaria. Jurus menghalau nyamuk pun saya keluarkan. Saya juga sering mengingatkan rekan saya, untuk menjaga diri dari gigitan nyamuk. Dia memilih meminum pil Kina, sedangkan saya memilih untuk bergerak-gerak menghindari nyamuk hinggap di kulit saya. Rekan saya itu mewajarkan bahaya Malaria di desa tempat kami tinggal. Katanya, “Ya iyalah banyak babi.” Sekali lagi saya terdiam. Saya tidak tahu apakah babi memang ikut bersalah dalam hal menyebarkan Malaria atau tidak. Saya merasa prihatin kepada para babi. Sekali lagi babi lewat dengan santai dihadapan saya dengan sapaan, “ngok!” Saya pun menyadari keprihatinan saya adalah sia-sia. Babi bukan hewan perasa, ia terlampau cuek. Mungkin bagus jika kita (manusia) bisa belajar dari sikap babi ini. Jangan terlalu pedulikan kata-kata jahat dari orang lain, yang penting saya tidak berbuat salah dan tetap bahagia.

Kegemaran saya terhadap babi semakin bertambah. Di suatu pagi yang indah, saya berkunjung ke rumah Apu (nenek) bersama rekan-rekan saya dalam rangka meminta kelapa. Rekan saya sibuk memanjat pohon kelapa yang tingginya kurang lebih 15m, sedangkan saya sibuk memerhatikan babinya Apu. Babi tersebut diikat dengan tali di tiang rumah dapur Apu. Jarak antar tiang sekitar 3 meter. Di tiang kiri ada mama babi dan di tiang kanan ada anak babi. Mama babi sedang tiduran diantara tiang dan anak babi menyandarkan kepalanya ke bahu mama babi. Akan tetapi kaki belakang anak babi terangkat karena tali yang mengikatnya tidak cukup panjang untuk anak babi bisa tidur dekat mama babi. Anak babi hanya bisa menyandarkan kepalanya, dengan posisi yang terlihat tidak nyaman karena kaki terangkat. Betapa saya jadi merindukan tidur-tiduran dengan induk saya. Saya bersyukur dulu saya bisa tidur-tiduran dengan induk saya tanpa ada tali yang mengikat kaki saya.

Ada satu trik untuk membuat babi senang. Garuk pangkal paha kaki belakangnya. Beberapa garukan maka babi akan luluh dan jatuh ke samping seperti pion jatuh. Babi tidak menekuk kakinya, langsung saja jatuh kesamping sebagai permintaan agar digaruk lebih lanjut. Bukan posisi tidur biasa dengan menekuk kaki, tetapi tiduran dengan satu sisi badan saja di tanah. Setelah puas digaruk, babi akan bangkit kembali dan beraktivitas seperti biasa.

Kuda berlarian di bukit-bukit padang savannah. Ah sudah biasa. Semakin diperhatikan, muka kuda sangatlah aneh sama seperti bintang hollywood Sarah Jessica Parker.Pemandangan kerbau mandi di kolam permandian umum sore-sore adalah pemandangan yang sangat seksi. Ketika sore matahari sudah hampir tenggelam, sekawanan kerbau sampai di kolam permandian umum. Letaknya di pinggir jalan, jadi setiap manusia dan binatang lain lewat mereka bisa mengintip kerbau mandi. Kolam permandian umum itu sederhana, terbentuk alami dari tanah dan airnya bersumber dari hujan. Persis seperti kubangan. Kerbau yang dituakan akan masuk ke kolam terlebih dahulu. Berendam dan menikmati air lumpur. Kabarnya kumpur sangat bagus untuk lulur, maka saya rasa kerbau adalah hewan yang rutin melakukan perawatan kulit. Nilai plus lain adalah muka kerbau sangat menggemaskan, dan badannya montok seksi. Berbeda ketika saya berpapasan dengan kuda liar di jalan setapak kecil, berpapasan dengan kerbau di jalan setapak kecil menyenangkan. Waktu itu saya berpapasan dengan sekawanan kerbau yang akan pulang ke kandang diantar oleh tiga penggembala cilik. Penggembala cilik terkikik senang melihat saya kebingungan mencari jalan. Tidak lama kerbau keluar dari jalan dan membiarkan saya lewat. Sungguh sopan sekawanan kerbau ini.

Di Humba1, Manusia hidup dekat dengan alam dan bergantung pada alam. Kehidupan terasa benar dan sewajarnya. Tanah tidak hanya milik manusia, tapi milik semua mahkluk hidup. Saya tidak melihat adanya eksploitasi terhadap satu spesies tertentu.

Ketika hari minggu saya pergi ke gereja, Bapak pendeta mengingatkan janji keselamatan Tuhan kepada umatnya. Bagi saya, ucapan itu terdengar kosong. Saya cukup bergaul dengan masyarakat, dan kuda, babi, kerbau, nyamuk lalu saya merasa saya hidup.

__________________________________________

1. Humba, cara baca Sumba dengan bahasa Sumba.

 

Penulis adalah Karin Sentosa, alumnus Institut Kesenian Jakarta. Kini tengah jatuh cinta dengan Sumba, Nusa Tenggara Timur.

2 Replies to “Aku dan Tanah Marapu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *