Dalam rangka memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia dan HUT ke – 72 Republik Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  bekerja sama dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan Komnas HAM menyelenggarakan kegiatan bertajuk Parade Kain Tenun Nusantara, Minggu (27/8/2017) di Jakarta.

Acara tersebut menghadirkan komunitas budaya dari berbagai daerah di nusantara untuk ikut andil dengan mengenakan pakaian adat atau kain tradisional daerah asal mereka. Sebelum parade dimulai, tampak wajah sumringah para peserta parade berfoto menggunakan pakaian adat nusantara.

Parade Kain Nusantara dalam rangka Hari Internasional Masyarakat Adat

Mulai menghangatnya sinar matahari Minggu pagi bahkan tidak melunturkan semangat para peserta parade untuk melakukan long march mulai dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) sampai ke Museum Nasional.

Salah satu peserta yang berasal dari komunitas Aliansi Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), Cristian Jurman berharap, melalui kegiatan ini masyarakat Indonesia bisa menumbuhkan rasa memiliki terhadap kain tenun nusantara. Dengan adanya rasa memiliki, tentu akan ada kecintaan untuk menjaga dan melestarikannya.

“Sekaligus juga memperkenalkan kepada masyarakat bahwa kita punya kekayaan yang luar biasa dan patut dilestarikan,” ujarnya.

Sambil berjalan, para peserta parade yang mewakili bagian barat, tengah, dan timur Indonesia ini melakukan beberapa aksi, seperti tarian yang ditampilkan oleh peserta parade asal Sulawesi Utara (Sulut).

Parade Kain Nusantara pada CFD di kawasan Bundaran HI hingga Monas

Dengan membentuk tim, mereka menampilkan tarian Kabasaran, yakni tarian keprajuritan tradisional Minahasa. Dalam tarian ini, para penari mengenakan atribut, seperti kostum tarian, pedang, dan tameng serta alat musik pukul, seperti gong kecil dan tambur. Perpaduan antara iringan musik dan suara lantang penari ala prajurit seolah menghidupkan dan menambah semarak kegiatan parade tersebut.

Adapun peserta parade yang mewakili provinsi Bali ikut menyemarakan parade dengan menyanyikan lagu tradisional, mengiringi jalannya long march. Penampilan mereka sukses mewarnai parade kain tenun nusantara tersebut.

Di pertengahan long march, peserta parade berhenti di beberapa titik untuk unjuk gigi kesenian daerah mereka, baik kepada peserta parade maupun kepada masyarakat Jakarta yang menikmati parade tersebut.

Peserta Parade Kain Nusantara 2017

Tak hanya Tarian Kabasaran asal Sulut, peserta parade yang mewakili provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengajak semua peserta bergoyang dengan diiringi lagu daerah berjudul Gemufamire khas Maumere, Flores, NTT.  Semua peserta parade, bahkan masyarakat Jakarta yang tengah menikmati Car Free Day (CFD) ikut bergoyang mengikuti irama lagu.

Di titik selanjutnya, peserta parade yang mewakili daerah Lombok, NTT juga unjuk kebolehan melalui tari Peresean. Tarian ini juga berkisah soal keberanian dan ketangkasan, dan ketangguhan para lelaki dalam bertarung. Warna-warni pakaian dan kain tradisional ini melebur menjadi satu dalam kegiatan tersebut.

 

Penulis adalah Klaudia Molasiarani. Dia aktif sebagai jurnalis pada salah satu harian ekonomi dan investasi di Jakarta. Jurnalis muda ini adalah perempuan berzodiak Cancer yang lahir di Semarang, 14 Juli 1994.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *