Komunitas Beda Itu Biasa (BIB), Gusdurian, Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahsiswa Kristen Indonesia (GMKI), Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (PERADAH), Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI), LBH Semarang, Pelita, Elsa, EIN Institute, dan Journalist Creative pada menggelar Ngabuburit Kebangsaan untuk memperingati hari lahir Pancasila tanggal 1 Juni 2017 yang betepatan dengan bulan suci Ramadan.
Menggunakan slogan Guyub Rukun Handarbeni, aksi ini hendak mengajak warga kota Semarang menciptakan suasana guyub, rukun, saling menerima dan menghormati perbedaan yang ada. Kegiatan Ngabuburit Kebangsaan yang diadakan di kawasan Tugu Muda Semarang diselenggarakan karena rasa keprihatinan akan lunturnya nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi Bangsa Indonesia. Selain itu acara ini hendak merespon maraknya intoleransi umat beragama di Indonesia.
Peserta Ngabuburit Kebangsaan di Semarang
Kegiatan ini bertujuan merefleksikan suasana harmonis, hubungan baik antar umat beragama dan kepercayaan di kota Semarang. Kondisi ideal ini harus terus dipelihara dan dipertahankan dari serangan radikalisme dan kampanye mengganti Pancasila dengan ide khilafah.
Tugu Muda Semarang dipilih menjadi lokasi acara karena menjadi salah satu icon kota Semarang dan merupakan simbol perjuangan para pemuda/pemudi yang memperjuangkan kemerdekaan pada saat pertempuran lima hari di Semarang.
Meskipun cuaca kurang mendukung akibat gerimis hujan namun tidak menyurutkan animo masyarakat kota Semarang untuk melanjutkan acara. Sekalipun ada kemunduran waktu dalam penyelenggaraan acara yang seharusnya pukul 15:00 WIB menjadi pukul 15:30 WIB pengisi acara tetap dengan semangat meski dalam kondisi basah. Hal ini, menunjukkan komitmen masyarakat pada Pancasila guna merawat keberagaman. Kegiatan ini dihadiri pula oleh para tokoh agama misalnya, Gus Ubaid, Pendeta Sedyoko, Pendeta Rahmat Rajagukguk, Bapak Harjanto Halim (Kong Hu Chu),  Pendeta Samuel, Pendeta Surya, Kardinal Mgr. Julius Riyadi Darmaatmadja, S.J, dan Romo Aloysius Budi Purnomo, Pr.
Peserta memenuhi kawasan Tugu Muda Semarang
Kegiatan ini dibuka dengan sajian musik akustik dan perkusi Orang Muda Katolik (OMK) Katedral Semarang. Tidak kalah menarik adalah penampilan dari Club Merbi menyanyikan lagu Garuda Pancasila dengan tarian bendera. Penampilan ini juga semakin menarik karena tidak hanya orang muda dan dewasa tetapi anak-anak juga ikut terlibat dan mengisi sebagai bentuk pembelajaran akan pentingnya nilai-nilai Pancasila.
Ada pula penampilan dari para tokoh agama yang menyepakati pentingnya ideologi Pancasila. Hadir kolaborasi dari Gus Ubaid yang menampilkan musikalisasi puisi bersama Romo A. Budi Purnomo, Pr yang memainkan saxofonnya. Turut serta Rini A. sebagai salah satu aktivis perempuan muslim ikut melantunkan sajak kebangsaan didampingi Suster Yulia yang memayunginya saat hujan mengguyur. Penampilan tersebut hadir sebagai penutup kolaborasi para tokoh agama.
Parade budaya menghadirkan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) kota Semarang dengan menyanyikan lagu Indonesia Jaya, dan Indonesia Pusaka. Ada pula HIKMAHBUDHI dengan permainan alat music erhu, PMII dengan musik akustiknya dengan membawakan lagu Bendera dan Gerbyar-Gebyar.
Peserta mewarnai patung burung Garuda berbahan gypsum
Pada acara ini salah salah inisiator, Irwan S. yang mengajak siswa usia sekolah tingkat dasar untuk mewarnai patung burung Garuda Pancasila berbahan gypsum. Panitia pun telah mempersiapkan property mewarnai seperti cat secara gratis kepada peserta. Tujuannya untuk mengembangkan kreatifitas, menanamkan rasa cinta akan ideologi bangsa. Semangat dari peserta mewarnai tampak pula dengan tetap mau ikut teribat walau dalam kondisi gerimis.
Acara yang berakhir pada pukul 17.30 WIB ini, ditutup dengan acara buka Bersama yang menyajikan takjil dan beragam makanan di lingkungan Tugu Muda. Para peserta yang hadir hendak menunjukkan kepedulian dan solidaritas akan kebersamaan dalam perbedaan dengan pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila. Para peserta berharap acara sejenis tidak hanya pada kegiatan ini, namun akan ada kegitan serupa lain yang sama-sama menggaungkan semangat nasionalisme, cinta tanah air, dan kebhinekkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *