Klaim saya begini: anak muda zaman sekarang lebih tertarik untuk pergi nongkrong di mall daripada mengunjungi tempat-tempat bersejarah, misalnya monumen atau museum. Pernyataan ini tidak didasarkan penelitian saintifik dan sahih sih, tetapi sebagaimana saya katakan tadi, hanya sebuah klaim berdasarkan pengamatan sekilas. Atau, seandainya datang ke tempat-tempat bersejarahpun, alih-alih memahami narasi sejarah yang terkandung di dalamnya, anak muda lebih senang mencari spot foto. Katanya, tempatnya instagramable atau bagaimana kosakatanya saya juga tidak tahu. Yang pasti, tempat bersejarah dikunjungi untuk kemudian dapat dipamerkan kepada orang lain. Semoga klaim saya salah.

Salah satu deretan museum-museum yang cukup menarik untuk dikunjungi terletak di bilangan Kota Tua. Di sana, kita dapat menemukan pelbagai macam museum, mulai dari Museum Bank Indonesia hingga Museum Keramik. Tiket masuknya tidak mahal. Apalagi, bila dibandingkan dengan tiket nonton bioskop di mall.

 

Ruang Rapat Direksi

Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke Museum Bank Indonesia. Saya kagum dengan seni bangunan dan pelbagai hal yang ditawarkan di dalamnya. Saya menemukan narasi mengenai sejarah uang yang ada di Indonesia sejak zaman penjajahan hingga saat ini, bentuk-bentuk uang, hingga proses pencetakan uang. Semuanya baru dan menarik bagi saya.

Bagian museum yang sebetulnya paling mencuri perhatian saya adalah sebuah ruangan besar yang menurut sejarahnya digunakan sebagai ruang rapat direksi Bank Indonesia atau yang sebelumnya bernama De Javasche Bank. Di tengah ruangan, terdapat meja besar dengan kursi-kursi yang mengelilinginya. Beberapa kursi diduduki oleh patung-patung tuan dan noni Belanda lengkap dengan pakaian khasnya kala itu. Selain meja dan kursi, ruangan ini juga dilengkapi dengan satu buah jam besar berbandul yang tua dan antik.

Bagian atas ruang rapat ini dihiasi oleh kaca patri yang berdesain unik. Mengapa unik? Sebab kaca-kaca patri ini bergambarkan hasil komoditas yang kala itu diperjualbelikan di Indonesia. Terhampar di dinding bagian Utara dan Selatan, kaca-kaca patri ini menggambarkan lada, cengkeh, garam, karet, minyak tanah, tembakau, sagu, kapas, dan lain sebagainya. Hal ini menyimbolkan bahwa De Javanische Bank di awal abak ke-20 hadir sebagai bank yang berfungsi untuk mendanai proses produksi atau sirkulasi kekayaan alam Indonesia sebagai komoditas perdagangan yang begitu luar biasa.

 

Kebhinnekaan itu Kekayaan

Cerminan kaca patri yang menggambarkan kekayaan alam Indonesia tadi membuat saya jadi kagum sendiri dengan Indonesia. Untung sekali bahwa Indonesia adalah negara yang begitu kaya akan hasil alamnya. Pelbagai sudut di Indonesia begitu berharga. Kalau kata Koes Plus, “Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman”. Pernyataan Koes Plus yang dijadikan lagu ini saya temukan konfirmasinya dalam ruang rapat direksi Museum Bank Indonesia.

Dalam sejarah, kita kemudian menemukan bahwa kebhinnekaan hasil kekayaan alam ini begitu menarik bagi orang luar. Tidak heran lantas kemudian pelbagai bangsa datang ke Indonesia untuk melihat dan mengambil rempah-rempah Indonesia untuk dibawa ke negara mereka masing-masing. Mereka berlomba-lomba datang dan melakukan segala cara untuk membawa “sesuatu” yang tidak ada di negara mereka. Jarak sekian jauh rela ditempuhnya untuk berjumpa dengan “sesuatu” yang sungguh berharga.

Saya bayangkan, mungkin daya tariknya tidak sebegitu kuat bila kekayaan alam hanya terdiri dari satu jenis saja. Sebut saja, garam. Dalam hal ini, Keinginan mereka untuk datang tentu tidak menjadi begitu kuat. Mungkin akan datang, tetapi tidak begitu excited.

 

Sungguhkah Masih Berharga?

Kebhinnekaan kekayaan alam Indonesia merupakan kekayaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Sebagai warganya, tentu kita harus bangga dengannya. Kebhinnekaan itu adalah identitas kita dan menjadi bagian dari diri kita. Kita menjadi satu dengannya. Tanpanya, kita tidak dapat disebut Indonesia. Bukankah benar demikian? Namanya bukan Indonesia kalau “cuma” menghasilkan karet saja. Selain karet, masih banyak lagi yang kita hasilkan! Bukan hanya kekayaan alam, masih banyak hal lain yang sungguh beragam di Indonesia. Kita punya tarian tradisional, lagu daerah, makanan khas, dan sebagainya. Kebhinnekaan sungguh menjadi kata kunci tersendiri yang mendeskripsikan bangsa kita.

Ada dua pertanyaan besar yang muncul dalam benak saya. Pertama, sungguhkah kebhinnekaan ini masih berharga? Sungguhkah apa yang kita peluk erat dan bangga-banggakan sebagai kekayaan kita ini masih ada dalam hati kita? Atau, jangan-jangan selama ini yang bangga dengan kebhinnekaan Indonesia adalah orang lain sebagaimana dulu orang lain tertarik dan datang ke Indonesia. Kita mungkin lebih memilih tidak acuh dan menganggapnya “biasa saja”. Kita baru marah ketika bangsa lain mulai mengklaim kebudayaan kita sebagai milik mereka. Kalau tidak ada kasus demikian, ya biasa saja. Jangankan mengapresiasi, mengenal saja tidak.

Untung Presiden Jokowi tanggap hal ini. Dalam kunjungan-kunjungannya, beliau sering bertanya mengenai hal ini. Iya kan? “Sebutkan nama-nama suku”, “sebutkan nama-nama ibukota provinsi”, “sebutkan nama-nama ikan”, dan sebagainya. Berapa banyak di antara kita yang ketika mendengar pertanyaan itu langsung berusaha memutar otak mencari jawabannya. Kalau berhasil menjawab, ya syukur. Kalau tidak berhasil, senyum-senyum sendiri.

Kedua, kalaupun sungguh kebhinnekaan itu menjadi sesuatu yang kita yakini, di tataran mana dia berada? Sekadar di dalam konsep kah? Atau sudah mendarat di ranah yang praksis? Orang, termasuk saya, mungkin sangat pandai merangkai konsep tentang kebhinnekaan. Akan tetapi, ketika kita sungguh berjumpa dengannya, mulut terkunci tidak mampu berkata apa-apa. Bagai anak kecil kemudian berteriak menolak yang lain dan meminta “pokoknya harus sama”. Kalau sudah “pokoknya”, mau diapakan lagi?

***

Di ruang rapat direksi Museum Bank Indonesia itu saya mencoba membaca keterangan yang tertera di sebuah papan tentang ruang rapat tersebut. Di sisi lain ruangan tersebut, beberapa anak muda asyik mengambil foto dirinya dengan patung-patung “bule” tuan dan noni Belanda.

“Gimana, bagus nggak hasilnya? Gue harus keliatan keren dong.”
“Wah blur. Nggak jelas.”
“Hapus aja lah, ngabis-ngabisin memori. Nanti cari tempat lain lagi.”

Saat itu, saya berdoa dalam hati. Ya Tuhan, semoga besok-besok di pintu keluar museum diadakan ujian tentang museum yang baru saja dikunjungi. Yang nggak lulus, nggak boleh keluar museum. Hukumannya, harus ulang lagi keliling museum dari awal. Amin.

 

Paulus Bagus Sugiyono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *