Saya tumbuh besar dalam keluarga dengan tradisi Katolik yang sangat kuat. Bapak dan Ibu selalu menekankan pentingnya doa dalam setiap kegiatan: sebelum berangkat sekolah, sebelum makan, sebelum ujian, hingga sebelum kembali ke peraduan. Disposisi sebagai minoritas dalam hal jumlah tampaknya tidak menyurutkan mereka untuk mendidik saya, juga kakak dan adik saya dalam tradisi tersebut. Saya katakan “minoritas dalam hal jumlah”, sebab di kompleks perumahan kami keluarga saya adalah satu-satunya yang beragama Katolik.

Saya dan Iqbal
Saya ingat, ketika masih kecil saya memiliki teman bernama Iqbal. Dia tinggal persis di depan rumah saya. Usianya hanya terpaut satu tahun dengan saya. Ketika saya masih SD, mungkin kelas 1 atau 2, saya senang sekali bermain ke rumah Iqbal. Saat sampai di rumah sepulang sekolah, saya langsung bergegas ke depan rumahnya. “Iqbal, main yuk,” begitu teriak saya di depan rumahnya.

Tak lama, Iqbal menjawab, “Gus, masuk aja. Di sini…”

Paulus Bagus Sugiyono

 Saya langsung lari masuk ke dalam rumahnya seolah masuk ke rumah saya sendiri. Sebelum masuk ke rumahnya pun, saya berkata, “Assalamualaikum…” Langsung saja sapaan saya dijawab oleh siapa pun yang ada di rumahnya, entah Iqbal, adiknya, atau juga ibunya. Saya selalu mengucapkan salam itu, sebab saya ingat Iqbal selalu mengucapkannya sebelum masuk ke rumah.

Di tengah-tengah keasyikan bermain play station, siang hari ketika adzan berbunyi, ibunya langsung berteriak, “Iqbal, jangan lupa salat dulu.”
Iqbal berkata kepada saya, “Gus, di-pause dulu ya. Sebentar, lima menit.” Ia langsung berlari ke kamarnya. Benar! Kurang lebih lima menit kemudian dengan wajah yang agak basah, dia datang lagi dan berkata, “Ayo, lanjut!”
Ibunya berteriak, “Itu udah salat atau belum, kok cepet banget.”
Iqbal menjawab, “Udah, Ma…”

Sore hari kami lanjutkan dengan main bola di depan rumah kami. Dia kiper yang hebat. Badannya tinggi sekali. Sekitar satu jam kami bermain, setelah adzan maghrib berbunyi, kami menyudahi permainan kami. “Biasa Gus, salat dulu ya.”

Momentum Perjumpaan

Mengapa saya bercerita tentang pengalaman saya dan Iqbal? Sebab saya merasa bahwa jargon “berbeda itu biasa” muncul paling kuat ketika saya masih kecil. Jangankan memperdebatkan “perbedaan”, memikirkannya saja tidak pernah sama sekali. Saya tidak merasa bersalah ketika mengucapkan “Assalamualaikum” sebelum masuk ke rumah Iqbal. Saya tidak merasa ada yang aneh ketika membiarkan Iqbal berdoa dan saya menunggu.

Semuanya berubah ketika saya tidak lagi berjumpa dengan Iqbal. Saya harus pergi sekolah ke tempat yang jauh. Ketika liburan ke rumah pun, saya tidak lagi pernah bermain ke rumah Iqbal. Saat itulah “berbeda menjadi tidak biasa”. Relasi di antara kami menjadi “dingin”.

Momentum perjumpaan rasanya menjadi momentum yang menentukan. Layaknya di masa kecil, saya dan Iqbal berjumpa dengan keseluruhan diri kami, membiarkan diri untuk dilihat oleh yang lain. Hilangnya momentum perjumpaan menarik orang pada sebuah relasi konseptual belaka. Orang tidak lagi “bertatapan wajah”, namun “mengonsepsikan wajah”.

Ketika jarang berjumpa lagi dengan Iqbal, saya lebih sering berkata demikian pada ibu saya, “Bu, Iqbal itu sekolah di mana ya sekarang? Sekarang keren ya, kalau pergi ke mana-mana pakai motor atau mobil bagus. Beda sama aku ya.” Pertanyaan dan pernyataan subyektif demikian keluar begitu saja. Persis di sanalah saya merasa bahwa “relasi konseptual” menggantikan “relasi perjumpaan”.

Kalau sudah demikian, siapa yang bisa menjamin kalau konsep-konsep subyektif saya itu mengandung kebenaran? Tidak ada.

Dalam Perjumpaan

Mengingat kembali pengalaman dengan Iqbal semakin meyakinkan saya pentingnya momentum perjumpaan. Ketika saya berjumpa dengan Iqbal, Iqbal secara tidak langsung mengajarkan segala hal tentang dirinya yang tentu berbeda dengan saya. Ketika berdoa, Iqbal salat, saya membuat tanda salib. Iqbal berdoa di masjid, saya pergi ke gereja. Iqbal merayakan Lebaran, saya merayakan Natal dan Paskah. Saya belajar banyak hal tentang Iqbal “yang lain” daripada saya. Maka, di dalam relasi saya dengan “yang lain”, alih-alih bersikap sebagai seorang guru yang mengajarkan ini dan itu tentang “yang lain”, saya mendisposisikan diri sebagai seorang murid yang mengamati dan belajar tentang “yang lain”. Sebagai seorang murid, alih-alih memilih untuk sok tau tentang “yang lain”, saya belajar untuk mau diajari oleh “yang lain” tentang “keberlainannya”.

Saya merasa bahwa di dalam momentum perjumpaan, “yang lain” sungguh hadir sebagai “yang lain” di hadapan diri saya. Di dalam “keberlainannya”, ia tak mampu seutuhnya “kukuasai” apalagi sekadar kujadikan “konsep” belaka. Saat itulah, saya belajar untuk menghormati “yang lain” sebagai dia “apa adanya”, yang memang berbeda dariku. Sekeras apa pun aku belajar tentang mereka dan berusaha mendefinisikan mereka, aku tetap tak mampu melakukannya, karena “yang lain” tetaplah “yang lain”. Saat itulah aku belajar menghormatinya.

***

Saya selalu minta dan berharap agar saya-di-masa-kecil hadir dalam diri saya-di-masa-sekarang. Alih-alih memaksakan Iqbal melanjutkan main play station bersama saya, saya membiarkannya salat dulu, karena memang demikianlah ia berdoa. Alih-alih mengutuki perbedaan karena saya lahir sebagai umat Katolik dan Iqbal lahir sebagai umat Islam, kami memilih untuk bermain bola bersama dengan senangnya. Saya- di-masa-kecil selalu mengajarkan saya-di-masa-sekarang untuk berani berjumpa dengan “yang lain”.

Ketika sudah besar, ternyata keberanian saya tidak seperti dulu yang tiba-tiba saja nyelonong masuk ke rumah Iqbal. Semakin besar, keberanian saya tergerus oleh “konsep-konsep” tentang “yang lain” yang menghalangi saya untuk datang dan berjumpa. Keberanian itu tergantikan oleh rasa takut. Rasa takut itu yang menahan saya dalam wilayah aman dan nyaman saya sendiri.

Saya selalu berharap bahwa saya dan kita semua sungguh berani berjumpa dengan “yang lain”, perjumpaan yang sungguh-sungguh riil, bukan sekadar konseptual. Dalam perjumpaan itu, saya yang “telanjang” bertemu dia yang “telanjang”. Saya yang “apa adanya” bertemu dengan dia yang “apa adanya”.

Rasanya hal ini tidak mudah saya lakukan seperti ketika saya kecil dulu. Namun bukan tidak mungkin. Wahai saya-di-masa-kecil, datanglah.

“Exposure has a sense radically different from thematization.
The one is exposed to the other as a skin is exposed to what wounds it,
as a cheek is offered to the smiter”
-Emmanuel Levinas

Paulus Bagus Sugiyono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *