YOGYAKARTA – Tit… tit…. tit.. suara klakson kendaraan menghentak riuh keramaian di Jalan Ahmad Yani, Ngupasan, Gondomanan Yogyakarta. Beberapa pelajar terlihat berjalan berbaris menuju Istana Yogyakarta yang dikenal masyarakat dengan nama Gedung Agung.

Mengenakan beragam pakaian adat nusantara, para pelajar memasuki halaman Gedung Agung tempat dilangsungkannya upacara bendera memperingati hari kemerdekaan Indonesia ke-72. Ada pula aparat yang melakukan pengamanan di sekitar gedung dan sejumlah pejabat yang hadir memenuhi undangan.

Setidaknya ada 160 anak kelompok paduan suara gabungan dari anak-anak sekolah SD-SMP-SMA yang berasal dari berbagai latar belakang sekolah. Ada pula kelompok musik pengiring paduan suara dari Sekolah Musik Nasional beranggotakan sekitar 87 orang.

Mereka akan menyanyikan lagu-lagu nasional dan daerah dalam upacara bendera peringatan 72 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Masyarakat memberi hormat pada saat pengibaran bendera di luar Gedung Agung, Jalan Ahmad Yani, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta, Kamis (17/8/2017). Ridhoino Kristo Sebastianus Melano

Sejak pukul 06.45 WIB sejumlah masyarakat juga mulai berdatangan mencari lokasi yang tepat agar dapat menyaksikan prosesi upacara bendera yang dipimpin Gubernur Yogyakarta, Sri Sultan HB X. Mereka hanya bisa melihat dari balik pagar karena tak memiliki undangan resmi memasuki lokasi upacara.

Suasana sekitar lokasi upacara dihiasi umbul-umbul dan bendera merah putih. Pada kursi peserta upacara, terdapat perbedaan antara kursi peserta dan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Kursi peserta diberi lapisan kain merah putih sementara warna keemasan menjadi ornamen di sofa Sang Sultan yang seakan mempertegas definisi upacara menurut Ben Anderson, bahwa upacara menjadi momen dimana penguasa memamerkan dan sekaligus mengakumulasi kekuasaan dari rakyat.

Satu di antara masyarakat yang hadir, Novianto mengaku sengaja datang ke Gedung Agung untuk menyaksikan jalannya upacara.

Menurut mahasiswa Amikom yang berasal dari Tangerang ini, momen upacara bendera mengingatkannya ketika bertugas sebagai Paskibra di Kabupaten Tangerang.

“Ingatan ini menggugah semangat nasionalisme dan rasa bangga menjadi orang Indonesia,” tuturnya, Kamis (17/8/2017).

Hal senada diutarakan Tri Wuryono. Pensiunan RRI ini mengantar cucunya yang menjadi anggota paduan suara. Selama memperhatikan kegiatan yang berlangsung, ia menganggap ini sebagai kegiatan yang positif dengan menyanyikan lagu nasional dengan mengenakan baju adat nusantara.

Kegiatan ini dapat membiasakan anak-anak berinteraksi dengan teman sebaya yang berbeda latar belakang, baik sekolah, keyakinan, etnis dan lainnya. Sehingga memupuk rasa toleransi dan menghargai keberagaman.

“Namun sangat disayangkan, karena sistem yang ketat di dalam, warga justru dijadikan penonton, bukan sebagai peserta upacara,” ucap Tri.

Acara peringatan kemerdekaan juga menarik perhatian wisatawan asing. Terbukti dengan banyaknya wisatawan asing yang ikut serta menyaksikan jalannya upacara bendera di Gedung Agung. Ada yang sendiri, ada pula yang beramai-ramai.

Di antara masyarakat yang menyaksikan, ada pula yang rela untuk berpanas-panasan, memeluk pagar, naik pagar pepohonan, dan beberapa menggendong anaknya di pundak agar anak dapat menyaksikan dengan jelas jalannya upacara.

Bahkan, ketika proses pengibaran bendera, beberapa dengan antusias mengangkat tangan menunjukkan sikap hormat kepada bendera merah-putih, beberapa justru mengangkat handphone dan mengabadikan momen pengibaran bendera di Gedung Agung, mungkin tak lagi merasa sebagai peserta, hanya penonton seremoni upacara.

Satu di antara peserta paduan suara, Tita merasa senang karena terpilih ikut serta sebagai anggota paduan suara. Menurutnya ini adalah kesempatan mengaktualisasikan diri karena kesempatan seperti ini jarang terjadi, apalagi dengan proses seleksi yang ketat.

“Kami saja harus setiap hari latihan dalam waktu hingga 14 hari ini,” imbuh pelajar kelas 5 SD Marsudirini.

Tak hanya pelajar. Hayun, mahasiswa Atma Jaya, merasa punya kewajiban minimal satu kali pernah menyaksikan upacara bendera pada hari kemerdekaan Indonesia di Gedung Agung.

Selama ini ia kesulitan untuk menyaksikan upacara di Gedung Agung karena memiliki kewajiban mengikuti upacara di sekolahnya.

Lain halnya yang diutarakan Esti (35). Pedagang minuman keliling ini, memaknai bahwa hari kemerdekaan hanyalah kemerdekaan bagi Negara, bukan bagi bangsa.

“Indonesia memang merdeka dari penjajah, tetapi tidak dari bangsanya sendiri,” katanya.

Esti menilai masih belum adanya keadilan sosial bagi seluruh masyarakat, terutama bagi masyarakat bawah. Keadilan secara hukum, tidak adil bagi masyarakat bawah. Keterbatasan lapangan pekerjaan, bantuan yang tidak tepat sasaran kepada masyarakat kurang mampu dan lain sebagainya.

“Wajar jika kejahatan merajalela. Bukan karena kemauan, tapi karena keadaan,” ungkap Esti yang juga warga Yogyakarta.

Memaknai Kemerdekaan

Peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang dilakukan dengan upacara bendera terkesan sebagai kegiatan seremoni belaka. Dimana penguasa mempertontonkan kekuasaannya di hadapan rakyat, karena ia yang menjadi pusat perhatiannya.

Terlebih upacara yang dilakukan penguasa cenderung tertutup dan eksklusif. Hanya kalangan terbatas penerima undangan saja yang diperbolehkan mengikuti prosesi upacara bendera. Sementara yang tak mendapat akses, menjadi penonton upacara.

Kebutuhan masyarakat dalam menyalurkan nasionalisme melalui upacara bendera tidak difasilitasi oleh penguasa. Pengamanan dan protokol selalu menjadi alasan untuk membuat jarak dengan rakyat. Seharusnya seremoni hari kemerdekaan dinikmati semua kalangan terutama masyarakat luas.

Dikhawatirkan jika tidak dibiasakan, maka kerinduan nasionalis tidak lagi muncul dalam upacara. Rakyat akan merasa bahwa kemerdekaan bukan lagi milik semua bangsa, tetapi milik penguasa.

Perlu dilakukan perbaikan sistem seremoni upacara hari kemerdekaan yang melibatkan masyarakat luas sebagai peserta upacara, bukan sekadar penonton. Tentu tanpa mempertaruhkan keamanan bersama.

Bisa menyediakan area khusus untuk masyarakat yang ingin ikut serta sebagai peserta, menyediakan layar besar yang dapat diakses, atau semarak kemerdekaan dipadukan bersama kegiatan lainnya yang menyentuh masyarakat secara langsung.

Persoalan kemerdekaan bagi rakyat bukan pada kehadiran mengikuti seremoni upacara bendera. Kemerdekaan sesungguhnya yang belum mereka rasakan ialah jaminan rasa aman, keadilan hukum dan penghidupan yang layak di tanah airnya.

Bagaimana Negara sebagai penyelenggara pemerintahan, hadir menjawab kesulitan hidup rakyat. Jangan sampai muncul persepsi bahwa Indonesia belum merdeka karena masih dijajah oleh bangsanya sendiri.

Perlu juga diperhatikan bahwa, keadilan sosial yang tidak dapat dirasakan semua kalangan, dalam bentuk bantuan sosial, ketersediaan lapangan pekerjaan, maupun perasaaan kebangsaan, menjadi keluhan yang diharapkan dapat diatasi agar kemerdekaan sungguh dapat dirasakan bagi semua pihak.

Menumbuhkan rasa nasionalisme harus dilakukan dengan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam segala bidang. Kemudian, komunikasi yang intensif dengan masyarakat harap diwujudkan agar ‘niat baik’ pemerintah melalui berbagai program yang telah dijalankan tersampaikan.

Saling bergerak dalam gotong royong, tentu menjawab keresahan pada masalah yang dirasakan semua pihak, keterlibatan pemerintah menjadi poin penting dalam terwujudnya gotong royong.

 

Ayik Teteki, Sisi, Boby dan Doy.
Pekan Studi Nasionalisme – Lembaga Studi Realino Yogyakart

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *