Pada 25 Maret 2017 dan 29 April 2017 lalu, Jakarta Good Guide dan 100 Persen Manusia mengadakan sebuah gerakan jalan kaki bersama untuk menumbuhkan nilai pluralisme dan kebhinekaan. Gerakan jalan bersama itu bernama A Walk To Understand.

Nah, tim Berbeda Itu Biasa juga berkesempatan untuk hadir dan beinteraksi dengan para peserta A Walk To Understand. Ternyata, di kawasan sekecil Pasar Baru, Jakarta Pusat saja ada beragam kepercayaan yang hidup berdampingan dengan damai. Berikut beberapa tempat ibadah dan kepercayaan di Jakarta yang perlu kamu ketahui sejarahnya.

  1. Masjid Istiqlal

Masjid ini adalah masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid ini berada pada bekas lokasi Taman Wilhelmina. Adapun cerita unik dibalik Masjid Istiqlal adalah, arsitektur masjid ini adalah seorang non muslim bernama Fredrich Silaban. Dia adalah seorang penganut agama Kristen Protestan

Pasalnya pada 1955, Presiden Soekarno mengadakan kompetisi desain masjid. Tanpa melihat latar belakang agama dan suku, kompetisi itu dimenangkan oleh Fredrich. Sempat terbesit perasaan tidak percaya diri dalam diri Fredrich karena harus mewujudkan desainnya menjadi bangunan megah sesuai harapan Soekarno.

Untuk mengatasi kekhawatiran itu, Fredrich pun membekali diri dengan belajar sejumlah tafsiran-tafsiran Islam sehingga masjid yang akan dibangun itu tak lepas dari falsafah muslim. Pembangunan masjid itupun dimulai pada 1961, namun baru berakhir pada 1978 tepatnya pada era kepemimpinan Soeharto. Alasannya jelas, sepanjang 1961-1966 terjadi krisis ekonomi dan revolusi maka terjadi penundaan yang cukup lama.

Fredrich Silaban memberikan 12 pilar dalam Masjid Istiqlal sebagai lambang tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dia membangun lima lantai dalam masjid itu sebagai lambang waktu sholat, lima waktu. Ada juga yang mengatakan lima lantai itu menandakan lima rukum Islam yaitu; Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat, dan Haji.

Jika anda memasuki Masjid Istiqlal, anda akan melihat kubah yang berdiameter 45 meter sebagai lambang tahun kemerdekaan Republik Indonesia 1945. Sekeliling kubah adalah ayat kursi. Masjid Istiqlal sendiri memiliki arti Merdeka.

 

  1. Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga atau Gereja Katedral Jakarta

Gereja Katedral Jakarta yang terletak diseberang Istiqlal ini adalah salah satu rumah ibadah tertua di Jakarta. Gereja ini mulai dibangun pada 1810 dan dirancang oleh Pastor Anthony Djikmans SJ. Sementara peletakan batu pertama dilakukan oleh Pro-vikaris, Carolus Wenneker. Sayangnya pada 1826 bangunan ini hangus terbakar, bersama 180 rumah penduduk di sekitarnya. Sempat juga pada 1890 gereja ini sempat roboh.

Maka pada 1901, pekerjaan gereja ini dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans sakit dan harus kembali ke Belanda. Gereja ini kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, S.J., Vikaris Apostolik Jakarta.

Gereja Katolik di Indonesia memang mengalami masa pergumulan yang panjang karena sempat dilarang keras oleh pihak Belanda yang mayoritas beragama Kristen Protestan.

Di dalam gereja juga terdapat Museum Katedral yang diprakarsai oleh Pastor Rudolf Kurris dan diresmikan pada tanggal 28 April 1991 oleh Mgr Julius Darmaatmadja. Di museum ini menyimpan beberapa koleksi. Diantaranya ada lukisan dari gedebong pisang oleh Kusni Kasdut yang dibuatnya semasa di penjara.

Ada pula nmonstrans yang dibuat di tahun 1700an di Limburg, Jerman. Monstrans ini digunakan untuk menghormati tubuh dan darah Kristus di perayaan ekaristi. Museum ini juga menyimpan kenang-kenangan berupa tongkat Paus Paulus II ketika beliau mengunjungi Yogyakarta pada tahun 1989.

Arsitektur gereja dibuat dengan gaya neo-gothik. Selain itu ada tiga Menara di Gereja Katedral yakni; Menara Benteng Daud, Menara Gading dan Menara Angelus Dei. Menara ini dibuat dari besi.

Pasalnya, di Menara Gading terdapat jam yang pada mesinnya tertulis Van Arcken & Co. Adapula lonceng di Menara Gading yang kecil dan disumbangkan oleh Tuan Chasse. Sementara pada menara Benteng Daud yang dihadiahkan oleh Clemens George Marie van Arcken. Lonceng yang terbesar bernama Wilhelmus yang merupakan hadiah dari Tuan J.H. de Wit.

Nah, pada pintu masuk utama terdapat patung Maria dan ada tulisan ‘Beatam Me Dicentes Omnes’ yang berarti “Semua keturunan menyebut aku bahagia”. Adapula Rozeta yang merupakan jendela bercorak Rosa Mystica sebagai lambang dari Bunda Maria. Benda ini terletak di atas gerbang utama.

  1. Hare Khrisna Temple

Kepercayaan ini melakukan bakti yoga secara rutin dan menghindari diri dari hal-hal duniawi. Menurut guide, Farid Mardhiyanto, kuil ini berada di bawah naungan Masyarakat Kesadaran Krishna Internasional yang didirikan pada tahun 1966 oleh Srila AC Bhaktivendata Swami Prabhupada di Amerika Serikat. Kepercayaan ini Indonesia telah berkembang di Indoensia sejak tahun 1980. Pada 2002 terbentuk organisasi dengan nama Sampradya Kesadaran Krishna Indonesia (SAKKHI) di bawah naungan Parisada Hindu Dhrama Indonesia.

Pengikut kepercayaan ini meyakini bahwa Sri Krishna adalah personalitas tertinggi Tuhan di dunia. Penganut kepercayaan ini juga meyakini bahwa kitab Veda adalah pengetahuan atau pelengkap alam semesta untuk seluruh manusia.  Ada beberapa cara meditasi di kuil ini misalnya dengan mengucapkan nama-nama suci Tuhan (Maha Mantra Hare Krishna). Meditasi dilakukan dengan cara menyanyi bersama-sama (kirtana) dengan iringan alat musik.

 

  1. Sai Baba Study Group (SSG)

Masih dalam jalan yang sama dengan Hare Khrisna, rombongan tur akan mencapai Sai Baba Study Group (SSG). Bangunan ini memang sepi dibandingkan bangunan lain di sekitaran Pasar Baru. SSG dikelola oleh sebuah lembaga bernama Yayasan Sri Sathya Sai Baba Indonesia.

Sai Baba Studi Group Indonesia mengklaim dirinya bukan suatu organisasi yang mempunyai misi pemindahan agama, bukan organisasi yang mencampur-adukkan agama, bukan agama baru atau suatu aliran kepercayaan. Oleh sebab itu para penganut agama apapun bisa terlibat dalam aktivitas spiritual Sai Baba Group. Ajaran Sai Baba adalah tentang menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air, menjaga keharmonisan antar sesama dan menjadi warga negara yang baik. Di tempat ini dilakukan meditasi sebagai saran berkontemplasi dan juga sedikit ceramah setelahnya yang dipimpin oleh seorang ‘Brother’.

Spiritualitas ini meyakini Sadguru Bhagawan Sri Sathya Sai Baba lahir pada tanggal 23 November 1926 di Puttaparti, India yang lahir tanpa ayah. Konon pada suatau malam, ada cahaya biru yang yang masuk kedalam tubuh ibunya dan seketika itu hamil.

Sai Baba telah wafat di usianya ke 96 tahun pada tanggal 24 April 2011. Namun ajaran-ajarannya yang bersifat universal tetap dilaksanakan pengikutnya. Waktu meditasi yang diselenggarakan tiap selasa dan kamis ini boleh diikuti oleh siapapun dari berbagai agama.

  1. Sikh Temple

Indonesia bukan hanya didominasi oleh manusia turunan Arab ataupun Tionghoa. Adapula manusia Indonesia peranakan Indonesia. Nah, masyarakat India sendiri memiliki ragam kepercayaan salah satunya Sikh. Di kawasan Pasar Baru juga ada tempat beribadah penganut Sikh sejak tahun 1950 yaitu Sikh Temple.

Sikh adalah salah satu lima agama besar di dunia dan berkembang di India pada abad ke-16 dan 17. Namun agama Sikh sedikit dipengaruhi perubahan dalam agama Hindu India dan Islam di Pakistan pada waktu itu.

Agama Sikh bermula di Punjab, India, dan digagas oleh Guru Nanak pada 1469-1539. Penganut Sikh hanya percaya kepada satu tuhan yang dipanggil Waheguru.  Setelah Guru Nanak meninggal, dia digantikan oleh penerusnya sebanyak sepuluh guru.

Kata Sikh sendiri berasal dari kata sisya dalam bahasa sanskrit yang berarti “murid” atau “pelajar”, atau siksa yang berarti “arahan”. Kepercayaan utama yang diajarkan agama Sikh adalah percaya kepada satu Tuhan yang pantheistik yang tidak mengandungi antropomofisme (pemberian sifat manusia kepada dewa-dewa).

Dasar agama Sikhis adalah ajaran sepuluh guru Sikh yang tertulis dalam kitab suci yang bernama Guru Granth Sahib. Tak hanya itu, umat Sikh juga mengikuti ajaran kebaikan dari cendekiawan Muslim dan Hindu.

  1. Saksi-Saksi Yehuwa

Agama baru ini adalah denominasi dari agama Kristen. Agama yang bernama Saksi-Saksi Yehuwa ini mengambil kata dalam Alkitab yaitu Allah menjadi Yehuwa. Agama ini memiliki aktivitas pada Senin-Jumat untuk dan Sabtu-Minggu pengurus Balai Saksi-Saksi Yehuwa ini tutup.

Agama ini diorganisasi secara internasional, lebih dikenal di dunia Barat sebagai Jehovah’s Witnesses atau Jehovas Zeugen, yang mencoba mewujudkan pemulihan dari gerakan Kekristenan abad pertama yang dilakukan oleh para pengikut Yesus Kristus. Pusat agama ini berada di Amerika Serikat.

Sebenarnya, pengajaran Saksi-Saksi Yehuwa di Indonesia telah resmi dilarang melalui Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor 129 Tahun 1976. Melalui SK itu, Jaksa Agung telah melarang kegiatan Saksi Yehuwa atau Siswa Alkitab di seluruh wilayah Indonesia. Pasalnya, Saksi Yehuwa memuat hal-hal yang bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia misalnya menolak salut bendera dan menolak ikut berpolitik.

 

  1. Vihara Dharma Jaya – Klenteng Sin Tek Bio

Vihara ini berdiri sejak 1698 di Batavia. Ini adalah rumah ibadah tertua di Jakarta. Awalnya klenteng ini berada di area pertanian bagi keturunan Tionghoa, tepatnya sekitar lima kilometer dari luar tembok kota Batavia.

Daerah Pasar Baru mulai dihuni orang pada pertengahan abada ke 17, menyusul dibukanya persawahan dan perkebunan kopi di sekitar Lapangan Banteng. Semakin berkembangnya manusia pada awal abad 18, maka semakin banyak orang kaya yang mendirikan rumah-rumah peristirahatan sekitar Waterloopin alias Lapangan Banteng. Sin Tek Bio berdiri bersamaan dengan banyaknya petani-petani Tionghoa yang tinggal di sekitar Kebun Chastelein. Ada kemungkinan klenteng ini dibangun oleh petani-petani Tionghoa yang tinggal di tepi kali Ciliwung sekitar Pasar Baru.

Semula Sin Tek Bio menghadap ke arah Selatan atau terletak di jalan Belakang Kongsi No. 16, kini dipakai Mie Aboen. Kemudian pada tahun 1812 (tahun monyet) dipindah ke belakang bangunan lama dan menghadap ke utara yaitu menghadap ke Jalan Samanhudi. Dulu disebut gang Tepekong, sekarang dikenal sebagai jalan Pasar Baru Dalam Pasar No. 146, Jakarta Pusat.

Lokasi klenteng yang berada di pusat  agar bisa menjadi penetralisir hawa negatef dari kegiatan di pasar. Adapun aura di pasar adalah energi yang negatif, energi panas keduniawian, juga disertai beberapa energi kecurangan dan penipuan dalam perdagangan.

 

  1. Gereja Protestan PNIEL atau Gereja Ayam

Gereja ini berusia 104 tahun. Salah satu cerita menarik dari gereja ini dengan Gereja Katolik Katedral Jakarta, keduanya dibangun oleh arsitektur yang sama yaitu oleh NA Hulswit dari biro arsitektur Cuypers-Hulswit. Gereja ayam terbilang cukup baik dalam menjaga perabotannya, misalnya bangku di gereja adalah bangku yang sama sejak pertama kali didatangkan. Ada pula Alkitab dari Belanda yang berusia 200 tahun serta meja pembaptisan untuk umat yang usianya 350 tahun, nyaris seusia dengan lamanya Belanda menjajah Indonesia.

Gereja ini memakai lambang utama pada puncak atap dengan lambang mata angin berbentuk ayam. Simbol ayam digunakan untuk mengingatkan umat pada peristiwa yang tercatat pada Kitab Suci yakni ketika Petrus, salah seorang murid Yesus menyakalnya tiga kali sebelum ayam jantan berkokok.

Pada mulanya gereja ini hanya berbentuk kapel yang dibangun pada 1856. Tujuan pendirian kapel untuk memenuhi kebutuhan ibadah penghuni panti jompo di lingkungan gereja.

Namun pada tahun 1913 gereja ini dipugar, misalnya pada bagian atas dibuat datar, tidak lagi berkubah. Hal ini guna mencegah adanya kerusakan pada kubah yang sewaktu-waktu bisa terjadi dan membahayakan umat. Gereja ini secara resmi aktif pada tahun 1915 dan kini terletak di Jalan Samanhudi No. 12 Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Nah, itu dia delapan lokasi perjalanan spiritual di Pasar Baru. Keberagaman ini tak lantas memecah belah, sebaliknya malah saling hidup dengan damai sekalipun ada salah satu kepercayaan yang bahkan belum diakui oleh negara. Hal ini menandakan masyarakat kita adalah manusia yang toleran. Kejadian-kejadian intoleran yang kerap muncul disebabkan karena kita kurang mau menyelami dan memahami kepercayaan orang lain lebih dalam.

Jangan lupakan sejarah keberagaman Indonesia ya! Tetaplah damai dalam kebhinekaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *