Apa kamu suka traveling? Ah, maaf. Barangkali semua orang suka traveling. Tapi, apa saja yang kamu lakukan saat berkeliling ke berbagai tempat? Menikmati makanan khas? Jalan-jalan ke obyek wisata? Menonton aksi budaya? Dan tak lupa: ambil foto-foto yang cucok untuk di-posting di Instagram?

Hmm, mungkin kamu perlu belajar dari sosok satu ini. Meski banyak orang suka traveling, tapi tak banyak orang melakukan seperti yang Didit lakukan. Pria bernama lengkap Leonardo Didit Siswanto ini sudah suka traveling sejak lama. Tanah Palembang, Padang, dan Lampung, lalu Jawa, Bali dan Lombok, Nusa Tenggara Timur termasuk Atambua, Wae Rebo alias Negeri di Atas Awan, Taman Laut 17, semua sudah dia singgahi. Namun, Didit lebih memilih traveling ke daerah yang belum terjamah oleh banyak orang, alias daerah terpencil.

Baginya, mengunjungi “daerah terpencil” lebih menyenangkan. Adat istiadat di daerah terpencil biasanya masing sangat kental dan dijunjung tinggi. Ini membuat Didit bisa merasakan langsung keunikan budaya Indonesia yang kaya dan sangat bermakna. “Rumah mereka masih rumah adat, lantai tanah, tikar bambu. Bisa mandi di sungai yang jernih banget. Tapi nggak ada listrik, adanya lampu obor, lampu minyak. Mati lampu, kadang,” kata Didit.

Bersama Gwen, rekan seperjalanannya, Didit memilih jadi backpacker. Setiap tiba di tempat tujuan, mereka lebih sering berjalan kaki menyusuri destinasi. “Kalau traveling ya jalan aja, pengen ngerasain suasana di sana. Kadang nyewa motor juga,” ujarnya. Belum lama ini, Didit dan Gwen berkelana ke Lembah Doda, Palu, Sulawesi. “Perlu 8 jam perjalanan ke sana, melewati 12 desa dan 2 hutan. Cuma berbekal GPS dan tanya-tanya warga. Tapi sampai sana rasanya senang sekali,” tutur Didit.

Sudah banyak daerah dia kunjungi. Tapi, Didit merasa kurang. “Awalnya dulu suka traveling. Terus kepikiran, kalau jalan cuma jalan itu kurang pas. Kepikirannya pas di Palembang, di salah satu panti asuhan di sana. Saya ketemu anak-anak, terus ngobrol soal hidup di sana gimana, cita-citanya jadi apa? Yang bisa dibantu apa?” Dari situlah Didit tahu bahwa anak-anak di daerah ini perlu bantuan berupa buku dan alat tulis.

Kemudian Didit mulai memetakan kebutuhan anak-anak pedalaman dan membantu mereka. Pada momen traveling berikutnya, mereka membawa buku tulis untuk dibagikan di daerah-daerah terpencil yang membutuhkan. Di awal perjalanan, buku yang dibawa Didit betulan hanya buku tulis. “Dapat buku tulis saja itu mereka sudah senang sekali, sampai saya diajak menginap di rumahnya. Mereka juga butuh alat tulis, penggaris, buku pelajaran.”

Ketika traveling berikutnya di Labuan Bajo, Didit bertemu seorang anak pedalaman usia SMP. Anak ini mengungkapkan kesukaannya pada pelajaran Fisika. Keterbatasan daerah mengakibatkan buku-buku pelajaran pun jadi sulit didapatkan. “Besoknya kami kirim buku Fisika dari Jakarta karena dia suka Fisika,” lanjut Didit.
Pria asal Yogyakarta ini terketuk untuk terus giat membantu. Lebih luas lagi, Didit dan Gwen mengumpulkan uang sambil mendata sekolah-sekolah pedalaman yang butuh bantuan. Tak lupa, Didit mengajak teman-temannya ikut berkontribusi. Mereka nitip buku bacaan seperti novel dan buku pelajaran, yang biasanya dikirim tiap tanggal 17. “Itu kita kirimnya memanfaatkan kirim buku gratis, programnya pemerintah. Itu membantu banget.”

Ssst, jangan kaget ya kalau nama Didit dan Gwen sudah dikenal sampai Nusa Tenggara Timur, salah satunya di Pulau Sabu. Ini berkat “hobi”-nya berbagi buku. “Di sana kami dapat julukan ‘Dua Petualang yang Bagi-bagi Buku.’ Jadi semua orang sudah tahu, sudah kenal kami sebelum kami sampai ke Sabu,” cerita Didit.
Setelah mendengar ceritanya, tidak kaget saat Didit menyebutkan wilayah Indonesia Timur sebagai destinasi traveling yang paling berkesan. “Orang-orangnya baik. Welcome, jujur. Kekeluargaan banget,” kata Didit. Satu kisah yang tak terlupakan adalah ketika ponsel Didit tertinggal di salah satu desa. Saat kembali untuk mengambilnya, ponsel itu dijaga oleh orang sana, bahkan tidak berpindah tempat.

“Toleransinya di Timur malah lebih gede. Mereka mikirnya ‘kita sama-sama orang Indonesia’ aja, gitu. Kamu baik sama saya, saya baik sama kamu. Saya jadi nggak takut kemana-mana, nggak takut kalau nggak punya uang. Pernah saya pergi ke salah satu kampung di Poso, itu isinya orang Nasrani semua. Mereka nggak kerja, tapi bisa hidup dengan kesederhanaan mereka. Tetap bisa makan karena menanam sendiri. Mereka kekeluargaannya kuat sekali,” kenang Didit.

Didit juga terkenang dengan Flores. Saat plesir ke salah satu kampung di sana, Didit dan Gwen disambut tarian, mandi di sungai air hangat, dan memukul gong untuk mengumpulkan warga. “Terus dikasih kain asli sana, aku bawa kain batik untuk ibu-ibu. Saya jamin kalau sudah ke Indonesia Timur, nggak pengen balik,” tukas Didit.
Bahkan, dari orang-orang yang tinggal di daerah terpencil inilah, Didit mampu memaknai keberagaman. “Kalau soal keberagaman, aku belajar dari orang pedalaman yang sederhana. Mereka itu biasa saja, nggak mikir bahwa keberagaman jadi masalah. Pikirin aja yang harus dibantu. Terutama mereka yang di pedalaman, yang kaya budaya. Beda iya, tapi jalani aja. Keberagaman nggak bikin isu atau masalah. Kita tetep bisa kental beragama tapi tetap hidup berdampingan.”

Kini, sudah 1, 5 tahun Didit keliling nusantara ala backpacker. Dengan semangat Mission Trip: Jelajahi Nusantara, Didit berniat mengenalkan daerah yang belum dikenal tapi bisa dikembangkan menjadi tempat wisata. Daerah yang belum banyak dikunjungi, tapi punya potensi untuk dibangun.

Aktivitas berbagi buku ke sekolah-sekolah tertinggal di daerah terpencil di Indonesia pun jadi program yang akan mereka seriusi. Sudah terdaftar seribu sekolah yang akan dibantu, tersebar di seluruh Indonesia. Rencananya, agar proses berbagi buku lebih mudah, Didit membutuhkan motor untuk berkeliling membagi buku. Sehingga, Didit dan Gwen berniat menggaet sponsor untuk mendapatkan sepeda motor.

Tak hanya itu, pria kelahiran 6 November 1984 ini juga sudah menyusun 6 lagu reliji yang hasil rekamannya akan disumbangkan ke sekolah-sekolah di pedalaman. Namun, lagu-lagu ini belum keluar meski sudah selesai direkam. Benturan dana membuat proses finalisasi album ini jadi tertunda sampai sekarang. Bagi teman-teman yang ingin membantu dan tentunya satu prinsip dengan Didit dan Gwen, silakan sampaikan niat kalian ke Didit lewat akun Instagram Leonardo Didit Siswanto.

Eh, akhir tahun ini Didit mau ke Larantuka, lho. Mau ikut?

 

BIODATA SINGKAT
Nama Lengkap : Leonardo Didit Siswanto
Tempat & Tanggal Lahir : Yogyakarta, 6 November 1984
Pendidikan : Sanata dharma jurusan Akuntansi
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Hob i: Jalan-jalan, Mancing, dengerin musik
Instagram : @leonardodiditsiswanto

 

Inasshabihah (BIB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *