Hai, Sobat BIB!

Selamat Hari Sumpah Pemuda!

Layaknya jutaan millenials Indonesia lainnya, saya yakin kamu sudah menggenggam gawai dan melihat berbagai posting berseliweran di media sosial terkait #HariSumpahPemuda. Banyak cara juga yang bisa kita lakukan untuk mengaktualisasikannya sesuai dengan konteks hidup kita zaman sekarang. Kali ini, saya mau bahas tentang salah satu poin Sumpah Pemuda yang bahkan dari rumusannya aja sering agak kepleset: poin ketiga tentang bahasa.

Entah kenapa ya, mungkin karena kedua poin pertama rumusannya mirip, “berbangsa satu” dan “bertanah air satu”, banyak yang otomatis menyebut poin ketiga adalah “berbahasa satu”. Padahal, poin ketiga itu rumusannya “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Nah lhooo… kamu merhatiin ngga?

Soal bahasa ini jadi menarik buat dibahas karena saya yakin kamu pun sehari-hari memperhatikan banyak orang atau pesan di berbagai bentuk media yang bahasanya campur-campur. Belum lagi tren sekolah dwibahasa yang membuat dedek-dedek kecil lucu terkesan lebih fasih berbahasa asing daripada bahasa Indonesia, padahal mereka lahir dan besar di sini. Lalu mulai deh diskusi soal bahasa Indonesia yang mulai kalah dari bahasa asing (terutama bahasa Inggris), ambil gawai lalu buka medsos yang isi caption-nya bahasa gaul atau slang yang kayaknya tiap hari ada aja yang baru (Hello, kids zaman now, sudah tercyduk-kah kamu hari ini? Kzl.), dan sampai soal sopan-santun berbahasa anak zaman sekarang yang membuat satu universitas ternama harus mengeluarkan petunjuk bagi mahasiswa tentang cara berkomunikasi lewat pesan singkat kepada dosen.

Dari pengalaman pribadi maupun pengalaman kerja sebagai penerjemah, bahasa memang tidak lepas dari yang namanya rasa. Ada beberapa perasaan atau sensasi yang memang sulit diwakili dengan kosakata bahasa Indonesia, belum lagi istilah teknik yang belum ada padanannya di bahasa Indonesia.

Selain itu, bahasa Indonesia itu relatif muda usianya dan sangat dinamis, bila dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain dengan banyak penutur di dunia. Bahasa Indonesia berakar dari bahasa Melayu yang merupakan lingua franca, bahasa pergaulan yang digunakan banyak penutur yang berbahasa ibu berbeda. Banyak kata-kata di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang merupakan serapan bahasa Latin, Inggris, Spanyol, Portugis, Arab, maupun bahasa-bahasa lokal Nusantara. Jadi, seperti yang pernah saya bilang di tulisan saya yang lain (Millenials dan Batik: Bukan #OOTD Biasa), Indonesia memang sudah jadi anak gaul internasional dari dulu. Bahasa kita pun asalnya dari mana-mana, dan sampai sekarang masih ada kata-kata serapan atau kosakata baru yang terus ditambahkan.

Oleh karena itu, secara pribadi saya nggak anti sama orang yang berbicara menggunakan bahasa percakapan dengan beragam slang atau campur-campur bahasa asing maupun bahasa daerah, bahkan artikel ini saja saya tulis dengan bahasa percakapan, bukan bahasa Indonesia baku, kan? Yang penting lawan komunikasi bisa memahami pesan yang kita sampaikan.

Meski begitu, ada satu hal yang bisa jadi patokan untuk menjunjung bahasa persatuan ini: KONTEKS. Dalam situasi apa dan dengan siapa kita berkomunikasi. Kita bisa bebas saat berkomunikasi di akun media sosial pribadi atau dengan teman sebaya, misalnya. Tapi kalau kita berhadapan dengan orang yang baru kita kenal atau dituakan, dalam ruang lingkup akademis, profesional, publikasi massa, kultural, dan berbagai situasi non-kasual lainnya, yuk biasakan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Buat apa sih?

Sobat BIB, pernah ngga kamu menyadari bahwa kamu menilai lawan komunikasimu dari cara mereka bicara atau menulis? Bahasa yang kita gunakan akan memberikan kesan dan menjadi cerminan diri pada lawan komunikasi kita. Misalnya, kalau kamu mengirim surat lamaran magang menggunakan tata bahasa kacau, banyak singkatan, apalagi dengan bumbu typo sana-sini, bisa kacau dunia persilatan. Kamu menghancurkan kesempatan untuk menampilkan kualitas terbaik dirimu hanya karena cara komunikasimu terkesan kurang cerdas. Apalagi di dunia kerja, di mana waktu adalah uang dan orang-orang ngga punya waktu ngurusin anak kemarin sore yang nulis surat permohonan aja bikin cape jiwa saat dibaca dan susah dipahami isinya.

Nah, untungnya sebagai kids zaman now, kita sudah dimanjakan dengan teknologi di ujung jari. Jadi ambil gawaimu dan segera bookmark tautan-tautan berikut ini dan unduh sumber-sumber referensi yang dijamin bisa membuat keterampilan bahasa Indonesiamu jadi junjungan:

  1. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
    Jaman atau zaman? Apotik atau apotek? Memerhatikan atau memperhatikan?
    Temukan jawabannya di KBBI, patokan standar ejaan dan makna kosakata bahasa Indonesia. Saat ini (per Oktober 2017), kita bisa mengakses KBBI edisi V lewat gawai dengan dua cara:

    • Akses KBBI Daring di https://kbbi.kemdikbud.go.id/Beranda. Kamu tinggal masukkan kata yang kamu cari maknanya di kolom pencarian, dan hasilnya akan ditampilkan. Kamu juga bisa membuat akun dan mengusulkan kata-kata baru lho!
    • Paket data gawai udah mepet? Kamu bisa cari wi-fi terus unduh aplikasi KBBI edisi V di https://play.google.com/store/apps/details?id=yuku.kbbi5. Enaknya aplikasi ini bisa digunakan secara offline, jadi bisa kamu akses saat ngga ketemu wi-fi dan paket data sudah habis
  2. Tesaurus Bahasa Indonesia
    Ini bukan spesies dinosaurus baru ya, Sobat BIB. Tesaurus adalah referensi untuk mencari sinonim dan antonim kata. Jadi kalau kamu bingung gimana caranya bikin tulisanmu terdengar lebih resmi, dewasa, atau ngga pakai kata yang itu-itu aja, tinggal akses Tesaurus Bahasa Indonesia di http://tesaurus.kemdikbud.go.id/tematis/.
  3. Glosarium Bahasa Indonesia
    Glosarium bahasa Indonesia ini adalah sumber referensimu untuk mencari padanan berbagai istilah asing, terutama istilah-istilah keilmuan. Situs ini memang belum sempurna, tapi lumayan sebagai rujukan. Kamu bisa akses di http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/glosarium/.
  4. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
    Yang satu ini berupa file .pdf berisi acuan ejaan bahasa Indonesia dan cara penulisan sesuai tata bahasa Indonesia. Jadi soal cara penulisan, penggunaan tanda baca, pembentukan kata dengan imbuhan, dan macem-macem lagi bisa kamu baca dan unduh di http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/PUEBI.pdf

Nah, ternyata ngga serepot itu juga kan, Sobat BIB? Yang penting adalah kesadaran akan KONTEKS komunikasi dan kemauan untuk terus belajar serta memperbarui wawasan. Dengan begitu, entah melamar magang atau kerja di perusahaan yang kamu idamkan, menulis skripsi atau artikel di media, sampai dengan mencuri hati calon mertua atau dosen lewat pesan Whatsapp yang jelas dan mudah dipahami semua modalnya sudah ada genggamanmu.

Selamat menjunjung bahasa persatuan!

Maria Felicia (BIB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *