Satya Winnie Sidabutar (25), seorang perempuan berdarah Batak, Sumatera Utara ini mengakui bahwa blog adalah platform yang paling tepat untuk mempromosikan ragam potensi kebudayaan, pariwisata, dan tradisi di Indonesia. Kenyataan itu yang mendorong alumnus Universitas Indonesia ini untuk mulai menapaki jalan sebagai seorang travel blogger.
“Saya sudah menjejak di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Tinggal 5 dari 34 provinsi yang belum pernah saya datangi,” ujar si empunya akun @satyawinnie kepada Berbeda Itu Biasa.
Perempuan yang hobi membaca karya-karya Paulo Coelho ini berpendapat bahwa Indonesia adalah negeri yang memliki kekayaan alam dan budaya yang luar bisa sehingga sangat disayangkan jika anak-anak bangsa tidak turut andil dalam mempromosikannya.
“Di sisi lain, saya juga ingin agar budaya yang ada di Indonesia tidak punah karena masih banyak orang yang ingin menguliknya, dibuat takjub karenanya sehingga budaya itu akan teris dilestarikan, diturunkan ke generasi-generasi berikutnya,” tutur Satya.
Perempuan berzodiak Capricon ini memang suka menulis buku harian sejak kecil. Dia lalu mengembangkan hobi tersebut dengan mengikuti lomba menulis synopsis buku. Kebiasaan Satya kian terbawa sampai dia dewasa, dimana setiap perjalanan dituliskannya dalam buku catatan kecil.
“Lalu saya beralih untuk menuliskannya di blog agar makin banyak orang yang membacanya. Sharing is caring.”

Satya Winnie

SI PENYUKA TANTANGAN
Dari 29 provinsi di Indonesia yang pernah Satya datangi, ada salah satu pengalaman yang paling berkesan yaitu perjalanan dari ke Sumba dari Sape. Satya naik kapal kayu pengangkut sayur dan menerjang badai dan ombak besar di malam hari selama 9 jam.
“Waktu itu saya sudah pasrah sebenarnya namun ternyata saya selamat,” ungkapnya.
Alumnus SMA Mardi Yuana, Bogor ini mengaku sangat menyukai olahraga-olahraga ekstrim. Dia sama sekali tidak memiliki ketakutan sekalipun pernah mengalami cedera saat melakukan olahraga tersebut.
“Saya mengalami kecelakaan tahun lalu saat terbang solo paralayang dan tangan kanan saya patah. Hingga kini saya masih dalam masa pemulihan sehingga saya harus mengurangi aktivitas luar ruang sesuai anjuran dokter tetapi nyatanya saya tidak melakukannya dan masih aktif bergerak bepergian. Namun saya tahu saya harus lebih berhati-hati,” cerita Satya.
Ada lagi momen sebagai traveler yang tak terlupakan bagi Satya tatkala dia mengunjungi Aceh pada bulan ramadhan dan menikmati momen bulan penuh berkah dan juga turut merayakan hari kemenangannya.
“Ada rasa damai yang saya rasakan selama di sana. Saya beragama Katolik dan saya minoritas di sana namun mereka menerima saya selayaknya saudara sendiri. Saya merasakan bahwa inilah Indonesia yang sesungguhnya. Indonesia yang ramah dan menerima siapa pun sebagai saudara,” terangnya.
Satya yang juga tergabung dalam komunitas mahasiswa pecinta alam saat kuliah ini menilai biasanya anak-anak muda yang tergabung dalam organisasi pecinta alam, lebih terbuka pemikirannya dalam menyikapi isu perbedaan. Selain itu pun, pembentukan karakter anak muda yang biasa berjalan dan beraktivitas di alam jauh lebih baik dibandingkan anak yang lain.
“Kami belajar untuk saling peduli satu sama lain, senang dan susah dirasakan bersama-sama, menghargai, saling empati dan masih banyak pelajaran lainnya.”
Satya mengaku terkadang persaudaraan yang terbentuk diantara teman-teman pecinta alam sama kuatnya dengan hubungan keluarga. Sehingga dari situlah anak muda belajar untuk menghargai perbedaan dan saling toleransi. Apalagi setiap tahunnya ada acara Temu Wicara Kenal Medan (TWKM) dimana semua perwakilan pecinta alam dari seluruh Indonesia berkumpul dan mendiskusikan tentang isu isu lingkungan dan isu sosial.
Secara otomatis dengan menjadi seorang travel blogger Satya menjumpai banyak sekali orang di perjalanan yang sangat menginspirasi. Selama melakukan travelling, Satya terbiasa menetap di rumah penduduk etempat. Dia juga gemar mendengarkan cerita mereka dan belajar banyak dari tempat tersebut.
“Saya seakan-akan mendapatkan nasihat dari orang tua saya sendiri. Perjalanan itulah yang akhirnya banyak mengubah sudut pandang saya. Dengan mendengarkan cerita-cerita mereka yang sungguh inspiratif, saya merasa bahwa saya sangat lemah jika dibandingkan mereka.”
Menjadi seorang traveler membuat saya lebih dewasa dalam memaknai persoalan-persoalan hidup yang dia alami. Persoalan-persoalan yang menurutnya bahkan tak ada apa-apanya dibandingkan masalah orang-orang tersebut.
“Dan kadang saya jadi tergerak untuk melakukan sesuatu karena mendapatkan insight dari mereka.”

KEPRIHATINAN INDONESIA SAAT INI
Dalam menyikapi permasalahan Indonesia yang mudah tersulut emosi karena perbedaan suku, ras, dan agama (SARA) membuat hati Satya teriris. Menurutnya, zaman berubah, orang berubah.
“Jujur saya sedih bahwa pluralisme dan toleransi menjadi isu yang serius di Indonesia terutama di kota-kota besar. Sebenarnya masyarakat di daerah-daerah kecil nan jauh dari Ibukota masih sangat menjunjung toleransi. Hidup damai berdampingan tanpa melihat agama dan ras,” imbuhnya.
Perempuan yang juga hobi membaca karya-karya Haruki Murakami ini bingung, entah apa yang terjadi di kota-kota besar sehingga bisa terjadi perpecahan. Sedikit sulutan saja bisa menjadi api yang membara.
“Kemanakah perginya nilai-nilai sosial yang ditanamkan saat kita masih duduk di bangku sekolah dasar? Mengapa bangsa kita menjadi bangsa yang mudah dipecah belah?”
Meskipun begitu dia mengaku ada begitu banyak alasan bagi Satya mencintai Indonesia. Misalnya saja ketika dia mengikuti upacara adat atau memakai pakaian adat. Satya bahkan bisa menangis terharu karena merasa memiliki kekayaan budaya yang luar biasa sebagai orang Indonesia.
“Mungkin saya dibilang aneh karena hanya dengan menyaksikan tarian adat saja bisa meneteskan air mata. Tetapi buat saya momen itu adalah momen berharga yang selalu membuat saya menyadari betapa saya mencintai tanah air saya,” paparnya.
Menurut Satya, ada pengaruh yang dibawa orang-orang dari luar yang sebenarnya lebih mengacu kepada politik yang akhirnya berdampak kepada perpecahan yang terjadi saat ini. Misalnya, budaya dianggap sesuatu yang porno dan tabu padahal dulu tidak pernah begitu. Dia bersikukuh bahwa bangsa Indonesia menjadi kuat karena kekayaan budayanya dan toleransi serta damai yang diusung setiap warga negaranya.
Oleh sebab itu, Satya berpandangan setiap masyarakat Indonesia perlu membuat inisiatif-inisiatif baru dalam mempertahankan multikulturalisme. Pemahaman ini juga harus ditanamkan dari sejak dini kepada setiap anak. Tidak hanya di sekolah tetapi juga pemahaman di keluarga.
“Keluarga besar saya terdiri dari beragam ras dan agama namun kami saling toleransi dan menghormati satu sama lain dan turut merayakan hari besar agama masing-masing karena nilai-nilai toleransi itu sudah ditanamkan sejak kami kecil. Dimulai menghargai sepupu-sepupu yang berbeda agama dan ras nya baru menghargai orang-orang lain.”

Satya Winnie

CITA-CITA UNTUK INDONESIA
Sejak kecil Satya mengaku sebagai sosok yang kerap tidak sabaran dan suka skeptis dengan banyak orang dan banyak hal.
“Perjalanan yang saya lakukan akhirnya mengubah saya menjadi orang yang berbeda sekarang. Saya juga belajar menerima perbedaan karena menurut saya hal itulah yang membuat hidup saya sangat berwarna.
Begitu pula dengan pelajaran toleransi dan empati yang dia dapatkan selama melakukan traveling ke berbagai penjuru Indonesia. Kini, Satya mengaku telah memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang kehidupan dibandingkan beberapa tahun silam.
Satya memiliki cita-cita mengajak anak-anak muda di daerah kecil untuk belajar menulis cerita tentang tempat tinggal mereka. Tujuannya, agar daerah itu bisa lebih besar dan lebih dikenal masyarakat Indonesia di belahan lain.
“Saya juga berimpian untuk mengajak teman-teman untuk menjadi pejalan yang lebih bertanggung jawab dan juga ingin menciptakan kesadaran penuh bagi semua orang untuk lebih peduli dengan lingkungan dan satwa,” pungkasnya. (GFK)

 

Biodata Satya Winnie Sidabutar

Nama Lengkap​​​​: Satya Winnie Sidabutar

Tempat Tanggal Lahir​​​: 15 Januari 1992

Pendidikan​​​​:

  • SMP Katolik Fatima 1 Sibolga
  • SMA Mardi Yuana Bogor
  • Universitas Indonesia

Kegiatan saat Ini​​​: Travel Blogging, Freelance Content Writer

Hobi​: Membaca Buku, Naik Gunung, Extreme Sports; Paragliding, Caving dll.

Buku dan Film Favorit​:

  • Semua karangan Paulo Coelho. Buku karangannya yang pertama dan menjadi favorit saya adalah ‘The Alchemist’.
  • Juga sangat menyukai Haruki Murakami dan Mitch Albom.
  • Film favorit sampai sekarang ‘My Neighbor Totoro’ dan semua film karya Studio Ghibli.

Tokoh Idola ​ : Mama yang kerap kupanggil Momong. Dia idola saya sepanjang masa. Juga Ibuk angkat saya yang tinggal di Turen, Ibu Donik.

Cita-cita​: Pilot, Penulis, Tour Guide dan Dokter Hewan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *