“Bagi saya Islam itu salam (keselamatan), dan pesantren mesti menjadi basis untuk mewujudkan virtue tersebut. Sedangkan radikalisasi tidak hanya menawarkan kekacauan dan perselisihan, tetapi ia juga merusak filosofi Islam itu sendiri,” demikian ungkapan Irfan L Sarhindi (29) kepada Berbeda Itu Biasa tentang alasannya membuka pesantren kilat Salamul Falah untuk membendung radikalisasi.

Irfan yang merupakan generasi kelima pendiri Pondok Pesantren Darul Falah di Cianjur ini resah melihat generasi muda di Cianjur berpotensi tak toleran terhadap perbedaan dengan terlibat pada aksi demonstrasi. Master filsafat pendidikan lulusan University College London ini melihat ada beberapa penyebab aksi demonstrasi diinterpretasikan sebagai sarana kesalehan.

Irfan L. Sarhindi, Pendiri Pesantren Kilat Salamul Falah

Pertama, karena mereka concern terhadap isu-isu keagamaan. Kedua, karena aksi ini ‘didukung’ banyak ‘ulama’, sedangkan para santri ini diajarkan untuk ‘patuh’ terhadap ulama. Ketiga, kebanyakan dari para santri ini tidak punya pengetahuan politik yang memadai. Keempat, mereka juga cenderung less literate dalam hal media. Kelima, mereka juga kurang kritis, sehingga mereka dapat dengan mudah dimanipulasi dan dipolitisasi.

“ Tetapi mereka ‘tidak ngeh’ kalau mereka sedang dijadikan pion perang,” ujar Irfan.

Selain itu ada tantangan khusus yang dihadapi pesantren dalam konteks multikulturalisme yakni sifat pesantren yang homogen, dan terkadang membuat para santri tidak bisa me-rekognisi sudut pandang pihak lain. Hal ini akan semakin bertambah buruk jika identitas pesantren amat konservatif dan mengajarkan narrow-mindedness.

“Dalam konteks pesantren saya, agak sulit untuk langsung mengadakan semacam dialog antar-agama, karena secara sosio-kultural dan psikologis, yang muncul adalah resistance yang ekstrem. Jadi, saya mulai dengan hal-hal sederhana seperti: sharing tentang pengalaman saya kuliah di luar, pengalaman berinteraksi dan bekerjasama dengan non-Muslim, dan dengan kedua pendekatan tersebut, saya berusaha meluruskan prasangka-prasangka yang mendarah-daging, seperti anggapan bahwa semua bule sama dengan Yahudi dan semua Yahudi pasti sedang berkonspirasi menjatuhkan Islam. Sederhananya: sedikit demi sedikit mengurai sentiment anti-Western, anti-Kristen, anti-Yahudi, dan anti-China dalam diri mereka,” cerita Irfan.

Semua langkah yang dilakukan Irfan memang tak lepas dari rangkaian perjalanan hidupnya menjalani studi di luar negeri. Lolos sebagai mahasiswa di UCL sementara dia adalah alumnus universitas swasta kecil di Cianjur membuatnya ingin membagikan refleksi batin tersebut kepada para santri.

“Pelajaran paling penting yang saya rasakan ada dua: rasa jadi minoritas, diekspos dengan pergaulan yang heterogen, yang memperkaya sudut pandang dan kepekaan toleransi keberagamaan saya. Juga, objektivitas dalam mendekonstruksi society Muslim di Indonesia dan bagaimana pergumulan pemikiran mempengaruhi wajah Islam di Indonesia,” ungkapnya.

Irfan mengatakan saat ini sebenarnya ada banyak pendekatan yang bisa dilakukan untuk mengajarkan para santri memahami politisasi agama. Oleh sebab itu dia berharap, dengan melakukan penyadaran secara perlahan kepada para santri tentang realita politik dia bisa mengurai ‘kesahihan’ klaim ‘bela Islam’

“Tetapi bagi saya, pendekatan yang ideal adalah dengan mendorong adanya dialog antar-agama atau kultur, sehingga setiap dari kita tahu dalam hal apa kita berbeda, dan bagaimana kita bisa mengkomunikasikan perbedaan-perbedaan tersebut sehingga menjadi unsur pengkaya kebersamaan. Selain itu, saya pribadi biasanya menggunakan pendekatan kontekstualisasi sejarah Islam, demi menunjukkan toleransi dan kebhinekaan yang dibangun Nabi.”

MENGUBAH METODE BELAJAR

“Saya amat terinspirasi oleh konsep ‘child-centered education’ ala Rousseau dan Dewey; serta konsep experiential learning ala Ibnu Khaldun. Keduanya menekankan bahwa belajar bagi anak-anak harus fun, bikin mereka senang, melibatkan aktivitas fisik dan bukan hanya sistem pengajaran satu-arah di mana guru menjelaskan dan santri menghafal atau mencatat,” jelas Irfan membahas cara dia menerapkan metode aktivitas fisik kepada para santri.

Irfan L. Sarhindi, Master Filsafat Pendidikan lulusan University College London

Oleh karena itu, di program pesantren kilat yang tengah dikelola bersama kawan-kawannya yaitu Salamul Falah dengan konsep child centered education. Kegiatan belajar tidak hanya di kelas, tetapi juga ada outbound, ada kelas praktek daur ulang, ada praktek tata cara ibadah, ada bersih-bersi majelis ta’lim bersama. Selain itu juga para pengajar mengadakan perlombaan sembari memberlakukan sistem ‘kupon penilaian’ bagi mereka yang bertanya dan atau berani maju ke depan kelas dan menjawab pertanyaan.

“Kupon ini nanti dikumpulkan dan ditukar dengan hadiah di akhir program. Selain juga jadi unsur penilaian tambahan untuk pemilihan santri terbaik,” paparnya.

Dengan semua metode tersebut anak-anak tidak hanya menerima asupan pemahaman tetapi juga pro-aktif memaknai. Para santri juga dilatih konfidensi dan keberanian. Hal ini mengingat konteks lokasi pesantren yang berada di perkampung sehingga anak-anak yang sebagian besar dari keluarga menengah kebawah memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah. Metode ini juga agar pengajaran pelajaran Islam tidak identik dengan kemonotonan dan hukuman, tetapi dengan cara ‘bersenang-senang’ atau rileks.

“Melihat antusiasme mereka, juga bagaimana proses belajar-mengajar tidak monoton, dan bagaimana ‘nyanyian-nyanyian’ yang kami ajarkan selama Salamul Falah sering mereka nyanyikan di luar, dan bagaimana sebagian alumni Salamul Falah berkembang di lingkungannya masing-masing. Sebagai contoh, ada yang sekarang jadi ketua PPI Ankara, Turki, saya berkesimpulan bahwa ada indikasi metode ini efektif. Tetapi, memang harus ada riset khusus,” jelasnya.

Saat ini Irfan sedang mengupayakan pengadaptasian metode pengajaran bagi para santri ke media online, seperti video dan blog. Kedepannya, dia juga ingin membikin sekolah yang terintegrasi dengan pesantren Salamul Falah. Dengan pengajaran utama berpedoman pada Islam kultural yang moderat, wawasan kebangsaan melalui pendekatan yang berporos pada child-centred education dan critical thinking.

 HARAPAN UNTUK INDONESIA

Menurut riset The Guardian, pada 2045 Indonesia akan memasuki era kedaulatan ekonomi dan menjadi negara keempat terbesar secara ekonomi. Riset ini berkaitan dengan bonus demografi anak-anak muda di Indonesia. Namun menurut Irfan prediksi ini bisa saja meleset kalau anak-anak muda Indonesia mudah dimanipulasi dan dipolitisasi dengan sentimen SARA dan membujat mereka mudah terpecah belah dan berselisih.

“Untuk itu, perlu ada penguatan Islam kultural, transformasi pendidikan demi membangun kultur berpikir kritis, dialog antar-agama demi kesalingmengertian, media literacy, dan pendidikan politik, sehingga ‘energi besar’ anak-anak muda ini tidak dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu,” imbuhnya.

Melalui penguatan ini, Irfan berharap hasil riset The Guardian tidak menjadi ramalan semata. Nantinya, Indonesia tidak hanya akan berdaulat secara ekonomi tetapi juga secara sosio-kultural dan religiusitas.

Kepada Berbeda Itu Biasa, Irfan mengaku kerap berkaca-kaca setiap kali menonton pagelaran yang menampilkan kekayaan budaya Indonesia. Lelaki yang mengagumi sosok Gus Dur dan Gus Mus ini sangat bersyukur pada keberagaman Indonesia dibandingkan negara-negara lain. Rasa haru tersebut kian besar ketika dia merantau untuk studi ke luar negeri.

“Ketika berada di luar negeri untuk belajar dan kemudian melihat Indonesia dari jauh. Saya selalu tahu saya harus pulang dan tidak peduli semaju apapun negeri yang dikunjungi, Indonesia rasanya tidak bisa digantikan.” (GFK)

 

PROFIL SINGKAT IRFAN L. SARHINDI

Nama                    : Irfan L. Sarhindi

TTL                       : Cianjur, 09 Januari 1988

Pendidikan        :

SMP       : SMPN 1 Warungkondang

SMA       : SMAN 1 Cianjur

PT          : Universitas Putra Indonesia (SE)

University College London (MA Philosophy of Education)

Kegiatan              : menulis buku; meriset terutama yang berhubungan dengan diskursus Islam dan radikalisasi; pembuatan bank data dan sistem Salamul Falah salah satu program pesantren kilat

Hobi                      : Membaca, menulis, nonton film, sepakbola, nyanyi

Buku Fav            : Tetralogi Buru-nya Pramoedya Ananta Toer; Seribu Tahun Kesunyian-nya Gabriel Garcia Marquez; Snow & My Name Is Red-nya Orhan Pamuk; Tuhan Tahu Tapi Menunggu-nya Leo Tolstoy; Masnawi-nya Jalaludin Rumi; buku-buku Cak Nun; Thus Spake Zarathustra-nya Nietszche

Film fav               : Arrival, La La Land, What is Your Name (Kimino Nawa)

Tokoh Idola       : Cak Nun, Gus Dur, Gus Mus

Cita-cita               : Penulis, peneliti, dosen

Motto hidup      : “mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan” (Ali bin Abi Thalib)

 

Catatan: redaksi meralat pernyataan Irfan mengenai aksi 411 dan 212 karena mengandung makna yang menggeneralisasi bagi pihak tertentu.

3 Replies to “Irfan L Sarhindi: Mengembalikan Hakikat Islam Sebagai Salam Keselamatan

  1. Secara umum saya bisa menerima pandangan Irfan seperti dalam berita di atas, apalagi jika merujuk rekam jejaknya akademiknya yang notabene memang tidak berkonsentrasi pada disiplin ilmu tertentu yang memantaskan dirinya untuk berargumen tentang Islam selain semata-mata lahir dari subjektifitas semata.

    Selain itu, Irfan menempuh pendidikan tingginya di negera yang selama ini memiliki sentimen yang teramat paranoid terhadap Islam, khususnya pesantren dan kalangan santri, yang sentimen itu ternyata tidak saja berkelindan di tingkat grassroot namun juga meluas hingga ke level akademis dimana umumnya berhasil melahirkan banyak riset akademik yang -sesungguhnya- semata ingin mengeliminir “status quo” Islam dan berdalih dengan menyebutnya sebagai upaya purifikasi.

    Adapun soal ini, Irfan perlu lebih banyak membaca dan memahami wawasan kebangsaan bagaimana resistansi bangsa penjaja Eropa ketika merangsek ke Nusantara serta sejarah kegelapan Eropa di masa lalu dimana bangsa ini memiliki sejarah teramat kelam yang kemudian mempengaruhi langkah-langkah mereka kemudian.

    Salah satu cara berfikir pendek Irfan yang dipengaruhi sentimen akut tersebut adalah narasi peyorasi yang dikonstruksi olehnya terhadap pihak-pihak yang dianggap berbeda, penuh dosa, dan dipandang tidak perlu ada.

    Perhatikan argumen Irfan, bahwa banyaknya massa pesantren dari Cianjur yang turun ke jalan saat aksi demonstrasi 411 dan 212 sebagai bentuk intoleransi. Artinya, jutaan massa itu tidak toleran. Tidak menghargai pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan pihak lain (KBBI).

    Dengan sangat percaya diri, Irfan berasumsi bahwa jutaan manusia pengunjuk rasa menolak penistaan agama pada aksi 411 atau 212 adalah kaum yang tidak menghargai perbedaan. Kesimpulan yang sangat tidak akademistik dan tentu saja sangat prematur yang berangkat dari cara pandang yang teramat sempit.

    Tapi, pandangan semacam ini tidaklah mengherankan, sebab umumnya disuarakan oleh mereka yang memang tidak cukup mampu melihat kompleksitas Indonesia. Dan, yang menyedihkan, lontaran seperti itu seringkali muncul dari segelintir orang akibat keterbatasan nalar dan memaksanya untuk melakukan simplifikasi terhadap suatu proses yang sebetulnya jelas sekali duduk masalahnya.

    Kenapa ketika ada pihak yang sekedar ingin menyampaikan suara hatinya karena apa yang diyakininya dinista, kok malah disebut intoleran. Sementara orang yang tidak meyakini kitab suci pihak lain dan malah menghinanya, justru tidak disebut intoleran.

    Singkatnya, mari menjadi warga negara yang otentik, yang bertoleransi otentik. Toh berbeda itu biasa. Toleransi itu bukan basi-basi, bukan sekedar pengakuan kata-kata, tapi bukti dan realisasi.

    Terakhir, yang tak kalah penting, sebagai anak bangsa saatnya membangun tradisi wacana dan logika yang mencerdaskan nalar dan konstruktif yang dengannya akan mengasah nalar intelektual yang jujur.

  2. Secara umum saya bisa menerima pandangan Irfan seperti dalam berita di atas, apalagi jika merujuk rekam jejak akademiknya yang notabene memang tidak berkonsentrasi pada disiplin ilmu tertentu yang memantaskan dirinya untuk berargumen tentang Islam selain semata-mata lahir dari subjektifitas semata.

    Selain itu, Irfan menempuh pendidikan tingginya di negera yang selama ini memiliki sentimen yang teramat paranoid terhadap Islam, khususnya pesantren dan kalangan santri, yang sentimen itu ternyata tidak saja berkelindan di tingkat grassroot namun juga meluas hingga ke level akademis dimana umumnya berhasil melahirkan banyak riset akademik yang -sesungguhnya- semata ingin mengeliminir “status quo” Islam dan berdalih dengan menyebutnya sebagai upaya purifikasi.

    Adapun soal ini, Irfan perlu lebih banyak membaca dan memahami wawasan kebangsaan bagaimana resistansi bangsa penjajah Eropa ketika merangsek ke Nusantara serta sejarah kegelapan Eropa di masa lalu dimana bangsa ini memiliki sejarah teramat kelam yang kemudian mempengaruhi langkah-langkah mereka kemudian.

    Salah satu cara berfikir pendek Irfan yang dipengaruhi sentimen akut tersebut adalah narasi peyorasi yang dikonstruksi olehnya terhadap pihak-pihak yang dianggap berbeda, penuh dosa, dan dipandang tidak perlu ada.

    Perhatikan argumen Irfan, bahwa banyaknya massa pesantren dari Cianjur yang turun ke jalan saat aksi demonstrasi 411 dan 212 sebagai bentuk intoleransi. Artinya, jutaan massa itu tidak toleran. Tidak menghargai pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan pihak lain (KBBI).

    Dengan sangat percaya diri, Irfan berasumsi bahwa jutaan manusia pengunjuk rasa menolak penistaan agama pada aksi 411 atau 212 adalah kaum yang tidak menghargai perbedaan. Kesimpulan yang sangat tidak akademistik dan tentu saja sangat prematur yang berangkat dari cara pandang yang teramat sempit.

    Tapi, pandangan semacam ini tidaklah mengherankan, sebab umumnya disuarakan oleh mereka yang memang tidak cukup mampu melihat kompleksitas Indonesia. Dan, yang menyedihkan, lontaran seperti itu seringkali muncul dari segelintir orang akibat keterbatasan nalar dan memaksanya untuk melakukan simplifikasi terhadap suatu proses yang sebetulnya jelas sekali duduk masalahnya.

    Kenapa ketika ada pihak yang sekedar ingin menyampaikan suara hatinya karena apa yang diyakininya dinista, kok malah disebut intoleran. Sementara orang yang tidak meyakini kitab suci pihak lain dan malah menghinanya, justru tidak disebut intoleran.

    Singkatnya, mari menjadi warga negara yang otentik, yang bertoleransi otentik. Toh berbeda itu biasa. Toleransi itu bukan basi-basi, bukan sekedar pengakuan kata-kata, tapi bukti dan realisasi.

    Terakhir, yang tak kalah penting, sebagai anak bangsa saatnya membangun tradisi wacana dan logika yang mencerdaskan nalar dan konstruktif yang dengannya akan mengasah nalar intelektual yang jujur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *