Ketika pelajar lain merasa bosan tiap dapat pelajaran Sejarah di kelas karena itu artinya mereka harus menghafalkab tanggal, peristiwa, dan hal-hal menjemukan, Fadhil Nugroho Adi tidak mengeluh. Ketertarikanya pada sejarah tumbuh sejak kecil. Saat duduk di bangku SD, ia mulai membaca komik Bharatayudha, yang ia pinjam dari guru agama Hindu di sekolah. Sudah lahap membaca, kini Fadhil juga aktif menulis.

Fadhil Nugroho Adi

Tahun 2013 lalu, lelaki kelahiran Semarang ini juga turut mewakili Indonesia sebagai ketua delegasi pada acara Trip to Historical Site ASEAN di Surabaya. Forum besutan ASEAN Unity ini digagas untuk menyambut Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). Trip to Historical Site ingin menyatukan negara-negara Asia Tenggara lewat pendekatan sejarah. Bersama delegasi negara lain, Fadhil mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Surabaya. “Kami jalan-jalan ke situs-situs peninggalan Majapahit di Mojokerto, masjid pertama di Surabaya, Sunan Ampel. Ke kelenteng juga, Dan berdiskusi tentang keberagaman, misalnya kenapa orang Islam perempuan pakai kerudung? Kenapa juga ada yang nggak pakai?”

Bagi Fadhil, hidup berbeda adalah suatu yang lumrah. “Perbedaan itu wajar. Asal disikapi dengan bijak. Nggak usah jauh-jauh; Islam aja banyak yang beda, kok. Ada yang salatnya begini, begitu.”

Ingin tahu yang lebih seru? Yuk simak obrolan BIB dengan Fadhil!

*

 Kenapa mau belajar sejarah? Padahal kan untuk sebagian anak muda bisa jadi belajar sejarah itu melelahkan, nggak penting?

Kalau aku, karena sejak dulu dijejali pelajaran yang aku nggak suka, kayak matematika, fisika, kimia. Ketika aku kuliah, aku berpikir, kenapa harus bertahan dengan pelajaran yang nggak aku sukai? Aku pengen kembali ke yang aku suka. Aku sukanya sejarah, seni, budaya. Dari kecil sudah tertarik dengan candi, detail arca. Jadi kuliah ambil jurusan Sejarah.

 

Apa serunya belajar sejarah?

Jadi tahu, “Oh dulu tuh pernah begitu ya, pantes sekarang kok begini.” Misal, peradilan sekarang itu kok bobrok, sih? Kok hukum itu tajam ke bawah tumpul ke atas? Oh, ternyata dari zaman Batavia dulu sudah kayak gitu. Dari zaman Daendels.

 

Apa pentingnya tahu itu?

Pentingnya tahu sejarah adalah agar tidak salah melangkah. Kalau menurutku, supaya ketika someday kita jadi pengambil kebijakan tertentu, kita bisa lihat dulu tuh di belakang ada apa, sih. Supaya nggak keulang lagi di zaman sekarang. Kayak korupsi, itu dari zaman Mataram Kuno sudah ada, lho. Tapi kok masih ada.

 

Berarti kita nggak ada perubahan, ya?

Sejarah itu berulang. Tapi dengan bentuk berbeda. Pola sama, bentuk berbeda. Maka itulah kita kalau di dalam Al-Qur’an itu, surat Yusuf ayat 111 misalnya, kita disuruh mengambil ibroh atau pelajaran dari kisah-kisah terdahulu. Banyak banget ayat Qur’an yang menyuruh kita “pelajarilah kisah terdahulu”, bahwa dulu sudah pernah terjadi pada umat sebelumnya. Maka ambillah pelajaran.

 

Kalau dari sisi kamu sebagai mahasiswa sejarah, apa yang membuatmu berpikir bahwa kebhinnekaan harus dibumikan?

Sebetulnya kata-kata dari kitab Sutasoma itu berasal dari “bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”, dari bahasa Sansekerta. Awalnya, zaman Majapahit dulu kan ada Buddha, Hindu, nah supaya tetap menyatukan itu maka keluarlah konsep “bhinneka”. Itu akhirnya diadopsi sama Indonesia menjadi semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu. Intinya kan itu. Kenapa harus dibumikan? Karena secara sejarah, Indonesia itu nggak satu unsur doang. Indonesia dari dulu kan ada Portugis, Belanda, Arab, Gujarat. Di Semarang aja ada kampung-kampung khas ras tertentu, ada Pekojan, Pecinan, dan lainnya, sebagai tanda kebudayaan yang beragam. Bahasa kita juga bukan pure bahasa Indonesia. Pit, misalnya itu dari bahasa Belanda.

 

Pit padahal kita tahunya bahasa Jawa, ya? Artinya sepeda?

Iya, itu bahasa Jawa yang diadaptasi. Ada juga kan nama daerah di Semarang itu “Pendrikan”, kata itu dari “Van Hendrik Land”, tanahnya Van Hendrik. Jadi kita itu terbentuk dari banyak unsur yang kita sebetulnya jangan ditekan, toh kita selama ini nyaman-nyaman aja.

 

Tapi ada kelompok yang pengen kita semua sama.

Itu menurutku… tidak relevan. Ada kelompok yang memang ngebet menjadikan satu ideologi tertentu di Indonesia. Itu jangan sampai, lah.

 

Menodai perjuangan pahlawan kita, nggak sih?

Iya sekali.

 

Tentang buku “Membumikan Kebhinnekaan Nusantara” karya ketiga kamu yang bakal rilis, boleh cerita nggak isinya tentang apa?

Dulu aku pernah bikin makalah untuk event-nya MPR, tahun 2012, tapi nggak terpilih di lomba. Itu tentang mempersatukan Indonesia dalam bingkai kebhinnekaan. Buku itu menekankan bahwa Indonesia nggak terbentuk dari satu unsur saja. Indonesia itu melting pot, tempat peleburan banyak unsur. Otomatis sebenarnya nggak perlu lah kita berantem karena perbedaan, karena dari awal kita memang sudah berbeda. Kenapa malah diperuncing? Ditulis juga di buku itu tentang multikulturalisme, pluralisme, serta cara dari pakar-pakar seperti Palapa dan Tilaar merumuskan teknik yang bisa digunakan pemerintah atau masyarakat biasa pun juga bisa, untuk mempersatukan masyarakat Indonesia supaya kebhinnekaan nggak luntur.

 

Teknik apa yang dipakai, misalnya?

Misal, pemerataan ekonomi. Seharusnya denyut ekonomi jangan terpusat di Jawa doang. Indonesia itu luas, Sabang sampai Merauke.

 

Kondisi ekonomi itu ngaruh, ya?

Ngaruh ternyata. Aku kemarin datang ke diskusi laporan kebebasan beragama di Jawa Tengah, awal tahun 2017. Ternyata, konflik seperti serangan ke Ahmadiyah, atau Syiah, atau agama lain, itu bisa dibilang nggak mungkin hanya karena perbedaan teologi, beda pandangan agama, itu nggak mungkin. Perbedaan itu tidak sepenuhnya ngaruh sampai gontok-gontokan, wong kita dari dulu juga nggak masalah. Ternyata salah satu yang bikin ada gap itu adalah ekonomi.

 

Jadi, uang mampu memperalat manusia?

Iya, ternyata itu ngaruh. Ada semacam ketimpangan. Lihatlah SARACEN itu, mereka bahkan menyebut anggotanya sebagai “wartawan” juga, lho. Dengan segitu banyak akun, penghasilan puluhan juta. Itu jadi tempat mencari nafkah. Mereka tahu konten itu banyak yang nge-klik dan suka. Makanya dibuat. Makanya jadi uang.

 

Selain ekonomi?

Teknik lain tentu pendidikan. Pendidikan untuk anak-anak, sejak dini mereka dikenalkan tentang mencintai perbedaan. Itu penting, karena ibaratnya, sesama Muslim aja gampang untuk saling menyalahkan. Harusnya perbedaan seperti itu jangan diperuncing. Maka lewat pedidikanlah salah satunya, agar anak-anak tahu bahwa manusia memang punya beda pandangan, dan sebaiknya tidak memaksakan kehendak, itu yang paling penting.

 

Beberapa kejadian seperti rentetan demo dan aksi belum lama ini, somehow menjadikan perbedaan semakin mencolok. Menurutmu gimana harusnya anak muda di era ini menghadapi perbedaan saat mereka bergaul?

Caranya: rendah hati. Jangan merasa “paling”. Aku sampai sekarang dengan teman yang Kristen banyak. Eyangku biarawati. Ibunya Mama punya adik, jadi biarawati. Anaknya buyutku tiga Katolik, satunya jadi biarawati.

 

Pernah ada masalah?

Nggak. Baik-baik aja. Karena kita berendah hati.

 

Kamu pernah mempertanyakan kenapa kok beda?

Pernah. Pakdeku kan Kristen. Aku tanya ke Eyangku, “Kok bisa ada agamanya yang lain? Kan Eyang Islam?” Nah itu, anak-anak muda jangan mengedepankan ego. Sadarlah bahwa Allah menciptakan banyak makhluk. Kalaupun mereka memilih agama lain, silakan. Daya pikir itu masing-masing, berbeda-beda, tidak perlu menyalahkan atau terang-terangan mengkafirkan.

 

Menurutmu toleransi itu harus gimana?

Toleransi itu menurutku adalah ketika kita mempersilakan orang lain beribadah sesuai keyakinannya, ketika kita tidak mengusik keyakinan mereka, mereka bebas menjalankan aktivitas beragama apa pun, itu toleransi. Toleransi bukan “kita itu sama.” Mungkin bagi sebagian kalangan begitu, tapi menurutku nggak, ya. Karena masing-masing kita memiliki subjektivitas terhadap keyakinan. Semua akan merasa dirinya paling benar.

 

Berarti, toleransi ada batasnya?

Gini, gini. Kalau dalam Islam kan ada habluminannas dan habluminallah. Selama tidak melanggar habluminallah, oke aja menurutku. Selama toleransi itu tidak berkembang menjadi intervensi, itu nggak masalah. Contoh, intervensi adalah ketika dia memaksa kita masuk agamanya. Tapi di luar itu nggak masalah.

 

Perpaduan agama dan budaya menurutmu gimana? Di Islam, budaya dan agama sering berbenturan bahkan di beberapa hal muncullah tudingan bid’ah.

Budaya itu kan suatu hasil konsesus, kesepakatan tidak tertulis. Hasil rasa, cipta, karsa masyarakat. Budaya punya tujuh unsur, antara lain ada tradisi, seni, adat, ada religi juga. Dalam perkembangannya, masuknya Islam ke Indonesia sendiri lekat dengan kearifan lokal budaya setempat. Tapi memang harus hati-hati, jika tradisi budaya itu bersinggungan dengan agama. Kita tetap harus pakai akal. Jika tidak masu akal, ya tinggal. Budaya bisa dimanfaatkan untuk memperkenalkan agama. Misal, di Jawa mungkin dakwahnya nggak bisa mengentak-entak karena khas karakter orang Jawa itu halus, maka pakai cara yang halus. Itu kan juga bagian dari budaya. Asal jangan mengubah yang sudah dipakemkan dalam agama itu sendiri. Ada kan terjemahan Al-Qur’an bahasa Jawa, asal tidak menjadikan huruf Arabnya jadi catatan pinggir.

Pertahankan keberagaman. Karena memang inilah Indonesia. Yang punya sukunya nggak cuma satu. Bahasa daerah banyak. Kepercayaannya banyak. Tapi tetap rukun, tenang. Jangan gampang disulut. Indonesia yang sekarang ini bukan sekadar fondasi atau lantai satu. Indonesia ibaratnya sudah jadi bangunan megah, berlantai 72. Kokoh. Jangan diguncang-guncang. Mungkin karena kita disulut apa pun enggak mempan, akhirnya disulut pakai agama. Karena kita sensitif. Apalagi, agama featuring ekonomi.

 

Tapi misalnya ketika ada kasus pelecehan agama, nih. Ada yang, katakanlah dianggap menghina? Kita harus gimana? Marah?

Dalam hal apa dulu? Misalnya Islam diejek blablabla, itu kan ejekan, cemoohan tidak berdasar, jadi tidak perlu direspon berlebihan. Tapi kalau yang mengkritik itu mengkaji secara ilmiah, ilmu, tidak masalah. Itu bukan pelecehan, tapi pembelajaran. Tapi kalau cemoohan seperti tadi ya itu pelecehan. Kalau hukum mau berbicara juga silakan, tapi ada baiknya didekati dengan persuasif dulu, baik-baik dulu.

 

Inasshabihah (BIB)

 

*

BIODATA FADHIL NUGROHO ADI

Nama: Fadhil Nugroho Adi

Pendidikan: S-1 Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro Semarang (2014)

 

Prestasi:

  1. Peringkat Dua dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang (2011)
  2. Peringkat Top 10 dalam Lomba Karya Tulis Sejarah pada Pekan Nasional Cinta Sejarah (PENTAS) Pontianak, Kalimantan Barat. Diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Sejarah dan Nilai Budaya (2013)
  3. Ketua Delegasi Indonesia dalam Forum Trip to Historical Site for ASEAN Unity bersama negara-negara Asia Tenggara (2013)
  4. Duta Museum Jawa Tengah 2014-2016
  5. Top 200 Pemilihan Duta Muda ASEAN-Indonesia 2017

Karya:

  1. Pemuatan cerita pendek “Seruak Linangan Malam” dalam Antologi Cerita Hujan (2011).
  2. Pemuatan cerita pendek “Bulan Bersemi di Senja Sobokartti” dalam Antologi Cerita Semarang (2012).
  3. Tim translator script RRI Semarang untuk Asian Broadcasting Unit (ABU) Prizes 2014 dan 2015.
  4. Editor berita aktual dan penanggungjawab kanal non-aktual suaramerdeka.com – 2014-2017.
  5. Editor untuk disertasi “Sejarah Jalan Raya di Pantai Utara Jawa Tengah Abad XX ( Tahun 1900-1990-an)” (tulisan Dr. Endah Sri Hartatik, M.Hum) (2016).
  6. Anggota dari penulis blog Atelier des Medias Radio France Internationale, Perancis (2016-sekarang).
  7. Editor untuk buku “Sejarah Sosial Ekonomi Pantai Utara Jawa: Komoditas Ekonomi Pekalongan pada Masa Kolonial Belanda” (tulisan Prof. Dr. Wasino) (2017).
  8. Buku “Bayang yang Membias: Keterlibatan Dalang dalam Propaganda Orde Baru di Kota Semarang 1986-1998”, diterbitkan oleh nulisbuku.com (2017)
  9. Buku “Bunga Rampai Sejarah Nusantara”, diterbitkan oleh Alra Media, Banjarmasin (2017)
  10. Anggota dari klub penulis internasional Inkitt yang berbasis di Hamburg, Jerman (2017-sekarang).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *