Akhirnya! Adik saya lulus juga dari sekolah bisnis termahal di Jabodetabek yang menjanjikan masa depan cerah tanpa bayang-bayang kemiskinan bagi mahasiswa dan mahasiswinya. Ada kisah yang panjang yang saya pelajari dari adik saya. Iya, saya mau cerita soal adik saya, jadi kita gausah tegang amat berpikir saya mau cerita soal PKI, Pancasila, Orde Baru, Antek Cina, dan lain sebagainya.

LULUS SMA

Well, adik saya dan saya, kami alumnus SMA yang sama, yakni sekolah khusus perempuan di bilangan Jakarta Selatan. Apalagi kalau bukan SMA Tarakanita 1 yang terkenal tukang party karena dulu keseringan bikin pentas seni alias pensi, tapi sebenarnya sukses menghasilkan cewek-cewek tangguh. Ini serius loh, berkat pentas seni membuat saya jago bergadang untuk jaga lilin (eh itu mah babi ngepet)! Bukan, maksud saya adalah saya jadi tahan bergadang untuk mengerjakan tugas. Saya juga pandai dengan alat-alat perkakas karena terbiasa memasang umbul-umbul saat acara, membersihkan toilet pengunjung, dan lain sebagainya.

Adik saya itu kalau dibandingkan saya sebenarnya lebih pintar saya (hahahaha hoax abis) tetapi kata orang Cina, adik saya itu banyak keberuntungannya. Buktinya, di antara sekian banyak perempuan di angkatannya, dia bisa menjadi orang pertama yang diterima di Universitas Swasta paling hits yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Prasetiya Mulya yang sekarang menjelma jadi Universitas Prasetiya Mulya. Padahal, saya tahu persis beberapa temannya juga ikut tes gelombang pertama dengan dia, tapi tidak ada satu orang pun yang lulus kecuali dia. Padahal lagi nih, dia juga tidak belajar sama sekali, atau tepatnya saya tidak pernah lihat dia belajar selain di sekolah sama les BTA. Contoh lain, waktu lulus SMA saya bisa tidak lulus PTN sama sekali. Benar-benar tidakberuntung, lah, adik saya lulus PTN yaitu Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin di Makassar. Tolong jangan ketawa, seorang Katolik bisa keterima di UIN, ini semata karena adik saya teledor mengklik universitas, harusnya Universitas Indonesia (UI) malah klik UIN.

BERSAING DENGAN KAUM CINA

Jujur saja, biaya kuliah di kampus Prasetiya Mulya BSD itu sama sekali tidak murah, untung saja loh adik saya lulus gelombang pertama jadi biaya masuknya masih murah. Bayangkan kalau adik saya lulusnya gelombang dua, atau tiga, mahalnya bakalan kayak apa tuh, yang mana ibarat sales sering berkata, “kalau gak sekarang harganya makin naik loh kak”. Alhasil, adik saya sudah diwanti-wanti sama bapak saya, ‘jangan main-main kuliahnya, disini kuliahnya mahal, banyak orang kaya-nya.” Lumayan juga sih beban moralnya kalau diingatkan orangtua.

Kebetulan, saya juga saat itu tengah menempuh kuliah tingkat akhir di Universitas Multimedia Nusantara, lokasinya masih di sekitaran Serpong juga. Cuma beda kastanya aja, soalnya kampus saya biaya kuliah saya masih jauh lebih murah daripada adik saya. Ibaratnya saya proletar banget, dia borjuis banget.

Well, kampus saya dan kampus adik saya juga sangat berbeda kulturnya. Menurut adik saya, masyarakat di Prasetiya Mulya 95% adalah orang-orang dari etnis Cina. Kalau masyarakat di UMN cukup pluralislah, ada yang Cina meski gak terlalu mendominasi kayak di Prasetiya Mulya. Nah! Ternyata kondisi ini membawa dampak psikologis bagi adik saya. Entah mengapa pada awal masuk kuliah, adik saya selalu mengeluhkan teman-teman di kampusnya.

“Duh kak! Nggak asik, nggak kayak teman-teman Tarki kak!” katanya. Usut punya usut, dia merasakan adanya diskriminasi sebagai pribumi di kalangan mayoritas Cina. Sampai-sampai, adik saya dan beberapa temannya yang juga pribumi, membuat grup bernama Geng Revolusi. Isi grup adalah semua orang pribumi yang ingin bersaing secara adil dan bertahan dalam kancah persaingan pendidikan. Selain itu Geng Revolusi itu memiliki agenda politis harus bisa menduduki jabatan-jabatan strategis organisasi di kampus,

Adik saya juga pada awalnya sering mengeluarkan kata-kata “Dasar Cina!”. Menurut dia, orang Cina itu ambisius, eksklusif, dan sulit berkomunikasi. “Orang Cina tuh ya Kak, buset, jangan disuruh ngomong jadi public speaker deh. Gak mampu, suruh ngurus duit dan dagang aja sudah  bener,” ujarnya. Beberapa kali saya tertawa dengan ujarannya, itu bukan ujaran kebencian loh, itu curhatan. Saya juga sesekali mengingatkan, “Jangan rasis lu. Ntar jodoh lu orang Cina baru tahu rasa lu.”

Lagi-lagi memang pada dasarnya hokinya adik saya itu gede, dia juga dijebloskan pada kelas-kelas anak pintar, kelas A atau B, yang mana dalam satu kelas isi pribuminya cuma 2-4 orang saja. Adapun perempuan pribumi dalam kelas itu hanya adik saya dan dua orang temannya. Kata adik saya, perempuan-perempuan dalam kelas adik saya  -yang mana adalah Cina semua- tidak mau mengajak main adik saya, mereka sering nongkrong-nongkrong ke mal atau coffee-coffee shop dan upload di instagram biar artsy-artsy begitu. Nah, dua teman adik saya ini baper dan lapor ke adik saya karena mereka doang yang tidak diajak. Memang dasar anak Tarakanita, mentalnya baja, adik saya cuek saja, soalnya dia sendiri sudah punya Geng Revolusi jadi gak mau merasa terkucilkan. Hingga suatu kali si geng cewek-cewek itu malah melihat upload-an instagram adik saya yang gak kalah gaul di salah satu coffee shop bilangan Jakarta Selatan. Jelas dong postingan adik saya artsy sekali, dan sukses membuat cewek-cewek yang mengucilkan adik saya malah nanya, “Eh itu coffee shop dimana sih?” lalu jawab adik saya, “Disini *** (kita sensor karena bukan sponsor tulisan ini)*** Kenapa? Mau kesana ya? Weee dasar norak lo, udah sering gue mah kesana,” jawab adik saya dengan gayanya yang songong lalu ngeloyor pergi. Bisa dibayangkan betapa malunya para cewek itu telah diintimidasi pribumi, alumni Tarki lagi.

Ternyata Geng Revolusi bentukan adik saya dan kelompok pribumi kelas tiga ini membuahkan hasil juga. Adik saya dan beberapa teman pribuminya dari SMA Pangudi Luhur, SMA Al-Izhar, SMA Al-Azhar, SMA De Britto, dan lainnya, masuk ke Student Board, yang setara dengan Senat Mahasiswa atau Badan Eksekutif Mahasiswa. Adik saya jabatannya Humas kalau gak salah. Benar kata dia, mending gue aja -pribumi- yang jadi public speaker, yang Cina urus dagang saja. Oh ya, dan kalau tak salah Ketua Student Boardnya juga akhirnya terpilih si anak De Britto dari Jogja itu.

Singkat cerita adik saya sukses menjadi kids eksis di kampusnya. Doi juga terkenal tangguh karena jago bawa mobil antar kota antar provinsi -rumah saya Jatiasih, perbatasan Bekasi dan Bogor, kampusnya di Serpong-. Meskipun telah meraih banyak kesuksesan bin keeksisan, adik saya masih kerap mengeluhkan pergaulan di kalangan teman-temannya. Suatu kali, dia berkata kepada bapak saya, dia mau pindah kelas, kalu tak salah kelas D dan E. Kata dia, di kelas itu banyak orang pribuminya, sementara selama ini dia masuk kelas A-B-C yang mana banyak orang Cinanya.

“Pak, kalau aku masuk kelas itu nilai aku pas di rata-rata Pak. Susah dapat ranking, justru kalau masuk kelas yang banyak pribuminya, aku bisa juara Pak,” ucap adikku setengah merengek memohon restu.

“Nggak. Nggak boleh, itu namanya downgrade. Masak sudah masuk kelas anak berprestasi turun, itu namanya penurunan.”

“Iya tapi susah Pak itu Cina ambisius semua. Ih sebel banget gue!”

Well, pada akhirnya bapak saya tidak mengizinkan. Sebab bapak saya percaya, sekolah dimana mayoritas muridnya itu Cina pasti sekolahnya orang-orang pintar. Dia sepertinya penganut mahzab ‘Tuntutlah Ilmu Sampai ke Cina’ yang kadang saya bercandain, “Ya orang Cinanya aja pada berguru di Prasetiya Mulya sama Binus.”

Jadi, adik saya tetap bertahan di kelas yang isinya mayoritas Cina dengan memegang keyakinan bapak saya, kalau bergaul sama orang Cina bisa belajar kompetitif. Pada akhirnya adik saya menjalani hari-hari dengan lebih santai terutama setelah bertemu sesama teman-teman perempuan pribumi yang bermental baja, geng yang kalau posting foto di instagram hashtagnya #happypills.

BERDAMAI DENGAN CINA

Dua tahun berlalu, adik saya sudah berdamai dengan keadaan. Hal ini terbukti dengan berubahnya perspektif dia soal orang Cina. Suatu kali dia bercerita kepada saya.

“Memang susah deh Kak ngurusin pribumi nih.”

“Loh kenapa?”

“Nih ya kak. Sekarang gue mengerti kenapa orang pribumi kalah sama Cina. Contoh sederhana saja, kalau tugas kelompok gue sama anak-anak pribumi. Misal tugas dikumpulin bulan depan, itu sebulan pada leha-leha tuh, nanti pas H-2, H-1 baru pada sibuk ngerjain tugas. Lah Cina? Sejak tugas dikasih dosen langsung dikerjain, jadi pas kita yang pribumi sibuk ngerjain, mereka dah selesai, dah leha-leha. Makanya kak, gue paling males kalau ada mata tugas berat macam finance gitu, terus gue harus sekelompok sama pribumi. Mending gue sekelompok sama yang Cina biar langsung kelar. Kalau tugas yang gampang-gampang baru dah sama pribumi,” tuturnya.

Spontan saya tertawa terbahak-bahak mendengar rentetan curhatan adik saya. Ternyata dua tahun ini dia telah belajar banyak, dan telah terjadi pergeseran perspektif dari yang awalnya sebal dengan Cina menjadi bersahabat dengan Cina. Dia mulai melihat adanya sisi-sisi lain orang Cina yang harus diteladani. Saya pun berusaha menjelaskan kepada dia, biasanya spirit bekerja keras adalah spirit minoritas. Orang Cina itu terbiasa selain katanya memang terlahir sebagai pedagang, mereka terbiasa menjadi minoritas di Indonesia. Mau tak mau, mereka harus bertahan hidup dengan berbagai cara, dan cara yang paling memungkinkan adalah dengan berdagang atau penguasaan modal.

“Makanya, jadi minoritas ya sebaiknya bermental kayak orang Cina, pantang menyerah,” ujar saya.

“Iya kak. Wah udah deh nih emang kadang ngeselin sih yang pribumi nih.”

Dari pengamatan saya, adik saya pun tetap bergaul lebih banyak dengan geng #happypills dan Geng Revolusi itu. Dia tak memiliki banyak teman orang Cina sekalipun orang Cina paling banyak di kampusnya. Mungkin permasalahannya masih sama, eksklusivisme. Entah kawan-kawan Cina yang eksklusif, atau adik saya yang eksklusif. Saya juga tak mau menghakimi salah satunya ataupun menduga-duga, biarlah itu menjadi refleksi adik saya, teman-temannya, dan juga kamu yang kebetulan masih betah membaca sampai kalimat ini.

Adik saya kembali dipilih oleh dosennya menjadi CEO, sejenis manajer tim untuk tugas akhir. Kalau di Prasetiya Mulya jurusan Bisnis itu tugas akhirnya ya harus membuat Bisnis, sehingga tugas akhirnya sifatnya adalah kelompok. Kalau ada satu yang salah dalam sidang, maka yang akan diluluskan adalah si anggota perusahaan plus CEO-nya. Jadi, CEO bertanggung jawab penuh atas semua orang dalam tim. Kebetulan komposisi tim adik saya ada yang Cina satu orang, dia bertugas untuk Keuangan. Kebetulan, anak itu adalah anak perempuan paling pintar di kampus, dapat beasiswa. Sisanya adalah anak-anak pribumi, termasuk adik saya. Salah satunya bahkan anak SMA Pangudi Luhur Brawijaya, cs-an Tarki Pulo Raya. Who is the boss? Still my sister dong, hahaha anak PL itu Cuma jadi bagian marketing, hahaha! #TheFutureIsFemale kalau hashtag adik saya. Hari-hari dilalui dengan cukup menegangkan, terutama antara adik saya dengan si anak PL. Padahal mereka sahabatan, ternyata urusan beginian memang agak runyam melampaui janji persahabatan. Sebaliknya, yang anak Cina ini justru sangat menjadi andalan adik saya.

“Gue tuh lemah banget kak urusan Finance. Untung ada si Sasa otaknya encer,” kata adik saya.

Tibalah detik-detik persidangan. Adik saya agak shock karena dua temannya (termasuk anak yang Cina itu) keluar ruang sidang menangis. Berbeda dengan adik saya, dia masuk ruang sidang percaya diri, tetap kekeuh dan mengeluarkan semua yang dia pelajari dengan tenang di hadapan penguji. Dua lelaki lain dalam tim juga keluar dari ruang sidang dengan wajah pesimis tidak akan lulus.

Saat pengeksekusian, anak-anak itu menangis kecuali adik saya dan si anak PL. Adik saya hanya membatin di tengah gejolak deg-degannya, “Gila lu Bel, anak Tarki urusan mental jangan malu-maluin. Jangan nangis!”

“Bella, jadi siapa yang layak untuk tidak diluluskan. Kamu CEO harus pilih,” kata si dosen penguji.

“Menurut saya, kami sudah berproses bersama. Sekalipun belum memenuhi target kami semua layak diluluskan,” jawab adik saya. Sempat melongo juga saya dengarnya, tumben dia bijaksana. Padahal dia menyimpan dendam kesumat sama si anak PL yang menurut dia harusnya tidak lulus saja soalnya performanya dalam tim sungguh buruk.

Akhir cerita ini adalah adik saya lulus dengan teman-temannya tidak ada satu pun yang tercecer, YES!!! Nah, entah mengapa cerita-cerita dari adik saya ini benar-benar menginspirasi saya. Bayangkan, dia yang awalnya bete dengan orang Cina bisa berdamai dan lulus dengan hasil yang memuaskan. Dia membuktikan bahwa manusia belajar dari pengalaman, bukan semata percaya pada stigma. Dia juga menjadi role model kids zaman now yang bisa belajar kritis merespon lingkungan di sekitarnya, bahwa bersahabat dengan siapapun itu penting tanpa memandang SARA. Lihatlah seseorang sesuai kemampuannya, bukan dari latar belakangnya semata. Yang bernilai dari dirimu adalah apa yang bisa kamu lakukan bagi sesamamu, apa yang bisa kamu pelajari dari orang lain.

Yuk, gausah rasis ah. Bangga dengan diri sendiri boleh, asal jangan lebay, sebab kita membutuhkan satu sama lain. JOSS!

PS: Tulisan ini jangan dibaca dengan tegang ya, jika ada yang menyinggung mohon dimaafkan, karena itu tidak disengaja, biar lucu saja, indahnya persaudaraan hehehe!

 

Penulis adalah Gloria Fransisca Katharina Lawi. Jurnalis perempuan asal Indonesia yang masih belajar menjadi jurnalis, belajar menjadi perempuan, dan belajar menjadi Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *