Jaringan Pegiat Literasi Digital (JAPELIDI) membagikan hasil penelitian tentang gerakan literasi digital di Indonesia yang menyatakan literasi digital harus diberikan dalam level keluarga, sekolah, dan negara.

Dalam rangka Hari Literasi Internasional 2017 bertema ‘Literasi dalam dunia digital”, JAPELIDI meluncurkan hasil penelitian dari 9 kota yakni; Yogyakarta, Salatiga, Semarang, Surakarta, Malang, Bandung, Banjarmasin, Bali, dan Jakarta. Penelitian ini telah dilakukan sejak April 2017 lalu dengan tujuan memetakan gerakan literasi digital yang telah ada di masyarakat beberapa tahun terakhir.

Koordinator penelitian JAPELIDI yang juga Ketua Program Studi S2 Ilmu Komunikasi UGM, Novi Kurnia mengatakan perkembangan teknologi dan media digital memberi banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Namun di sisi lain, Ketua Program Studi S2 Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada ini mengatakan kehadiran media digital telah membawa problema bagi masyarakat. Banyak orang yang dengan muda percaya pada informasi hoax, kemunculan cyberbullying, kasus pedofilia di media sosial, serta berbagai kasus ujaran kebencian.

“JAPELIDI menemukan setidaknya 338 kegiatan literasi digital di 9 kota tersebut. Ini adalah angka yang luar biasa sebagai gerakan untuk membuat warga lebih melek media digital,” ujar Novi melalui siaran pers, Minggu (10/9/2017).

Menurut Novi, para penggiat gerakan literasi digital tersebut masih didominasi oleh perguruan tinggi selain pemerintah daerah dan komunitas. Inisiatif-inisiatif dari masyarakat masih minim dibandingkan gerakan literasi dasar yaitu membaca.

Penelitian tersebut menyebutkan bahwa usia remaja atau pelajar, mahasiswa, masyarakat umum dan orang tua adalah target yang paling banyak disasar oleh gerakan-gerakan literasi digital. Anak muda dianggap penting sebagai target sasaran gerakan untuk bisa menjadi agen dalam gerakan literasi digital.

JAPELIDI menemukan bahwa ragam kegiatan yang dilakukan dalam gerakan literasi digital tersebut masih didominasi ceramah atau sosialisasi serta workshop dan pelatihan. Kegiatan ini masih menganggap bahwa pengguna media digital harus dilindungi dari pengaruh buruk media alih-alih pada pemanfaatan media sebagai bagian dari masyarakat digital.

Salah satu tim peneliti, Firly Annisa, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengatakan perlu inisiatif untuk memasukkan literasi media dan digital ke dalam kurikulum baku di perguruan
tinggi. Misalnya di Departemen Ilmu Komunikasi UGM, Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta, Prodi Ilmu Komunikasi UNRIYO, dan Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba.

“Secara umum, gerakan literasi digital di Indonesia bersifat sukarela, tidak terstruktur, insidental, sporadis, dan tidak kontinu. Peran pemerintah dalam gerakan ini juga belum terlihat. Contoh yang cukup baik adalah inisiatif dari Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah melakukan pelatihan untuk siswa dan guru terkait media digital,” jelas Firly.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, JAPELIDI merekomendasikan bahwa literasi digital harus diberikan dalam level keluarga, sekolah, dan negara.

Dyna Herlina, dosen Ilmu Komunikasi UNY menjelaskan bahwa pada level keluarga, orang tua harus menjadi contoh serta melibatkan anak sebagai partner dalam membuat kesepakatan-kesepakatan atas akses media digital.

Sementara pada level sekolah, harus ada perubahan ke arah pendidikan berbasis digital, yaitu murid dan guru adalah setara dan harus menguasai konten pembelajaran bersama.

“Selain itu, orang tua juga harus berkolaborasi dengan guru dalam pendidikan anak, serta penyediaan laboratorium media digital,” ungkap Dyna.

Pada level pemerintah, harus didorong transformasi digital dengan membangun
infrastruktur digital yang demokratis, memperkuat e-governance, serta memberdayakan warga negara sebagai bagian dari kewarganegaraan digital (digital citizenship).

Sebagai rangkaian dari konferensi pers ini, pada hari Selasa, 12 September 2017, akan diadakan konferensi nasional literasi digital di Ruang Ki Hadjar Dewantara, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta, pukul 08.00-17.00. Adapun para pembicara konferensi adalah Nukman Luthfie (pendiri literos.org), Dyna Herlina S. (Dosen Ilmu Komunikasi UNY), Drs. R. Kadarmanta Baskara A. (Kepala Dinas Pendidikan DIY) serta Tim Peneliti JAPELIDI.

Sebagai informasi, JAPELIDI adalah Jaringan Pegiat Literasi Digital yang saat ini beranggotakan 52 peneliti atau akademisi dari 25 perguruan tinggi di 9 kota di Indonesia yang sebagian besar adalah berlatar belakang Ilmu Komunikasi. Para peneliti telah melakukan penelitian, pengabdian, dan publikasi tentang literasi digital. (GFK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *