Sam Poo Kong bisa jadi nama pertama yang disebut jika kamu bertanya “Apa saja destinasi wisata di Semarang?” Yap, bukan hanya untuk ibadah, kelenteng ini juga dibuka untuk umum. Di sinilah kamu dapat menyaksikan satu titik sejarah peradaban Kong Hu Cu di Semarang.

Kelenteng Sam Poo Kong dibangun guna mengenang jasa Laksamana Cheng Ho atau dikenal juga dengan Zheng He, seorang pelaut asal China yang membawa misi berdagang di Asia-Afrika. Pada 1416, Cheng Ho berlabuh ke Semarang. Umat Kong Hu Cu pun mendatangi kelenteng ini untuk berziarah dan berdoa. Dikunjungi oleh umat dari berbagai pulau di Indonesia menjadi bukti betapa Cheng Ho adalah leluhur yang ditetuakan. Sam Poo Kong sendiri merupakan sebutan untuk memuliakan dan mengagungkan Cheng Ho.

Kelenteng Agung Sam Poo Komg, Kelenteng Kyai Juru Mudi, Kelenteng Dewa Bumi

Saat berjalan memasuki kelenteng ini, kamu akan disuguhi pemandangan lapangan yang super luas. Di sisi kirinya terdapat aula besar yang digunakan saat acara besar seperti Imlek. Di luar momentum tertentu, aula ini kosong dan sering dijadikan lokasi foto-foto oleh para wisatawan. Di sisi kanan lapangan, kamu akan melihat rentetan kelenteng, ada yang besar dan kecil. Meski fungsi utamanya untuk berdoa, kamu tetap bisa masuk ke area kelenteng untuk mengambil gambar, dengan atau tanpa pemandu wisata. Tentu, biayanya beda-beda, ya.

Ada lima kelenteng yang aktif digunakan beribadah di Sam Poo Kong. Semuanya dibuka selama 24 jam. Bentuk dan fungsi kelenteng ini berbeda-beda.

Kelenteng Nabi Kong Hu Cu

Pertama, ada Kelenteng Dewa Bumi. Inti ibadah memanglah berdoa demi penghidupan yang lebih baik. Tapi khususnya jika berdoa di kelenteng ini, umat Kong Hu Cu percaya mereka akan meraih berkah panen di bumi. Kelenteng ini dihiasi patung-patung khas Kerajaan China, seperti patung singa, yang dimaknai sebagai Dewa Penjaga. Di depan Kelenteng Dewa Bumi terdapat 8 patung dewa yang mewakili 8 arah mata angina. Nah, di samping keleteng pertama ini terdapat prasasti yang menceritakan keadaan alam di sekitar Sam Poo Kong sebelum dibangun menjadi kelenteng seperti sekarang. Konon, tempat itu dulunya memiliki pemandangan alam berupa pesisir laut yang indah.

Kelenteng kedua bernama Kyai Juru Mudi, berukuran lebih besar dibanding Kelenteng Dewa Bumi. Di dalamnya ada makam nahkoda kapal Laksamana Cheng Ho, bernama Wang Sing Hong, yang mengalami sakit saat berlabuh di Semarang. Dia pun meninggal dunia dan dimakamkan di kelenteng. Nama “Kyai Juru Mudi” mewakili sosok Wang Sing Hong sebagai nahkoda.

Aula Kelenteng Sam Poo Kong

Keleteng berikutnya adalah keleteng utama: Kelenteng Agung Sam Poo Kong. Nah, kelenteng ini berukuran paling besar, paling banyak dikunjungi, paling luas, paling ramai pengunjung, serta paling banyak dihiasi ornamen khas China. Di depan kelenteng ini, terdapat patung Cheng Ho berukruan raksasa. Di dalam Kelenteng Agung ini ada lorong Gua Batu, yang di dalamnya tersimpan peninggalan Cheng Ho berupa guci atau patung, bendera, dan ornamen lain yang masih orisinal.

Kelenteng keempat dinamai Kelenteng Kyai Jangkar. Di kelenteng inilah jangkar kapal Cheng Ho disimpan dan dikeramatkan, sebagai tanda penghormatan kepada sang laksamana. Selain Kyai Jangkar, ada pula patung Nabi Kong Hu Cu dan Arwah Ho Peng alias arwah teman-teman Cheng Ho.

Ketiganya dikunjungi umat Kong Hu Cu yang ingin berziarah dan berdoa ke ketiga altar persembahan tersebut. Menariknya, kenapa istilah “Kyai” banyak disebut di kelenteng ini, padahal panggilan itu khas digunakan oleh kalangan Muslim? Ternyata, “kyai” pada konteks ini berarti sesuatu yang dikeramatkan, diagungkan, dileluhurkan, ditetuakan, dipusakakan, sehingga disebut “kyai.”

Kelenteng Kyai Jangkar

Kelenteng terakhir adalah Kelenteng Kyai-Nyai Tumpeng. Ini kelenteng paling sederhana, dan terlihat ada makam Kyai-Nyai di sana. Ceritanya begini, ketika Laksamana Cheng Ho berlabuh ke Semarang, beliau mengomando beberapa anak buahnya yang mayoritas laki-laki itu untuk berdagang. Sembari berdagang, mereka pun menikahi perempuan Jawa. Mereka hidup di sini hingga meninggal dunia. Kelenteng Kyai-Nyai Tumpeng ini merupakan simbol penghormatan dan keagungan atas para anak buah tersebut. Pada kelenteng-kelenteng inilah kita bisa melihat simbol kepercayaan umat Kong Hu Cu, yaitu naga yang bermakna Dewa Langit dan kura-kura sebagai representasi Dewa Laut.
Khusus bagi para wisatawan tidak diperbolehkan masuk ke area tengah sembahyang, apalagi jika sedang ada umat yang sembahyang. Tapi, kamu diperbolehkan berkeliling di area samping kelenteng. Dan bisa mengambil gambar dari sana.

*

Selain berbaurnya budaya Cina dan Jawa, agama Islam dan Kong Hu Cu juga bertemu di sini. Petugas serta juru kunci kelenteng banyak beragama Islam. Begitu jam shalat tiba, juru kunci otomatis melakukan shalat di area kelenteng, di tengah bau dupa semerbak, tanpa risih.
Hadirnya atraksi barongsai dan pagelaran musik keroncong juga perpaduan yang unik. Keduanya dipertontonkan bergiliran saat weekend serta hari raya seperti Imlek, Lebaran, Idul Adha, dan momen lain. Tak hanya dari Semarang, hadir pula orang luar kota yang beribadah ke Kelenteng Sam Poo Kong.

Mengenal Cheng Ho, Pelaut Muslim yang Dihormati Umat Kong Hu Cu
Kisah Cheng Ho terbilang menarik. Dirinya yang keturunan Suku Hui di Cina merupakan Muslim sejak lahir. Mayoritas suku Hui memeluk agama Islam karena kerap bersinggungan dengan saudagar asal Persia dan Arab.

Di umur 10 tahun, si kecil Cheng Ho dibawa ke Kekaisaran Cina dan dikebiri untuk menjadi kasim. Karena setia dan dapat dipercaya, Cheng Ho pun menjadi tangan kanan Pangeran Yan dari Dinasti Ming, kala itu. Diutuslah dia untuk memimpin pasukan dan berdagang. Bahkan, pada 1407 saat berlabuh di Palembang, Cheng Ho membentuk masyarakat Tionghoa Islam pertama di Indonesia.

Kelenteng Agung Sam Poo Kong, Semarang

Uniknya, di Semarang, meski Cheng Ho seorang Muslim, mengapa yang dibangun untuk mengenangnya adalah Kelenteng, dan bukan Masjid? Beberapa sumber menyebutkan, berlabuhnya Cheng Ho di Semarang disambut oleh umat Kong Hu Cu. Sehingga, mereka lebih menonjolkan budaya dan ibadat umat Kong Hu Cu pada situs peninggalan Cheng Ho ini. Di Surabaya, misalnya, yang dibangun adalah Masjid Muhammad Cheng Ho sejak 2002 lalu, serta tersebar setidaknya 9 masjid Cheng Ho lain di Indonesia.

Yang lebih penting untuk dibahas demi menjadi teladan adalah spirit toleransi yang dibawa Cheng Ho kala berlayar dan berdagang. Cheng Ho, seorang Muslim, mempercayakan perjalanannya pada awak kapal beragama Buddha dan Tao. Fokus mereka adalah berdagang, sambil aktif membantu penyelesaian konflik di wilayah-wilayah yang mereka lewati. Sebagaimana kita, yang sebaiknya sibuk bicara upaya kemajuan dibanding mundur dan ribur berkelahi sendiri.
Lalu kamu, mau kapan mulai jadi agen perdamaian?

 

Inasshabihah (BIB)

Referensi: wawancara dengan Tour Guide, serta artikel Tirto https://tirto.id/panglima-islam-kekaisaran-cina-merambah-nusantara-csoQ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *