Hi BIB’s!

Dalam rangka menyambut Hari Kebangkitan Nasional 2017, pada 19 Mei 2017 yang lalu, Komunitas Berbeda Itu Biasa mengadakan diskusi bertemakan “Peran Pemuda dan Kebangkitan Nasional di Era Digital” di Unika Atma Jaya Jakarta.

Diskusi ini dimaksudkan untuk mengajak pemuda Indonesia bangkit dan bergerak, mengambil peran dalam era digital. Khususnya untuk meluruskan dan memerangi berita hoax yang banyak muncul, terlebih melalui laman-laman digital, yang bisa memperluas isu anti-pluralisme.

Dalam diskusi ini menghadirkan tiga pembicara, yaitu Andina Dwifatma – Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya Jakarta, Bonnie Triyana – Sejarawan dan Pemimpin Redaksi Majalah Historia, dan Siti Desiree Nasfhia – Campaign Support Manager Kitabisa.com.

Menurut Bonnie Triyana, Hari Kebangkitan Nasional lahir saat Indonesia sedang merumuskan identitasnya serta berhadapan dengan masalah perang gagasan dan ideologi. Terbentuknya Budi Oetomo pada 20 Mei 1908 menjadi panduan lahirnya kebangunan nasional atau kebangkitan bangsa. Pergerakan kemudian berlanjut sampai ke Sumpah Pemuda. Bonnie menegaskan, pada proses membangkitkan kesadaran nasional dan melakukan pergerakkan, media massa memiliki peranan yang sangat penting sebagai penyalur amant. Oleh sebab itu, pada masa sekarang, media massa masih mengalami fungsinya yang sama karena berpeluang untuk menurunkan tensi politik.

Sesi Tanya Jawab di acara Seminar BIB

Bonnie mengatakan sejak dulu sampai saat ini, perang gagasan dan ideologi masih terjadi di Indonesia walau dengan pola dan situasi yang berbeda. Banyak pihak yang memperkuat gagasan masing-masing dengan cara memutarbalikkan sejarah supaya dipercaya orang. Di sinilah kaum muda ditantang untuk tidak melupakan sejarah.

“Orang-orang itu bisa saja mengemas sejarah sesuai dengan kebutuhannya, sehingga melegitimasi sejarah itu menjadi sebuah kebenaran. Orang yang tidak mengetahuinya, akan mudah percaya,” jelas Bonnie.

Dalam acara yang dihadiri lebih dari 70 anak muda ini, Andina Dwifatma mengungkapkan bahwa media massa, dalam hal ini media sosial, banyak dimanfaatkan sebagai wadah untuk menyebarluaskan HOAX. Generasi muda, yang mana tercatat sebagai pengguna terbanyak dan teraktif di media sosial, diimbau untuk aktif menghadang isu-isu yang memecah belah persatuan dan menimbulkan konflik.

“Sudah saatnya jangan menjadi silent majority, harus bersuara, karena kalian inilah yang paling banyak menggunakan social media, dan kita juga yang bertugas melakukan edukasi, harmonisasi,” kata Andina.

Personel BIB di acara Seminar pada 19 Mei 2017

Sementara itu, Siti Desiree memberikan solusi dengan mengajak anak muda Indonesia untuk memperbanyak kegiatan positif yang menyebarkan gagasan pluralisme. Dengan begitu diharapkan supaya anak muda Indonesia lebih banyak berkreasi secara positif ketimbang terlibat pada hal-hal negatif.

“Kebangkitan Nasional dimaknai dengan ayo dong anak-anak muda bangkit, kita berlomba melakukan hal-hal yang baik, bangkit, bangun, buat karya-karya terbaik,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *