Hari ini kita memperingati Sumpah Pemuda; 28 Oktober. Banyak cara untuk melakukan selebrasi dan terutama peringatan terhadap momentum tersebut. Saya katakan “terutama peringatan”, sebab momentum 28 Oktober adalah sebuah kesempatan yang baik bukan hanya untuk merayakan apa yang menjadi sumpah kita bersama, tetapi lebih-lebih mengingat dan memperdalam kembali semangat dari sumpah tersebut. Beberapa orang muda zaman ini merayakannya dengan mengunjungi tempat-tempat historis terkait Sumpah Pemuda, sebut saja Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat. Yang lain merayakannya dengan membuat animasi kreatif untuk menggugah semangat orang muda untuk tidak apatis dengan sejarah bangsanya. Saya juga mau turut serta. Saya mengambil jalan yang lain, yakni menulis. Saya ingin menuliskan tentang satu bagian dari Sumpah Pemuda, yakni bahasa.

Bercakap-cakap dengan Teman

Saya punya satu teman dekat. Kami belajar di tempat yang sama. Ia orang Thailand, namanya Sakda Meedchawdoy. Bagi saya, ia adalah sosok teladan yang baik. Mengapa demikian? Ia selalu berusaha memahami bahasa apa yang saya gunakan. Ia sudah lancar berbahasa Indonesia, tetapi kerap kali tanpa sadar saya menggunakan bahasa Jawa dalam keseharian saya. Kalau sudah demikian, dia akan ikut-ikutan menggunakan bahasa yang saya gunakan meskipun salah di sana-sini. Dalam email yang dikirimnya, ia akan menulis, “Maturnuwon, Gus.” Kali lain dia akan bilang, “Opo meneh.”

Hal di atas tentu masih dilengkapi dengan pelbagai kata kasar atau pisuhan yang sudah mahir ia kuasai. Tidak perlu saya sebutkan lengkap di sini. Nanti tulisan ini jadi saru. Ya, mau gimana lagi, kadang belajar bahasa itu paling mudah dimulai dengan kata-kata kasar ya to?

Situasi sebagai “seorang Sakda” pernah juga saya rasakan ketika saya memilih untuk sekolah di Jawa Tengah. Saya lahir dan besar di Jakarta dengan orang tua asli dari Jawa Tengah. Mereka kerap menggunakan bahasa Jawa di rumah, tetapi ketika kecil saya tidak betul-betul dapat paham apa yang mereka katakan. Momentum sekolah di Jawa Tengah menjadi sebuah momentum yang baik untuk belajar bahasa Jawa.

Ketika saya mulai masa persekolahan saya, ternyata saya menemukan fakta yang baru. Sekolah saya tidak hanya dihuni oleh mereka yang mampu berbahasa Jawa saja, melainkan juga ada yang berbahasa suku lain. Sebut saja, bahasa Sunda, bahasa Flores, bahasa Jambi, dsb. Alih-alih mengalami culture shock, saya malah senang mengenal dan belajar pelbagai bahasa itu.

Cinta yang Tidak Posesif

Sub judul di atas tidak saya maksudkan untuk mengarah pada ranah romantisme khas anak muda. Tidak sama sekali. Saya hanya ingin bermaksud begini: Ketika saya jatuh cinta dengan bahasa yang sangat akrab dengan diri saya, hal tersebut tidak lantas menutup diri saya untuk terbuka pada yang lain. Semakin cinta saya dengan bahasa lokal saya, semakin saya yakin bahwa ia mengalir dalam darah saya dan tidak perlu takut “terkontaminasi” yang lain. Atas dasar itulah saya berani berjumpa dengan mereka yang berbahasa lain.

Mereka yang “alergi” dengan bahasa lokal yang lain dalam titik tertentu perlu bertanya, sungguhkah saya nyaman dengan diri saya sendiri? Bagi saya, hal itu penting.

Para pemuda yang akhirnya mencetuskan Sumpah Pemuda 1928, saya pikir, pertama-tama tentu sangat mencintai bahasanya sendiri. Mereka mencintai bahasa Jawa, mereka mencintai bahasa Batak, dsb. Meski demikian, mereka berani berjumpa dengan pemuda-pemudi yang berbahasa lokal lain. Mereka tidak takut “terkontaminasi” yang lain. Mereka tidak menganggap bahwa yang lain adalah ancaman. Untuk itulah, mereka kemudian berani berjumpa.

Puncak dari perjumpaan ini tidak lain adalah sebuah kesadaran bersama bahwa benar mereka tumbuh besar dalam bahasa lokal masing-masing. Akan tetapi, benar pula bahwa mereka diikat menjadi satu oleh kebenaran yang lebih besar, yakni bahwa mereka dipersatukan oleh bahasa Indonesia. Dengan demikian, mereka tidak mengingkari identitas lokal dan sekaligus tidak mengingkari identitas bersama.

Kesadaran akan bahasa yang sama menjadi puncak permenungan bahwa di dalam perbedaan, mereka itu satu. Maka, lantas mereka dengan berani bersumpah, “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.

Tidak Mampu Dipisahkan

Refleksi, atau mungkin argumentasi, akhir saya demikian: Bahasa lokal dan bahasa nasional tidak mampu dipisahkan. Keduanya membentuk pemuda dan pemudi, segenap masyarakat Indonesia, menjadi seorang manusia Indonesia yang utuh.

Memberi ruang tumbuh bagi bahasa lokal merupakan sesuatu yang sangat baik untuk dilakukan. Selain melestarikan bahasa lokal Indonesia yang begitu banyak, ruang tumbuh ini tentu juga akan menjadi ruang berjumpa yang baik. Pemuda dan pemudi berjumpa dan merasakan betapa indah ragam bahasa lokal yang begitu berlainan. Orang Indonesia harus bangga bahwa mereka mampu mengatakan, “Aku cinta Indonesia” dalam pelbagai bahasa lokal yang membentuk satu makna yang sama.

Kesadaran akan ruang tumbuh tadi tentu dibarengi dengan kesadaran komunikasi sebagai satu bangsa yang sama, yakni bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia, sekali lagi, menjadi sebuah media bagiku untuk menyadari bahwa di dalam “keberbedaanku” dengan yang lain, aku itu satu dan sama dengan yang lain. Maka, saya sendiri sebagai orang Indonesia tidak bangga dengan mengatakan “hanya ada satu bahasa di Indonesia”, melainkan “ada beragam bahasa di Indonesia dan kami disatukan oleh bahasa yang sama, yakni bahasa Indonesia”.

***

Saya jadi ingat. Suatu kali, dalam masa orientasi, seorang adik kelas mengirimi saya surat. Bagi saya, dia termasuk seorang adik kelas yang cantik. Tidak banyak bicara, tetapi sekali tersenyum, luluh lantak ketar-ketir kamu dibuatnya. Dia menulis, “Aku tresna marang sliramu, Mas”. Saya yang saat itu masih belum lancar sekali berbahasa Jawa bertanya kepada teman saya yang tahu artinya. Setelah tahu artinya, saya langsung semangat bersekolah. Luar biasa. Saya jadi pingin belajar bahasa Jawa. Bukan apa-apa sih. Maksudnya , tidak lain supaya saya bisa mendekati si-adik-kelas-senyum-super-manis ini. Betapa bahasa itu rasanya menyentuh hati. Semuanya berubah setelah saya tahu bahwa ia menulis demikian, karena disuruh oleh teman saya, kakak kelasnya. Sial. Gagal deh rencana saya. Apa boleh buat. Ya, romantisme anak muda. Boleh lah sekali-sekali.

 

Paulus Bagus Sugiyono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *