SEMARANG — Ein Institute, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mempunyai tujuan untuk membumikan pluralisme bagi anak-anak muda membuka beasiswa dengan nama Lasem Pluralism Trail

Direktur Ein Institut Ellen Nugroho mengatakan, program yang dijalankan itu untuk mempromosikan praktek hidup berdampingan dan keberagaman di kalangan anak muda agar bisa ditularkan ke penjuru negeri. Maklum, Indonesia selalu berada di bawah bayang-bayang ancaman konflik antar suku, agama, ras, dan golongan.

Salah satu potensi konflik yang paling awet sejak era kolonial adalah sentimen anti-Tionghoa, yang diawali dengan pembentukan stereotip negatif, berujung kebencian turun temurun antar etnis. Kaum Tionghoa rentan terhadap diskriminasi, berkali-kali menjadi sasaran persekusi, merampas rasa aman bahkan nyawa.

Lasem Pluralism Trail, 12 – 15 Oktober 2017

Adapun para peserta yang lolos program ini antara lain; Antonio Winatian, dari Medan; Dedy Ibmar dari Riau; Fajar Tumanggor, dari Medan; Jenny Anggita dari Jakarta; Ni Luh Putu Juli Wirawati dari Yogyakarta. Selain itu ada Anam Lintang Ayu Saputri dari Purwokerto; M Dalhar Sobri dari Jepara; Maria Nofianti perwakilan Purwokerto; Muhammad Arief Rahadian dari Jakarta dan Zulyan Epi perwakilan Surakarta.

“Setelah mencermati dan mendialogkan ratusan aplikasi yang masuk Komite Seleksi Bea Siswa Lasem Pluralism Trail, akhirnya sepakat memilih sepuluh anak muda sebagai penerima beasiswa. Mereka akan mengikuti kegiatan ini,” seperti yang dilansir dalam visitjawatengah.jatengprov.go.id.

Pihak Ein Institute menilai adanya potensi peningkataan sikap intoleran secara signifikan di kalangan remaja dan anak muda Indonesia. Propaganda radikalisme dan rasisme mudah mempengaruhi anak muda melalui media sosial.

Lasem Pluralism Trail mempromosikan “praktik hidup berdampingan dalam keberagaman”. Oleh karena itu, selama tiga malam tiga hari (12 – 15 Oktober 2017), 10 anak muda yang terpilih melalui seleksi akan mengikuti lokakarya dan tur berpemandu untuk mengelilingi Lasem, kota yang tersohor sebagai laboratorium kebhinnekaan, tempat berbaurnya berbagai etnis, agama dan budaya.

Anak Muda Lintas Iman  Telusuri Lasem

Ellen memaparkan bahwa program ini menyediakan kesempatan bagi anak-anak muda untuk menimba pengalaman dan pengetahuan, mengasah keterampilan, berinteraksi serta membuka peluang berjejaring. Oleh sebab itu, Ein Institute memfasilitasi anak-anak muda untuk dapat berinteraksi dengan para tokoh agama, sejarawan dan budayawan lokal; serta menghadirkan pakar kajian agama dan peneliti sosial budaya, para peserta diharapkan dapat mengeksplorasi kesempatan ini secara maksimal.

“Diharapkan dengan kegiatan positif ini anak-anak muda dapat menjadi ujung tombak pemupus prasangka,” harap Ellen.

Para peserta mengunjungi Klenteng Gie Yong Bio, Klenteng Cun An Kiong, pantai Bangun, Karang Jahe, Rumah Batik Sekar Kencana, Pabrik Tegel LZ, Susur Sungai Dasun–Pulau Gosong,Pabrik Roti Indonesia, Museum Batik Nyah Lasem dan wisata kuliner ke Kampung Tuyuhan.

“Kami akan memfasilitasi anak-anak muda ini untuk beriteraksi dengan para tokoh agama, sejarawan, dan budayawan setempat. Kami juga menghadirkan pakar kajian agama dan peneliti sosial budaya.” (GFK)

 

Sumber Foto: http://visitjawatengah.jatengprov.go.id dan http://fisip.unsoed.ac.id/content/lintang-ayu-saputri-anggota-rhizome-fisip-ikuti-lasem-pluralism-trail

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *