Berawal dari keingintahuannya menelusuri jejak sang ayah, Dhita Adhitia Husein (27), memutuskan bergabung dalam Angkatan Umum Muda Siliwangi dimana sang ayah permah menjadi ketua umum. Angkatan Umum Muda Siliwangi merupakan organisasi kemasyarakatan yang menjadi induk dari Ikatan Mahasiswa Angkatan Muda Siliwangi hingga dia bisa menjabat sebagai Sekretaris Jenderal saat ini. Melalui Angkatan Umum Muda Siliwangi (IMA AMS) inilah, Dhita mendampingi masyarakat adat di Jawa Barat.

“Jadi alasan saya bergabung dengan organisasi kepemudaan ini adalah mencari jawab seperti apa ayah saya dan bagaimana pola pikirnya. Karena selama hidupnya saya tidak tahu bagaimana diluar sana. Dia hanyalah ayah yang selalu meninggalkan saya untuk kepentingan yang selalu dia bilang kepentingan negara dan bangsanya khususnya dari Jawa Barat,” ungkap Dhita kepada Berbeda Itu Biasa.

Salah satu misi utama Dhita ketika terjun ke IMA AMS agar organisasi kepemudaan yang berbasiskan budaya ini dapat membantunya meyiarkan informasi tentang jati diri perempuan Sunda yang mandiri dan mampu membuat perubahan seperti Dewi Sartika dan Inggit Garnasih.

Dhita bercerita, seorang kader IMA AMS memiliki visi utama menjaga adat dan masyarakat Sunda. Pasalnya, seorang kader IMA AMS harus memegah empat falsafah organisasi yakni PAKUSARAKAN.

Pertama, Pageuhan Lemah Cai atau pertahankan tanah air. Kedua ada Wangsit Siliwangi yang sering dikumandangkan saat pembukaan acara-acara formal bertujuan membakar semangat sekaligus pengingat kembali tujuan dan misi organisasi. Ketiga ada Catur Watak yang terdiri dari Kukuh Kana janji memegang teguh janji. Leber Wawanen yang berarti memiliki jiwa keberanian mempertahankan kebenaran, silih wawangi yang berarti saling mengharumkan atau tidak menjelek-jelekan siapapun. Medangkeun Kamulyaan yang memiliki makna bahwa setiap kader IMA AMS harus menebarkan dan membangkitkan kemuliaan. Keempat adalah TRI-SULA AMS yang dijabarkan menjadi Solat Silat Siliwangi atau bisa disebut iman, ilmu, dan amal.

“Melalui salat kita pertahankan kualitas keimanan kita atau hubungan kita dengan Tuhan. Melalui silat kita dapat membedakan baik dan buruk dan melalui Siliwangi atau Silih Wawangi kita mempertahankan hubungan kita dengan manusia lainnya. Dengan kata lain jika kita sebagai manusia memiliki sifat Solat, Silat, Siliwangi maka kita dapat menjadi manusia yang sesuai dengan fitrahnya menuju kebahagian lahir dan batin,” ungkap Dhita.

Beberapa contoh program yang dilakukan IMA AMS misalnya, program aksara Sunda yang berlangsung pada Maret hingga Mei lalu. Program ini kata Dhita bertujuan agar para pemuda di tanah Sunda yang sudah jarang mengerti atau mengenal aksara Sunda kembali memahami akar budayanya.

“Termasuk aksi yang kita lakukan untuk masyarakat adat di Cigugur, Kabupaten Kuningan, itu juga berlandaskan PAKUSARAKAN. Ada juga kegiatan rutin yang biasa kita lakukan setiap sebulan sekali yakni safari budaya dimana kita menginventarisir situs-situs peninggalan leluhur di Jawa Barat untuk mengujunginya,” papar Dhita.

Alumnus Universitas Padjajaran ini bercerita, Sunda baginya adalah sebuah tata cara berkehidupan atau sistem nilai yang hidup di masyarakat dan bukan hanya di Jawa Barat melainkan diseluruh dunia dengan bahasa dan nama yang berbeda-beda. Sistem nilai yang menurutnya lagi-lagi mengalami distorsi sejarah karena dikecilkan maknanya menjadi sekadar kesenian dan tari-tarian saja.

“Lebih dari itu pemaknaan Sunda bagi saya bukan hanya mengajarkan bagaimana menghargai perbedaan, akan tetapi Sunda sebagai sistem nilai mengajarkan saya bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat. Tidak hanya bagi manusia lainnya namun kepada seluruh mahluk ciptaan Gusti nu Maha Suci, melalui siloka siloka atau simbol-simbol yang mengandung makna untuk mengajarkan sistem nilai luhur mengenai bagaimana kita cerdas dalam kehidupan,” terangnya.

MASYARAKAT SUNDA WIWITAN
Kepada BIB, Dhita juga menceritakan polemik masyarakat adat Sunda Wiwitan yang belakangan ini ramai di media massa. Permasalahan ini menurutnya adalah akibat pengakuan sepihak dari pewaris pemangku adat yang mengaku memiliki sebagian tanah masyarakat di Cigugur, Kabupaten Kuningan. Polemik ini berlanjut sampai ke meja hijau dan dimenangkan oleh pihak yang mengaku sebagai pewaris tanah. Hal ini menurut Dhita telah menciptakan efek domino karena keputusan Pengadilan Negeri ialah mengeksekusi lahan menjadi objek sengketa.

Dhita Adhitia Husein, Pejuang Kebhinnekaan di Tanah Sunda

“Hal itu mendorong kami IMA AMS sebagai organisasi perjuangan yang berbasiskan budaya untuk melakukan advokasi terhadap mereka dengan turut serta melakukan pendampingan. Kemudian melakukan konsolidasi massa aksi bersama 36 Organisasi kemasyarakatan yang tergabung didalam Forum IMAH GEDE,” tuturnya.

IMAH GEDE adalah wadah berhimpun berbagai komponen organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, lembaga swadaya masyarakat yang dibentuk untuk merespon persoalan-persoalan yang terjadi di Jawa Barat. Khususnya yang berhubungan dengan adat dan budaya Sunda. Salah satunya seperti persoalan masyaratakat adat yang ada di Cigugur.

Melalui konsolidasi aksi massa tersebut dihasilkan satu kesepakatan bersama untuk melakukan pembelaan terhadap masyarakat adat Sunda Wiwitan. Pasalnya, putusan Pengadilan Negeri Kabupaten Kuningan dinilai cacat hukum dan tidak mencerminkan rasa keadilan. Menurut Dhita, seharusnya masyarakat adat berserta perangkatnya seharusnya memperoleh perlindungan dari negara yang dijamin oleh konstitusi UUD Tahun 1945.

Sebagai pemudi Jawa Barat yang bernaung dalam IMA AMS, dia dan kawan-kawannya mendorong advokasi dengan melakukan audiensi bersama pemerintah daerah terutama lembaga legislatif DPRD provinsi Jawa Barat. Adapun para pemuda-pemudi yang tergabung dalam IMAH GEDE memiliki misi yang sama yakni memperjuangan masyarakat adat.

“Namun karena tidak ada satu pun anggota DPRD Provinsi Jawa Barat yang menghadiri permohonan kami maka kamipun melakukan aksi demonstrasi massa besar-besaran di pusat pemerintahan Prov. Jawa Barat. Tepatnya di kota Bandung, yang dilanjutkan ke Pengadilan Tinggi Negeri untuk menghentikan eksekusi lahan objek sengketa.”

Para peserta aksi unjuk rasa masyarakat penghayat Sunda Wiwitan

Aksi demonstrasi massa besar-besaran pun dilakukan di Pengadilan Negeri Kabupaten Kuningan dengan jumlah massa lebih besar. Alhasil perjuangan IMA AMS dengan IMAH GEDE membuahkan hasil yaitu dihentikannya proses eksekusi lahan objek sengketa meskipun untuk waktu yang belum ditentukan.

Perempuan kelahiran 2 Mei 1990 ini berpendapat masalah tanah adat masyarakat Sunda Wiwitan menandakan kurangnya konsistensi negara dalam memberikan hak masyarakat adat Sunda di Jawa Barat. Dia pun menilai bahwa hal serupa tidak hanya terjadi di Jawa Barat, bahkan hal ini dirasakan oleh seluruh masyarakat adat di seluruh Indonesia.

“Sikap pemerintah yang kontradiktif dalam memberikan hak masyarakat adat untuk mendapatkan kartu identitas. Hanya karena agama yang dianut tidak sesuai dengan agama yang diakui oleh negara dan menyebabkan banyak masyarakat adat yang menjadi unregistered people. Masih banyak lagi kasus-kasus yang merugikan masyarakat adat yang kurang diperhatikan oleh negara,” ungkap Dhita.

Menurutnya, pendekatan yang paling memungkinkan untuk mengurangi kekisruhan ini adalah mengoptimalkan peran negara dalam memberikan hak yang sama kepada seluruh rakyat Indonesia. Hal ini sebenarnya sudah lama ada dan sudah dilindungi oleh konstitusi. Apabila tidak seperti itu menurut Dhita, masyarakat adat Sunda dan masyarakat ada lainnya akan semakin termarginalkan bahkan oleh negaranya sendiri yang seharusnya melindungi hak mereka.

KEPRIHATINAN INDONESIA SAAT INI
“Menurut saya salah satu upaya untuk memberikan masyarakat adat hak yang sama adalah dengan penghapusan kolom agama di KTP agar mereka dapat menjadi warga negara yang seutuhnya. Bagaimana bisa hidup di negara ini bila tidak ada KTP?” ungkapnya.

Dhita Adhitia Husein saat menjadi orator di aksi unjuk rasa penghayat Sunda Wiwitan

Pendapat itu kata Dhita berangkat dari salah satu penyebab kemenangan pihak yang mengaku pemilik lahan di tanah adat karena pengadilan tidak bisa mempercayai kesaksian pu’un atau kepala suku masyarakat adat Cigugur. Alasannya, kepala suku tidak bisa disumpah saat bersaksi karena negara hanya mengakui 6 agama saja.

Perempuan yang gemar berdiskusi ini berpandangan bahwa kekuatan Indonesia terletak pada keaslian budaya dan adat-istiadat setiap daerahnya. Kekuatan ini yang menurut Dhita akan mempersulit aksi-aksi radikalisme dan intoleransi pada perbedaan hingga melunturkan kebangsaan Indonesia.

“Budaya kita sudah tertanam dan leluhur kita bahkan sebelum Indonesia merdeka atau bahkan sebelum adanya kerajaan sudah hidup berdampingan dengan bermacam-macam jenis dan asal manusia.

Namun Dhita berpesan, apabila adat-istiadat Indonesia secara tidak disadari akhirnya tidak dijaga, mungkin saja hal-hal yang kini mengancam masyarakat adat datangnya bukan dari bangsa Indonesia. Melainkan dari kepentingan-kepentingan lain yang bukan berasal dari bangsa ini.

CITA-CITA UNTUK INDONESIA
“Momen yang membuat saya mencintai Indonesia adalah saat saya masuk kedalam IMA AMS dimana saya harus mulai mendalami budaya saya sendiri. Saat itulah saya menyadari bahwa Indonesia memiliki banyak budaya yang harus dipertahankan dengan sistem nilai dan substansi yang sama dengan yang saya miliki di Jawa Barat.”

Dhita yang awalnya cenderung tidak peduli dengan Indonesia setelah terlibat IMA AMS telah berubah 180 derajat. Dia pun ingin konsisten melestarian adat-istiadat dan budata Indonesia sembari menyebarkan semangat berkarya bagi para perempuan Sunda khususnya. Hal ini berangkat dari keyakinan Dhita bahwa kemajuan sebuah bangsa dapat diukur dari bagaimana masyarakat memperlakukan perempuan. Dia bercita-cita ingin memberikan teladan dan menanamkan jiwa nasionalisme atau cinta tanah air kepada para perempuan, khususnya perempuan-perempuan di tanah Sunda, tanah parahyangan.

“Mungkin inilah yang dimaksud oleh Soekarno bahwa nasionalisme berasal dari kecintaan kita terhadap budaya kita karena tanpa budaya tidak mungkin ada persatuan Indonesia.” (GFK)

 

BIODATA DHITA ADHITIA HUSEIN
– Nama Lengkap: Dhita Adhitia Husein
– TTL: Bandung, 2 Mei 1990
– Pendidikan
SMP: SMP BPI 1
SMA: SMA BPI 1
Perguruan Tinggi: S1 Universitas Padjadjaran
– Kegiatan saat Ini: Mahasiswi S2 Ilmu Politik Universitas Padjadjaran
– Hobi: mengobrol bahasa kerennya diskusi
– Buku dan Film Favorit: Becoming White, Marvell
– Tokoh Idola: Dewi Sartika, Rieke Diah pitaloka, Inggit Garnasih, Djadja Subagdja Husein
– Cita-cita: jadi manusia yang bermanfaat
– Motto Hidup/Quote Favorit:
​          Feminisme yang berlandaskan anti penjajahan
​          Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat.
Saya tidak percaya pada sesuatu yang mengharuskan saya membenci apapun
Money Will Never Impress Me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *