“Belum kenyang nih kalau belum makan nasi!”
Sering dengar ucapan sejenis itu, Sobat BIB?
Pernah ngga sih kamu mikirin, bener ngga ya kita memang ngga kenyang kalau belum makan nasi, atau apakah itu sugesti saja?

Saya, dan mungkin juga kamu, yang besar di Pulau Jawa memang seolah dari kecil “dijejali” nasi. Waktu TK belajar 4 Sehat 5 Sempurna dengan lagu, kata-katanya, “Nasi, lauk, sayur dan buah…”. Ke pasar lihat beras berkarung-karung atau yang curah siap ditimbang. Nonton berita dengarnya soal Bulog, stok beras, dan penimbunan beras. Bahkan saat berkesempatan mengunjungi Cina, negara yang bisa dibilang warganya pun sering makan nasi, jaringan restoran cepat saji di sana tidak menyediakan nasi, sementara di sini nasi dengan fried chicken sepertinya lebih laris daripada menu ayam dengan kentang goreng atau hamburger.

Untungnya di keluarga saya ngga segitunya sama nasi. Ya, sehari-hari kami tetap makan nasi, tapi ibu saya membiasakan kami untuk sesekali menikmati sumber karbohidrat lain, mulai dari roti, mi, gandum, kentang, jagung, singkong, sampai pasta. Kami jadi terbiasa mengukur tingkat kenyang dari keseluruhan jenis makanan yang kami santap, bukan dari sumber karbohidratnya saja.

Saat saya mulai tinggal sendiri di Jogja, saya berkesempatan untuk cicip-cicip lebih banyak sumber karbohidrat, seperti nasi thiwul, sorghum, dan mie pati ganyong. Uenak, dan mengenyangkan juga! Tapi masih ada satu sumber karbohidrat yang ingin sekali saya cicipi, yang di mata saya kelihatan eksotis dan belum sempat saya coba karena agak sulit mencari yang terjangkau (secara jarak) dari rumah.

PA.PE.DA.

Saya mengetahui soal papeda alias sagu ini dari berbagai liputan kuliner di televisi dan majalah. Saat melihat kok kayaknya aneh-aneh lucu gimanaaa gitu, apalagi selama bersekolah juga sagu selalu disebut sebagai salah satu sumber karbohidrat di pelajaran IPA atau biologi, tapi melihatnya secara langsung belum pernah, kecuali yang sudah jadi kue atau jadi lem di kantor pos. Belum lagi saat itu liputan yang saya lihat umumnya memang santapan dengan papeda di daerah sekitar Maluku, tidak pernah tahu kalau memang ada di sekitar Jakarta atau Bekasi tempat saya tinggal.

Nah, beberapa tahun lalu akhirnya rasa penasaran saya ini terjawab di Jogja. Saat itu saya mendapat info tentang rumah makan khas Ternate yang menyediakan papeda. Setelah Mas Pacar punya waktu untuk diajak menjajal makanan ini, pergilah kami ke sana.

Pengalaman pertama makan papeda saya agak… unik. Jadi kami memesan satu paket papeda yang ternyata isinya banyak banget! Kalau tidak salah ingat, saat itu satu paket isinya papeda, ikan kuah kuning, sayur, dan ubi. Makan papeda sendiri juga caranya unik, karena pertama kita harus menggulung-gulung papeda hingga terkumpul sebanyak kira-kira satu sendok makan menggunakan dua bilah kayu yang bentuknya mirip sumpit. Setelah kita lepaskan dari bilah penggulung itu, papeda kita celupkan ke kuah ikan dengan sendok, suapkan ke mulut, lalu telan langsung tanpa dikunyah.

Secara teori begitu.

Kenyataannya, saya dan Mas Pacar kagok saat pertama melihat isi paketnya macem-macem banget, lengkap dengan papeda semangkuk besar. Saya akhirnya minta tolong pada Mama pemilik rumah makan untuk mencontohkan cara menggulung papeda. Reaksi pertama sang Mama adalah, “Belum pernah makan papeda?!” sambil menatap wajah saya. Iya sih, wajah saya kayak orang Ambon. Um, tepatnya, leluhur saya memang ada yang Ambon sehingga garis wajahnya terwariskan ke saya. Mungkin si Mama berpikir kok ada anak Ambon ngga tahu makan papeda. Tapi karena leluhur saya aja dulu pindah dan beranak-pinak di Jawa, keluarga kami lebih kental budaya Jawa-nya. Saya juga makan di situ hitung-hitung berusaha berkenalan kembali dengan akar budaya yang lain kok… hehehe….

Tapi ya sudahlah ya, kembali ke Mama pemilik rumah walau tercengang tapi akhirnya bersedia mengajari juga caranya menggulung papeda. Percobaan pertama, kedua, gulungan kami masih agak belepotan, tapi akhirnya lumayan juga. Cukup rapi dan takarannya pas untuk satu suap. Sensasi untuk langsung menelan tanpa mengunyah juga awalnya agak asing, karena ya mulut sudah refleks akan bergerak mengunyah saat menerima suapan isi sendok.

Dan percayalah, Sobat BIB, makan sepaket itu berdua saja masih sisa! Kenyang pake banget! Tapi memang puas banget juga sih, karena rasanya pun enak. Jadi kalau selama ini kamu jarang makan sumber karbohidrat selain nasi, papeda bisa jadi salah satu opsi juga nih, Sobat BIB. Apalagi papeda ini memang biasa disajikan dengan ikan laut, jadi kita bisa lolos dari daftar orang-orang yang akan ditenggelamkan Bu Menteri Susi Pudjiastuti hahaha…

Kamu penasaran ingin lihat penampakannya papeda kayak gimana? Hmm sayangnya saya dulu ngga foto-foto #instafood saat pertama makan papeda. Tapi beberapa hari lalu saya abis makan papeda lagi nih, masih di Jogja juga, tapi kali ini di rumah makan Papua. Masih sebelas-dua belas dengan sajian papeda Maluku, cuma kebetulan di rumah makan Papua ini ada opsi menu non-halalnya juga.


Dari kanan atas, searah jarum jam: tumis jantung pisang, papeda, ikan momar kuah asam pedas, tumis kangkung.


Hasil latihan gulung-gulung papeda, sudah pas satu suapan dengan kuah.

Keliatannya enak banget kan?
Makanya yuk coba sumber-sumber karbohidrat lain selain nasi, Sobat BIB, dijamin ngga nyesel dan tetep kenyang!

 

Maria Felicia (BIB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *