“Tadi saya sempat melihat mendungnya langit Jakarta. Namun begitu saya masuk ke ruangan ini, justru saya melihat langit biru cerah disertai pelangi” (Yudi Latif, 2017)

Temu Kebangsaan Orang Muda digelar untuk kedua kalinya dari 28 April 2017 sampai 30 April 2017. Di gedung Kementerian Agama Republik Indonesia, lebih dari 100 pemuda peserta Temu Kebangsaan ini disambut oleh Lukman Hakim Syaifudin. Beliau bertutur bahwasanya segala perbedaan yang ada di Indonesia merupakan anugerah dari Yang Mahakuasa untuk saling melengkapi satu sama lain. Setelah menyampaikan pidato pembukaannya, bersama dengan perwakilan tokoh agama lainnya, Menteri Agama RI membunyikan angklung sebagai tanda dibukanya acara Temu Kebangsaan 2017.

Acara pun dilanjutkan dengan diskusi bersama Bapak Dr. Achmad Basarah dan Bapak Yudi Latif. Diskusi dipimpin oleh Abdiel selaku moderator. Bapak Dr. Achmad Basarah berbicara perihal peran orang muda dalam membumikan Pancasila. Beliau sempat menyampaikan fakta unik tentang salam resmi bangsa Indonesia. Ternyata salam “Merdeka!” merupakan salam yang sampai saat ini tertulis dalam maklumat Soekarno sejak 31 Agustus 1945. Ketika mengucapkan salam “Merdeka!”, kelima jari terbuka yang menyiratkan bahwa kemerdekaan Indonesia dijaga oleh ideologi Pancasila dalam kelima silanya. Dalam membumikan Pancasila sebagai ideologi, pemuda-pemudi perlu menonjolkan identitas Indonesia sebagai persamaan milik kita bersama.

Temu Kebangsaan 2017

Pada kesempatan berikutnya, Bapak Yudi Latif menceritakan asal-usul ras bangsa Indonesia yang akhirnya memunculkan keberagaman. Kemajemukan inilah yang dilindungi oleh kelima sila dalam Pancasila. Selanjutnya, Bapak Yudi Latif menggambarkan cara untuk menyatukan pecahan-pecahan di Indonesia. Seperti dalam matematika, untuk menjumlahkan pecahan perlu menyamakan penyebutnya. Keberagaman bangsa ini pun membutuhkan “penyebut” yang sama supaya dapat dipersatukan. “Penyebut” kita bersama ialah Indonesia dengan Pancasila sebagai nilai bersama.

Di akhir diskusi, moderator menyimpulkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang berpijak teguh pada falsafahnya. Indonesia akan menjadi bangsa yang besar apabila selalu berpijak pada Pancasila. Begitu diskusi ditutup, peserta Temu Kebangsaan 2017 berfoto bersama di atas panggung kemudian berangkat ke Cico Resort di Bogor untuk melanjutkan acara.

 

Dilansir dari orangmudakatolik.net

Penulis: M. Paschalia Judith J.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *