Hai BIB’s! Kali ini tim Berbeda Itu Biasa ingin mengajak anda terlibat melestarikan kebhinekaan Indonesia. Caranya sederhana saja, mari kita telusuri kepulauan dari Sabang sampai Merauke, dengan beragam suku, ras, dan agama, tentu ada banyak tradisi yang berlaku di Indonesia. Berikut delapan tradisi yang berhasil diarsipkan oleh tim redaksi Berbeda Itu Biasa.

 

  1. Ritual Tiwah – Kalimantan Tengah

Di Kalimantan Tengah ada tradisi khusus yang dilakukan untuk orang yang sudah lama meninggal. Ritual ini dilakukan oleh suku Dayak dengan mengantarkan tulang belulang orang yang sudah meninggal ke tempat peristirahatan terakhirnya yaitu Sandung.

Caranya, orang yang meninggal dikuburkan sementara waktu sampai akhirnya kubur tersebut kembali dibuka. Mayat pun dibakar hingga yang benar-benar tersisa hanya tulang-belulang saja.

Acara lain pun diadakan pada Ritual Tiwah ini misalnya menari dan menyanyikan lagu khas suku Dayak, sembelih hewan kurban hingga memasang lagu. Tidak jarang lagu dangdut didengar guna menghilangkan rasa kantuk.

Adapun harapan dari ritual ini, orang yang ditiwahkan dimudahkan jalannya, lurus mencapai Lewu Tatau atau surga. Ritual Tiwah yang dianggap sakral ini memang belum tentu dilakukan semua keluarga Dayak dengan faktor mahanya biaya pengadaan ritual.   Di sisi lain ritual unik ini juga bertujuan untuk melepaskan kesialan bagi keluarga yang sudah ditinggalkan.

 

  1. Potong Jari – Papua

Tradisi potong jari atau tradisi Iki Palek oleh suku Dani di Papua ini memang terbilang ekstrim. Adapun tradisi ini dilakukan untuk menunjukkan kedukaan karena ditinggalkan oleh anggota keluarga. Maklum, bagi masyarakat suku Dani, keluarga adalah prioritas utama dalam hidup. Bagi suku Dani, jari memiliki arti yang mendalam yakni bentuk kerukunan, kebersamaan, dan kekuatan individu dalam sebuah keluarga.

Dalam praktiknya Iki Palek hanya dilakukan oleh perempuan, umumnya adalah para ibu atau perempuan tertua. Jadi, ketika ada kerabat dekat, mungkin suami, anak, atau saudara kandung yang meninggal, maka jari para perempuan ini akan dipotong.

  1. Kebo-keboan, Jawa Timur

Ritual Kebo-keboan ini biasa diadalan setahun sekali setiap 10 Suro atau 10 Muharram pada hari Minggu di desa Alasmalang, Singojuruh, Banyuwangi, Jawa Timur. Ritual ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-18, dengan tujuan meminta hujan turun ditengah musim kemarau.

Caranya, dengan mendandani beberapa laki-laki menjadi kerbau dan berkorban untuk membajak sawah. Ritual akan diiringi dengan musik tradisional, kebo-keboan mulai membajak sawah berlaga seperti kerbau asli, dan bisa menyeruduk para penonton. Tak jarang kebo-keboan ini kesurupan dan menjadi liar. Setelah membajak sawah kebo-keboan ini diarak mengelilingi desa disertai karnaval kesenian rakyat.

Sementara itu para perempuan bertugas mempersiapkan makanan dan sesajennya berupa tumpeng, peras, air kendi, kinang, ingkung ayam, aneka jenang, bungkil, cangkul, pisang, beras, pitung tawar, kepala, dan bibit tanaman padi. Hal ini dipercaya untuk menyelamatkan beberapa ruas jalan.

  1. Pemakaman Suku Minahasa, Sulawesi Utara

Suku Minahasa memakamkan orang yang telah meninggal dengan diletakkan pada posisi menghadap ke utara dan didudukkan dengan tumit kaki menempel pada pantat dan kepala mencium lutut. Ada tujuan tertentu jenazah dihadapkan ke utara guna menandakan nenek moyang Suku Minahasa yang berasal dari utara.

Mayat lalu dikuburkan dalam sebuah bangunan batu bernama Waruga yang berasal dari dua kata yaitu waru dan ruga. Dalam bahasa Minahasa, waru artinya rumah, sementara ruga berarti badan. Dengan demikian Waruga adalah sebuah rumah tempat badan yang akan kembali ke surga.

Umumnya Waruga berbentuk kotak batu dengan genting atap berbentuk segitiga. Adapula bentuk lain Waruga yaitu bulat atau segi delapan. Bangunan makam ini dibuat dari batu utuh yang besar. Batu-batu gunung yang berat dan kokoh akan bisa menghasilkan sebuah Waruga yang memiliki berat mencapai 100 kg hingga 400 kg. Tradisi pemakaman seperti ini menurut kepercayaan melambangkan keadaan suci dan membawa kebaikan.

 

  1. Bakar Tongkang, Riau

Etnis Tionghoa yang menetap di Bagansiapiapi, Riau selalu mengadakan ritual bakar tongkang yang dilaksanakan setiap bulan Juli. Menurut kepercayaan ritual ini telah dilakukan oleh leluhur mereka dengan tujuan bertekad untuk tidak kembali ke tempat asal dan menetap di Bagansiapiapi.

Mereka percaya bahwa dewa telah membawa para leluhur selamat dari perang saudara di Tiongkok dan berlindung di Bagansiapiapi. Inti terpenting dari peringatan Bakar Tongkang adalah mensyukuri kesuksesan para leluhur dalam perantauan. Adapun istilah Bakar Tongkang dalam istilah Tionghoa adalah ‘go ge cap lak’ jatuh pada 15-16 bulan kelima penanggalam Imlek.

Etnis Tionghoa percaya, jika acaranya tidak diikuti maka hidup seperti kekurangan tanpa arah serta tujuan, selain itu kesuskesan yang diraih tidak akan ada artinya. Makna lain dari tradisi ini adalah upacara peringatan dewa laut Ki Ong Ya dan Tai Su Ong yang digambarkan sebagai dewa dua sisi.

 

  1. Adu Betis, Sulawesi Selatan

Di Dusun Paroto, Desa Sanaeko, Barebbo, Bone, Sulawesi Selatan ada sebuah ritual mensyukuri panen yaitu dengan adu betis yang dilakukan para pria. Tradisi adu betis atau tradisi Mappalanca atau disingkat Mallanca ini biasanya digelar pada bulan Agustus setelah panen. Jika para lelaki mempersiapkan diri adu betis, para perempuan akan membawa makanan untuk disantap para penonton Mallanca.

Beberapa peserta tradisi Mappalanca mengaku telah menjampi-jampi betis mereka sebelum ikut tradisi ini. Tujuannya agar betis tetap kuat dan tidak mengalami cidera. Permainan Mappalanca diikuti dua tim yang masing-masing terdiri dari dua orang. Dua orang menjadi pihak penendang, sedangkan dua orang lainnya memasang kuda-kuda terkuat agar tak limbung saat betisnya menerima hantaman kaki lawan.

Lokasi untuk tradisi Mappalanca biasanya diadakan pada arena pemakaman tua dan keramat. Arena makam biasanya jauh dari pemukiman penduduk dan dikelilingi oleh pepohonan yang rindang. Menurut kepercayaan masyarakat tempat keramat tersebut dalah makam leluhur desa yang sekaligus paman dari Raja Gowa Sultan Alaudin.

  1. Gigi Runcing, Mentawai

Tradisi satu ini hanya berlaku bagi perempuan. Pasalnya, suku Mentawai menilai perempuan yang cantik harus memenuhi tiga kriteria. Pertama, telinganya yang panjang. Kedua, tubuhnya dihiasi titi atau tato. Ketiga, giginya yang runcing. Tradisi untuk meruncingkan gigi ini diyakini akan menambah kecantikan sang wanita.

Jika seorang perempuan menjadi istri dari orang terkuat di kampung, atau istri kepala desa maka perempuan tersebut diwajibkan untuk melakukan tradisi ini. Selain untuk mempercantik diri, tradisi meruncingkan gigi dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan antara tubuh dan jiwa.

  1. Tabuik, Sumatera Barat

Tradisi Tabuik ini dilakukan oleh masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat. Tabuik adalah bahasa Arab yang memiliki arti kata tabut atau peti kayu yang mengarak. Upacara Tabuik ini digelar setiap hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram untuk memperingati Asyura, gugurnya Imam Husain seorang cucu dari Nabi Muhammad SAW. Ritual ini telah dilakukan sejak 1826 – 1828, namun masih bernuansa adat India, dan pada tahun 1910 terjadi kesepakatan untuk mencampur adat Tabuik dengan adat istiadat Minangkabau.

Berdasarkan legenda, terjadi kemunculan mahkluk berwujud kuda seperti vegasus namun kepalanya berbentuk kepala manusia. Festival ini dianggap membawa berkah, dibuatnya tabuik raksasa dimana bagian-bagian dari patung tersebut memiliki arti.

Bagian bawah tabuik dianggap perwujudan urak, burak dan peti melambangkan burak yang menjemput jenazah Hussein bin Ali. Smeentara tabuhan gendang pun disimbolikan untuk mengenang peristiwa yang menyebabkan Hussein bin Ali tewas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *