“Dunia hidup di dalam awan kebencian,” ujar Savic Ali, Direktur Nahdlatul Ulama (NU) Online, membuka diskusi di acara Seminar Pancasila bertema Menjadi Manusia Indonesia yang Berkeadilan dan Berkeadaban.
Sebagai aktivis pluralisme yang berkecimpung melalui media online, Savic kerap melakukan tracking terhadap akun-akun media sosial yang sering mengkampanyekan ujaran kebencian dan kekerasan.
“Di dunia ini, ada banyak ekspresi kebencian di tiap detik, menit, dan jam,” tuturnya dalam acara yang diselenggarakan di Gereja Maria Bunda Karmel, Sabtu (26/8/2017). Menurutnya, hal itulah yang kemudian membuat masyarakat jauh dari kehidupan beradab seperti yang tertuang dalam butir Pancasila.

Seminar Pancasila di Gereja Katolik Maria Bunda Karmel Jakarta (26/8)

Meski sudah 72 tahun merdeka, bangsa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang membutuhkan keterlibatan semua elemen masyarakat. Gerakan radikalisme yang mengarah pada terancamnya persatuan bangsa, perlahan mulai melancarkan aksinya. Salah satu sarana yang mereka gunakan untuk menggencarkan misinya adalah dengan menggunakan media sosial berbasis online.

Mengacu hasil trackingnya, Savic mengatakan, dari 10 media online keislamaan yang ramai dikunjungi oleh netizen, 9 diantaranya adalah media keislaman yang konservatif. Bahkan, posisi NU Online, sebuah media keislaman yang menjunjung tinggi pluralisme berada di urutan ke-4. Artinya, media keislaman yang konservatif atau radikal masih mendominasi.
Tentu, ini jadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Indonesia yang memiliki komitmen terhadap kebhinekaan. Silent majority semestinya perlu ambil bagian untuk meredam gerakan-gerakan tersebut yang basisnya menggunakan media online.
Untuk mengcounter informasi mengenai radikalisme Islam, Savic Ali pun lantas membuat website anyar bernama Islami.co. Situs tersebut dibuat dan diisi oleh anak-anak muda lulusan pesantren untuk menggaungkan toleransi dan kedamaian yang diimpikan oleh semua masyarakat.
Melalui situs tersebut, dia ingin ‘mengedukasi’ masyarakat muslim yang tinggal di perkotaan dan ingin memperdalam ilmu keagamaannya. “Karena saat ini, masyarakat muslim moderat tidak sadar dengan apa yang tengah terjadi di dunia maya,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, hadir pula tokoh keagamaan, Gus Nuril Arifin. Kehadiran Gus Nuril seolah mencairkan suasana oleh karena paparannya yang serius dibawakan dalam cara yang santai dan penuh canda. Gus Nuril dengan terang menentang hadirnya gerakan radikal yang berusaha menggantikan ideologi Pancasila. Bahkan, dia berharap agar bisa membangun kerja sama dengan Gereja Katolik dan siapapun yang berkehendak baik untuk melawan radikalisme.
“Bangsa ini sedang menghadapi persoalan yang serius. Kita harus segera bergerak. Umat Katolik jangan hanya berdoa, berkunjunglah ke pesantren saya dan kita bergerak bersama,“ ungkapnya.
Gus Nuril juga menentang segala bentuk pemaksaan ideologi agama Islam untuk diterapkan di NKRI. Menurutnya, cara manusia memuliakan Tuhan bukan dengan pemaksaan ayat kitab suci untuk diterima oleh semua orang, melainkan dalam bentuk pelayanan terhadap sesama umat manusia. Banyaknya acara keagamaan di televisi dalam bentuk dakwah maupun ceramah menurutnya percuma, jika yang terjadi di masyarakat justru ujaran kebenciaan dan kekerasaan lantaran keracunan agama.
Senada dengan Gus Nuril, pembicara lainnya, Romo Dr. Eddy Kristiyanto OFM pun mengamini hal tersebut. Menurutnya, keimanan seseorang akan tampak jika mereka terlibat dan ikut merasakan penderitaan maupun sukacita dunia.
“Kehadiran Allah menjadi nyata ketika kita bisa menjadi garam dan terang dalam situasi dunia seperti saat ini,” katanya.
Tentu, sesudah menyadari kondisi bangsa seperti saat ini, semua pembicara yang hadir mengajak para peserta yang berkomitmen menjaga kebhinekaan untuk mau membangun jembatan antarkelompok sosial maupun antarumat beragama. Tidak perlu muluk-muluk, mulai dari hal yang paling sederhana seperti menulis.
Savic Ali mengatakan, bukan saatnya lagi kita menciptakan pagar-pagar eksklusifitas. Kita harus secara inklusif melawan segala bentuk gerakan radikal. Dengan menulis, lanjut dia, setiap orang bisa berupaya untuk membangun konten positif, misal dengan mengangkat keharmonisan hidup umat Islam dan Katolik di Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Menulislah tentang sesuatu yang merekatkan persaudaraan,” ujarnya.
Selain itu, dia mengimbau agar masyarakat lebih kritis dalam menyebarkan informasi yang sumbernya tidak bisa dipercaya. Pasalnya, alih-alih memberikan wawasan, informasi tersebut justru bisa menjadi sesuatu yang memicu konflik dan pertikaian.

Penulis adalah Klaudia Molasiarani. Dia aktif sebagai jurnalis pada salah satu harian ekonomi dan investasi di Jakarta. Jurnalis muda ini adalah perempuan berzodiak Cancer yang lahir di Semarang, 14 Juli 1994.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *