Setidaknya, ada empat domain bagi kesinambungan dan ekspresi keberagaman; domain pribadi, jamaah, masyarakat, dan negara. Dari keempatnya, gesekan lebih sering terjadi pada domain masyarakat atau sosial, karena pada wilayah ini terjadi interaksi antara komunitas sebuah agama dengan komunitas agama lain.

Gesekan ini, misalnya, terjadi saat kekuatan jamaah atau kelompok menggeser ruang publik. Jelas ini melanggar etika dan berpotensi merusak keharmonisan sosial pada sebuah tatanan masyarakat dan bangsa yang majemuk. Ketika masuk ke ranah publik, bijaklah untuk memperbesar substansi agama yang mudah dipahami dan kontributif bagi masyarakat. Identitas personal tentu layak dipertahankan, hanya saja jangan sampai itu mendorong terjadinya benturan kelompok yang menjurus pada rusaknya etika dan kenyamanan publik.

Disitulah menurut saya hakikat dari toleransi. Menjadi toleran bukan berarti menjadi “sama”. Justru menurut saya, poin utama toleransi adalah menjadikan identitas kita selaras walau berbeda, sebagaimana lagu hanya akan terdengar indah jika nada sol, mi, do, la, dibunyikan dengan serasi. Sehingga, seorang Nasrani tak akan luntur kenasraniannya saat bergaul dengan Muslim. Seorang Muslim juga tetaplah mengimani Allah SWT. sekalipun dia berinteraksi dengan seorang Nasrani. Identitas itulah yang menjadi warna dan elemen penting dalam praktik bertoleransi. Toleransi bukan meleburkan perbedaan, melainkan menyelaraskannya.

Sikap toleran yang tepat adalah ketika ia tidak membuat individu mengorbankan keyakinannya menjadi keraguan. Menjadi toleran tidak berarti si Muslim harus melanggar apa yang diajarkan oleh agamanya. Jika khamr (minuman keras) itu haram, maka katakanlah ia haram. Jika wanita pada fitrahnya memang serba dibatasi karena ia istimewa, maka katakanlah bahwa wanita memang fitrahnya begitu. Toleransi tidak lantas mengaburkan pakem, seperti mengubah haram jadi halal. Menjadi toleran bukan berarti bebas mengobrak-abrik agama, karena menjadi seorang yang beragama itu artinya Anda mengubah diri Anda sesuai ajaran agama, bukannya mengubah ajaran agama itu sesuai kehendak Anda.

Ada sebuah film yang harus ditonton seluruh umat beragama, judulnya The Imam and The Pastor. Film dokumenter ini menyajikan kisah persahabatan seorang imam bernama Muhammad Ashafa dengan Pastor James Wuye. Keduanya adalah pemuka agama di Nigeria. Persahabatan mereka bukannya lahir begitu saja. Pertikaian antaragama pernah membuat mereka saling serang. Bahkan, James kehilangan lengannya dalam suatu pertempuran melawan kelompok militan Ashafa di Keduna. Mereka pun menjadi musuh bebuyutan. Saling benci dan dendam.

Namun, kondisi bukannya membaik pascabentrok. Kawan mereka tetap saling benci dan saling serang. Nyawa menjadi amat murah. Kondisi ini terasa makin tak wajar. Maka, demi mengurangi konflik dan menyelamatkan umat, sang Imam dan Pastor menjalin kerja sama, karena menurut mereka, perdamaian akan terwujud jika pemuka agamanya mampu memberi contoh.

Apakah mudah? Ya bayangkan saja, Anda harus berbaik-baik dengan orang yang pernah melukai Anda secara fisik dan rohani. Anda harus berdamai dengan orang yang Anda benci sebelumnya.

Tentu tak mudah. Menjadi toleran itu tidak mudah. Saat Ashafa dan James berkeliling kota untuk menebar pesan damai dan banyak menghabiskan waktu bersama, muncul beberapa momen dimana perkataan James menyinggung perasaan Ashafa, atau sebaliknya. Demi menekan emosi, mereka menarik diri sesaat, tak saling bertemu dan bicara. Lalu tak lama, mereka akan bertemu lagi dan bicara tentang misi perdamaian, seolah tak terjadi apa-apa.

Menurut James, hal seperti itu lumrah terjadi. Jika tiba-tiba Ashafa mengunci diri di kamar dan tak menemuinya, maka James akan tahu bahwa ada perbuatan atau perkataannya yang melukai sang Imam. Begitu juga sebaliknya.

Menurut saya, kisah itu merupakan contoh bahwa toleransi dapat dirumuskan walau kita tetap pada identitas kita, asal kita mampu bersikap bijak dan dewasa.

Nah, wadah bagi praktik bertoleransi menjadi penting karena ini mempermudah umat beragama untuk berbagi pengalaman dan berbagi makna. Menurut saya, perlu ada wadah toleransi sebagai tempat bertanya dan sharing antarumat. Karena pada wadah itulah seorang Nasrani akan tahu kenapa teroris identik dengan Islam dan sering dihubungkan dengan jihad. Di situlah seorang Muslim akan tahu apa makna dibalik Trinitas. Sehingga pada koridor itulah kita hidup dalam perbedaan. Bukannya melempar isu dan asal menjelekkan keyakinan orang. Seperti itulah kita menjadi tahu dan memaknai perbedaan. Karena, “menjadi tahu” saja itu sudah satu langkah yang akan menjauhkan kita dari tindakan intoleran dan rasis.

Tapi yang perlu digarisbawahi, wadah toleransi ini menjadi sarana berbagi pengalaman dan berbagi makna, bukan jadi ajang debat, hingga membenarkan diri sendiri dan menghinakan pendapat orang lain.

__________________________________
Penulis adalah Inasshabihah, alumnus Universitas Multimedia Nusantara angkatan 2010. Mantan Redaktur Pelaksana Ultimagz, pers kampus Universitas Multimedia Nusantara. Perempuan berhijab ini juga pernah bekerja sebagai editor, social media officer, contributor, dan relawan jurnalis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *