Seperti lagu band kawakan Sheila On 7, “Anugerah Terindah” maka yang diberikan Tuhan yang maha kuasa bagi bangsa ini adalah keberagaman dan kemajemukan. Kenyataan ini menjadi kebanggaan setiap pribadi yang memiliki rasa cinta tanah air. Indonesia merupakan negara yang sangat majemuk, dengan label negara minority society, dalam artian terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang mempunyai visi dan misi yang sama.

Namun pada lain pihak kemajemukan yang ada justru membawa dampak yang mengarah ke perpecahan di tengah masyarakat. Ini disebabkan dengan muncul beberapa kelompok dan atau oknum mengatasnamakan salah satu golongan yang kemudian membuat hal-hal meresahkan masyarakat.

Tak terkecuali di desa saya yang terpencil, yang jauh dari hiruk pikuknya kehidupan dunia perkotaan dan dunia modern. Banyak hal yang sangat berubah di desa saya, Dimana masyarakat yang dulunya hidup gotong-royong kini memudar.

Saya masih ingat 15 tahun lalu saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, kehidupan orang di desa saya sangat harmonis, hampir tidak ada masalah yang terjadi antara satu dengan yang lain. Namun mulai berbeda ketika pemilihan umum secara langsung berjalan pertama kalinya pada 2004, masyarakat di kampung saya sudah mulai terkotak kotak oleh alur politik yang mereka ikuti. Kondisi ini tidak cerdas menurut saya, karena membawa masalah baru dalam kehidupan sosial masyarakat.

Perubahan pola pikir, khususnya pola kehidupan warga kampung mulai terasa, masyarakat yang dulunya hidup bergotong royong dan saling berkunjung di pagi dan sore hari hanya sekedar untuk melepas penat setelah kerja seharian, kini tidak ada lagi. Warga kampung sudah mulai hidup terkotak-kotak.

Dalam kondisi yang individualis, timbul berbagai macam permasalahan ditengah masyarakat. Dari kasus pencurian sampai kasus pembunuhan. Kehidupan sosial masyarakat yang berkembang pesat membuat orang berlomba-lomba menjadi lebih baik dari orang lain. Persaingan semacam ini sebenarnya bisa menjadi sangat baik jika diarahkan secara positif. Namun yang terjadi ditengah masyarakat kampung saya justru ke arah yang yang menimbulkan perpecahan karena adanya sikap iri terhadap sesama.

Pada tanggal 6 Agustus 2007 umat Gereja Katolik di Paroki Mano, Kecamatan Pocoranaka digemparkan dengan masalah yang sangat sakral bagi umat Katolik. Jika dimasukan dalam tataran masalah modern saat ini, masalah ini masuk dalam tingkat penodaan agama.

Kejadian ini bermula saat seorang warga yang baru datang dari Jawa mengikuti temannya menghadiri perayaan ekaristi mingguan yang diselengarakan umat Katolik. Pada awalnya tidak terjadi apa-apa dan masyarakat tidak menaruh curiga terhadap pelaku. Namun tiba-tiba beberapa umat gereja geram saat prosesi penerimaan hosti atau yang melambangkan tubuh dan darah Kristus bagi umat Katolik, dimana pelaku ikut menerima namun tidak dimakan, melainkan memasukannya ke dalam kantong bajunya. Sontak beberapa umat yang hadir dan melihat kejadian itu langsung menarik pelaku keluar dari dalam gereja dan terjadi sedikit kericuhan.

Padahal, masyarakat Manggarai terkenal sangat ramah dan tak jarang Manggarai dijuluki Negeri Seribu Satu (1001) Senyuman oleh para wisatawan yang berkunjung kesana. Daerah yang sejuk dan dingin memberikan pesona yang berbeda dan yang menarik dibandingkan beberapa kabupaten lainnya di pulau Flores. Keramahan masyarakatnya membuat beberapa turis asing betah untuk tingal disana.

Kembali ke masalah “penistaan agama” masyarakat kemudian membawa pelaku ke kantor desa setempat untuk diadili. Namun ada yang menarik dari kejadiaan saat itu, ialah hadirnya “tu’a golo” (tua adat) dalam ruangan itu. Hal ini menarik menurut saya karena kalau dilihat dari kronologi kejadian, masalah ini berhubungan dengan gereja, dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan adat-istiadat.

Pelakupun dimintai keterangannya oleh ketua adat. Di kampung saya, derajat ketua adat masih lebih didengarkan daripada seorang polisi. Maka tak heran kalau ketua adat bisa multifungsi dalam mengatasi segala perkara. Terbukti bahwa dia adalah seorang yang beragama muslim yang menghabisi liburan di daerahku, dan dia tidak tau apa artinya hosti yang disakralkan oleh umat Katolik.

Atas pejelasan dari tersangka tersebut, ketua adat pun memberikan solusi kepada pelaku, memintanya untuk meminta maaf kepada seluruh umat Katolik setempat melalui pemangku adatnya dan pastornya. Hal yang menariknya adalah persembahan atau persyaratan yang diajukan ialah sebotol bir, dan satu jerigen moke putih atau dalam bahasa daerah setempat adalah tuak bakok.

Menurut adat masyarakat kami, sebotol bir merupakan minuman keakraban yang membuat hubungan terjalin dengan baik kembali manakala ada masalah yang muncul ditengah masyarakat. Sementara satu jerigen tuak baok itu adalah melambanggan keharmonisan hidup antara masyarakat dan alam. Tradisi ini terus dijaga hingga saat ini, dan masih menjadi satu acuan masyarakat dalam menyelesaikan masalah yang terjadi.

Proses pendamaian siap dilaksanakan dan pelaku menyiapkan segala persyaratan. Tepat pukul 10.00 WITA, sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, semua pemangku adat sudah berkumpul di balai rumah adat atau yang orang kampung biasa menyebutnya “mbaru gendang” untuk acara tersebut. Dibantu dengan orang asli daerah, permintaan maaf pun mengunakan bahasa daerah Manggarai. Setelah kata minta maaf terucap, kalimat terakir sebagai penutup prosesi ini ialah”kepok ho’o tuak” yang dalam bahasa Indonesia artinya “maaf ini tuaknya”, lalu bir dan arak putih yang telah disediakan di berikan kepada pihak korban atau yang merasa dirugikan.

Masalahpun selesai ditandai dengan minum bir dan arak yang disediakan, tanpa ada rasa dendam dan benci satu sama lain. Akhir kata, salam dari kami anak timur Indonesia tepatnya dari pulau Flores. Bae Sonde Be, Flobamora Lebe Bae, salam satu botol.

_________________________

Penulis adalah Cristian Jurman, alumnus Universitas Pamulang. Anggota Komunitas Berbeda Itu Biasa dan juga aktif dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *