Euforia perayaan kemerdekaan tidak terlihat di Alun-alun Utara Yogyakarta. Tak tampak gegap gempita layaknya bangsa yang merdeka. Bendera Merah Putih pun tidak tampak berkibar di sana. Sepanjang trotoar hanya ada beberapa aktivitas masyarakat seperti jogging, main bulu tangkis, berdagang dan berkunjung. Suasana yang terbangun adalah sepi.

Kondisi alun-alun yang tampak sepi tersebut juga diafirmasi oleh seorang abdi dalem Keraton yang pada hari itu sekaligus bekerja sebagai tukang becak. Kesepian di alun-alun yang bertepatan perayaan HUT ke-72 RI seakan-akan juga turut merambah ke dalam pribadi masyarakat yang berada di sekitarnya. Salah satu turis mancanegara bahkan mengatakan keadaan di Keraton ‘ it’s so flat’.

Kesepian di tengah perayaan tidak hanya berhenti pada konteks ruang saja. Hal yang sama terjadi pula dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Para pedagang kaki lima, pengemudi becak, bahkan kendaraan taksi online pun mengalami anomali. Taksi online yang biasanya memperoleh banyak pesanan justru tampak sepi. Salah satu pengemudi taksi online menuturkan bahwa hingga tengah hari beroperasi, ia baru mendapat satu pesanan.

Kesepian dari momen perayaan ini menjalar terhadap pemaknaan kemerdekaan pada orang-orang yang kami temui di sekitar alun-alun. “Arti kemerdekaan buat saya, ya gak tau mas. Gitu-gitu aja,” tutur salah seorang anggota PAM Budaya di alun-alun. Sepasang siswa SD yang baru pulang upacara pun kebingungan ketika ditanya apa itu (ke)merdeka(an). “Hmm apa ya, mas?” jawab seorang lama sambil termenung, hingga terlontar candaan kepada seorang temannya sesama siswa SD. Pun ketika seorang ibu bercerita, “Halah, mbak, merdeka itu apa? Wong garam masih impor. Dicampur beling lagi,” katanya pesimis.

Usaha Memamerkan Upacara Perayaan

Sebagai sebuah ruang publik yang bersejarah, alun-alun pernah menjadi tempat titik berkumpulnya massa dan sebagai ruang transfer of knowledge antar pejabat dengan masyarakat. Keterlibatan yang massif dari seluruh elemen masyarakat terlekatkan dalam hikayat tempat ini. Akan tetapi, membandingkan keadaan alun-alun yang dulu dengan sekarang terlihat berbeda. Fungsional alun-alun sebagai tempat berkumpulnya massa dalam merayakan sesuatu sekarang sudah tergeser. Dalam kondisi perayaan HUT Kemerdekaan ke-72 RI, simbol kemerdekaan saja tidak tampak apalagi pekik kemerdekaan.

Perayaan HUT Kemerdekaan ke-72 RI oleh pejabat pemerintahan setempat dilaksanakan di Gedung Agung Yogyakarta. Perayaan tersebut berkesan lebih dekat dengan pemaknaan kata riya’. Dalam bahasa Arab, riya’ bermakna sombong atau pamer. Kata riya’ merupakan akar kata dari riyaya dalam bahasa Jawa atau yang dalam istilah Indonesia disebut hari raya.

Setidaknya pemaknaan sombong atau pamer tersebut muncul dalam upacara dan menimbulkan dua kesan. Pertama, perayaan HUT Kemerdekaan RI ini tampil sebagai sebuah perayaan elitis. Hal ini terlihat dari hadirin yang ada di dalam perayaan tersebut: pejabat pemerintahan, aparatur negara, dan segenap kerabat-kerabatnya. Kedua, terbentuknya eksklusivitas yang tergambar dari bagaimana rakyat menonton dari luar pagar Gedung Agung.

Perhatian rakyat—dengan sengaja atau tidak—menjadi terpusat di tempat ini. Fenomena ini ditunjukkan sebagai sebuah interaksi antara yang menonton (yaitu para elit yang berada di dalam Gedung Agung) dan yang ditonton (masyarakat yang berada di luar Gedung Agung). Akan menjadi hal yang lumrah ketika yang menonton beranggapan bahwa mereka (yang ditonton) sedang pamer perayaan. Selain pamer, dua kesan yang timbul ini merefleksikan pula hilangnya kedekatan atau kebersamaan rakyat dengan tokoh-tokoh penting masyarakat dalam sebuah wadah bernama upacara Kemerdekaan. Faktanya yang terjadi di alun-alun adalah tidak adanya kegiatan yang bertujuan untuk merawat momentum perayaan ini. Dengan demikian, semua orang yang dilibatkan dalam perayaan ini akan saling merawat ingatan dan mengingatkan akan sejarah.

Pelbagai gambaran “kehilangan” di Alun-alun Utara ini hanya mewakili sebagian kecil dari dinamika perayaan HUT Kemerdekaan ke-72 RI di kota Yogyakarta. Orang-orang di alun-alun ini, secara sekilas, sedang jauh dari apa yang sedang terjadi di dekatnya. Namun, yang lebih penting daripada itu adalah keinginan untuk melibatkan dan mendekatkan semua elemen masyarakat melalui agenda yang diwarnai keberagaman.

Menilik hal yang beriklim elitis di atas, terlihat bahwa relasi kuasa tampak dalam jarak antara kaum elit dengan rakyat bawah. Artinya seperti yang terlihat bahwa rakyat tidak dapat mengikuti perayaan kemerdekaan yang seharusnya dirasakan semua rakyat Indonesia. Ada juga dalam beberapa kasus yang ditemui, mereka (para rakyat kelas bawah) selama ini hanya mengerti apa itu kata merdeka namun tidak memahami makna kemerdekaan. Akibat dari permainan elitis inilah yang menidurkan kesadaran rakyat tentang arti penting kemerdekaan sebagai salah satu bentuk persatuan dari sebuah keberagaman.

Akhirnya terminologi kemerdekaan sama seperti wakil rakyat, ia mengatasnamakan rakyat, tetapi tidak merakyat. Upacara Kemerdekaan hanya dirayakan para pejabat publik, elit politik, pegawai pemerintahan dan anak-anak sekolah saja. Sementara yang lain hanya menonton. Ritual yang dulu sangat dogmatis dan mengerikan. Namun upacara kemerdekaan pun saat ini mulai kehilangan makna dan pudar dari budaya karena tidak wajib. Apalagi ketika kita kembali lagi menjadi rakyat. Rakyat yang bukan anak sekolahan, pegawai pemerintah, elit politik, apalagi pejabat publik.

 

Taufan Arya
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma dan

Aji Pangestu
Mahasiswa STAI Al Anwar
Twitter: @AjiFankezt2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *