Tragedi 1998, menjadi tahun yang membekas bagi Nicholaus Prasetya (26) salah seorang lelaki keturunan Tionghoa saat ia masih kecil. Bukan karena kejadian 1998 yang kerap disebut meninggalkan trauma bagi golongan Tionghoa. Sebaliknya, 1998 justru membawa keyakinan baginya bahwa Indonesia selalu memiliki orang-orang yang baik.

Nicholaus yang akrab disapa Nicho, pernah menyabet juara II Ahmad Wahib Award pada tahun 2012 yang digelar oleh Forum Muda Paramadina. Ahmad Wahib Award merupakan salah satu kompetisi menulis yang merefleksikan pemikiran seorang tokoh penulis Indonesia, Ahmad Wahib melalui catatannya yang berjudul Pergolakan Pemikiran Islam.

“Alasan saya sebenarnya sangat sederhana, saya senang membaca buku dan menulis. Dan waktu itu saya melihat ada pengumuman mengenai sayembara menulis Ahmad Wahib dan kemudian sedikit mencari tahu tentang tokoh ini,” ujar Nicho kepada Berbeda Itu Biasa.

Ketertarikan kepada sosok Ahmad Wahib semakin subur tatkala dia membaca tulisan Wahib yang sarat dengan pertanyaan dogmatisme agama dan kepercayaannya sendiri. Rasa hausnya akan pengetahuan dan pencarian kebenaran adalah hal yang menarik bagi Nicho. Hal ini membuatnya memutuskan untuk menulis tentang Ahmad Wahib dan relevansinya dengan pengalaman hidup dan keadaan Indonesia.

“Dan semakin jauh saya menulis tentang sosok ini, semakin saya merasa bahwa sosok seperti inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh banyak kaum muda di Indonesia hingga sekarang: sosok yang selalu mempertanyakan segala sesuatu supaya tidak terjebak dalam dogmatisme semu,” sambungnya.

Nicho pun membuat tulisan yang terinspirasi dari kejadian 1998. Dia bercerita, sekalipun bentrokan tidak terjadi di sekitar rumahnya, tetapi hawa ketakutan menyelimuti keluarganya. Ada kecemasan kalau-kalau keluarga mereka dijadikan target penganiayaan. Ayah Nicho terus memantau keadaan luar dari balik tirai jendela, berusaha untuk melindungi keluarganya.

Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu depan rumah Nicho, yang terletak di daerah Kelapa Gading, Jakarta. Seorang tetangga sebelah rumahnya, warga pribumi dan muslim datang menawarkan tempat persembunyian. Tawaran itu spontan disambut dengan baik oleh keluarga Nicho. Mereka sekeluarga pun pindah ke rumah tetangga sebelah dengan barang bawaan seadanya. Nicho dan keluarganya tinggal di rumah itu selama tiga hari, tiga malam.

Segenap penghuni rumah terus memantau televisi guna memantau pergerakan massa yang tengah mengamuk. Tetangga Nicho juga sangat waspada untuk menjaga kawasan sekitar kompleks. Mereka sama-sama ingin tidak ada tetangga mereka dari etnis Tionghoa yang menjadi korban. Berkat kebaikan hati tetangganya, Nicho sekeluarga selamat dari ancaman massa.

“Pada saat itulah saya melihat bahwa kebaikan manusia sebenarnya tidak mengenal batas. Kebaikan adalah kebaikan dan memandang manusia sebagai manusia adalah sebuah kewajiban,” ungkapnya.

Alumnus Institut Teknologi Bandung ini mengaku ada banyak momen dalam hidupnya yang membuatnya merasa sangat mencintai Indonesia. Salah satunya saat Nicho pergi naik gunung, dia bisa menikmati Indonesia yang indah dan penuh dengan orang-orang baik.

Nicho bercerita, pernah dalam satu perjalanan, dia dan rombongan pendaki gunung bertemu orang asing dalam bus umum. Orang asing ini pun mengajak Nicho dan rombongannya berbincang. Nah, selesai berbincang dan mengetahui tujuan rombongan, orang asing ini kemudian menawarkan rumahnya untuk singgah, makan bersama keluarganya, beristirahat dan beristirahat. Kemudian dia juga mengantarkan Nicho dan rombongannya ke desa terdekat sebelum pendakian.

“Di titik itu saya merasa bahwa Indonesia sebenarnya tidak pernah kehabisan orang-orang baik. Saya kagum dengan orang-orang seperti ini. Oke, kita memang sering mendengar berita negatif tentang Indonesia. Namun setiap kali saya bertemu dengan orang-orang baik seperti ini, saya merasa sebenarnya Indonesia tidak bisa kehilangan harapan. Selalu ada orang-orang yang dengan tulus ingin mengenal dan berbuat baik untuk sesamanya,” jelas Nicho.

Nicholaus Prasetya

 

TANTANGAN INDONESIA

Setelah lima tahun berlalu setelah kesuksesan Nicho dalam ajang Ahmad Wahib Award, ternyata masih banyak harapannya dan keprihatinannya yang tertuang dalam tulisan itu belum berubah. Dia pun berpendapat bahwa Indonesia masih harus lebih keras berubah ke arah yang lebih baik.

Belakangan ini menurutnya ada fenomena di Indonesia, orang-orang mudah mengklaim agamanya telah dinistakan. Lebih jauh, mereka bisa menggunakan hal tersebut sebagai alasan untuk membawa masalah itu ke jalur hukum.

Menurut pandangannya, permasalahan tersebut timbul karena tidak ada keinginan antar golongan untuk berdiskusi mengenai agama. Kecenderungannya jika kita berbicara tentang agama orang lain dan sedikit salah kata, maka ada risiko terjerat hukum dan dipenjara.

“Saya ingin lebih melihat dimana kita sesama manusia bebas berdiskusi tentang apapun termasuk agama tanpa harus merasa cepat tersinggung,” paparnya.

Nicho yang saat ini sedang menjalani aktivitas sebagai mahasiswa postgraduate progran di Inggris menilai saat ini sebagian masyarakat Indonesia masih ada kecenderungan merasa takut terhadap yang lain. Keberagaman, bagi alumnus Canisius College (CC) ini, adalah sebuah keniscayaan. Oleh karena itu manusia sudah seyogyanya menerima dan belajar untuk hidup dengan hal tersebut. Sayangnya, masih ada beberapa golongan yang merasa dirinya paling benar dan memandang orang lain yang tidak sejalan dengan mereka sebagai yang ‘lain’ yang harus dihilangkan eksistensinya.

“Bagi saya keadaan seperti ini cukup mengkhawatirkan karena akan dengan sendirinya mengikis identitas bangsa Indonesia yang multikultur,” katanya.

Selain itu, Nicho juga menyoroti kondisi politik Indonesia yang sarat dengan sentimen agama. Kondisi ini menurut Nicho akan sulit membawa anak muda Indonesia pada khususnya untuk mau terlibat.

“Saya selalu bertanya mengapa saya harus memilih pemimpin hanya karena dia seagama dengan saya? Buat saya yang terpenting adalah siapa yang bisa berbuat banyak hal baik untuk kepentingan orang banyak, terlepas dari apapun agama dan latar belakang orang tersebut.”

Oleh karena itu, dia berharap agar segenap eleman masyarakat Indonesia bisa berubah yakni dengan bagaimana cara kita memandang sesama dengan tidak lagi memandang mereka sebagai ‘yang lain.’ Hal ini lebih penting untuk ditekankan: membuat masyarakat kita lebih terbuka dan rasional dalam berpolitik.

Berkacalah dari kondisi masyarakat di London, Inggris. Nicho bercerita, London memiliki seorang walikota beragama muslim yang adalah golongan masyarakat minoritas. Nicho berharap contoh ini bisa diambil sebagai pelajaran bahwa kota seperti London tidak ragu untuk memilih seorang Muslim sebagai pemimpinnya. Asalkan sosok pemimpin tersebut memiliki kapabilitas, mengapa tidak? Meskipun begitu, dia tak menampik bahwa isu agama dalam politik di London sempat menguap saat pemilihan walikota. Namun nampaknya penduduk di sana sudah mengerti bahwa kapabilitas seseorang untuk memimpin tidak dipengaruhi oleh agamanya.

“Saya berharap dengan semakin majunya teknologi informasi, anak muda sekarang bisa menjadi sosok yang terbuka dan kritis dan menggunakan informasi yang ada dengan bijak. Bukan menggunakannya untuk melunturkan identitas Indonesia sebagai bangsa yang multikultur,” ujar Nicho berharap pada pergerakan anak muda Indonesia saat ini.

 

HARAPAN UNTUK INDONESIA

Saat ini Nicho berharap agar Indonesia bisa menjadi rumah untuk siapapun, apapun latar belakangnya. Mengutip Soekarno, bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan itu adalah hal yang lebih berat. Menurutnya, kita tidak lagi memiliki musuh bersama seperti pada saat jaman penjajahan. Musuh yang nyata yang bisa dengan bersama kita katakan ‘musuh’ dan membuat kohesi sosial di masyarakat meningkat.

Nicho yakin perjuangan kemerdekaan itu tidak pernah habis karena pekerjaan rumah sebenarnya bukan lagi masalah musuh besama yang bisa terlihat namun bagaimana menjadikan kemerdekaan sebagai sebuah jembatan untuk membuat masyarakat Indonesia yang lebih sejahtera.

“Saya pikir kita harus bergerak bersama untuk memajukan Indonesia, dari semua sektor: ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahun, dan lainnya, untuk menuju masyarakat yang sejahtera. Namun untuk mencapai tujuan ini, menjadikan Indonesia sebagai rumah bagi siapa saja adalah hal yang paling fundamental,” imbuhnya.

Sudah bukan waktunya bagi masyarakat masih mengotak-kotakkan diri dengan identitas yang particular. Jika demikian, cita-cita kemerdekaan untuk memajukan Indonesia hanya bisa menjadi utopia.

“Saya ingin tetap bisa berkontribusi untuk Indonesia melalui tulisan-tulisan dan pemikiran saya dan juga untuk berkontribusi di bidang penelitian dan ilmu pengetahuan yang sedang saya kerjakan sekarang,” tutupnya.

 

BIODATA SINGKAT

Nama Lengkap                      : Nicholaus Prasetya

Tempat, Tanggal, Lahir     : Jakarta, 5 Desember 1990

Pendidikan                             :

  • SMP Don Bosco 1, Kelapa Gading
  • SMA Kolese Kanisius, Menteng
  • Institut Teknologi Bandung

Kegiatan saat Ini                  : Postgraduate Student

2 Replies to “Nicholaus Prasetya: Indonesia Tidak Pernah Kehabisan Orang-orang Baik

  1. Nice post… smoga bisa menginspirasi yang lainnya… Jangankan yang beda agama, yg sama agamanya namun beda pahamnya pun kadang berselisih. Tp tdak menghalangi seseorang untuk tetap berbuat baik…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *