Kalau kebetulan jalan-jalan di Semarang, singgahlah ke Library Café John Dijkstra. Di sini, kamu akan temukan ruang komunitas peninggalan John Dijsktra, seorang Romo asal Belanda yang menghabiskan hidupnya di Semarang, Jawa Tengah.

Gedung ini terbagi jadi dua lantai. Lantai pertama menjadi kantor John Dijkstra Institute, lantai keduanya adalah kafe buku. Kemunculan kafe buku John Dijkstra diniatkan menjadi ruang bagi komunitas untuk ngumpul dan diskusi. Dulunya, lantai dua ini hanya jadi gudang penyimpanan barang-barang Romo, dan baru diaktifkan sebagai kafe buku sejak akhir 2016.

Romo John Dijkstra

Sekilas info, ada koleksi buku di kafe ini yang nggak akan kamu temukan di tempat lain, karena merupakan peninggalan punya Romo. Masih banyak lagi buku yang disimpan di dalam gudang, terutama yang masih susah dimengerti orang awam karena berbahasa Belanda, Jerman, Perancis. “Meski bukunya keren, tapi kalau kita pajang belum tentu seorang kutu buku pun mau menyentuh karena bahasanya sulit. Bukunya kuno sekali. Makanya kita simpan.” Sementara itu, sekitar 20 persen sisanya adalah buku dari donasi.

Menghidupkan Semangat Juang Romo Dijkstra
Tahun 1950, tempat ini dijadikan Romo sebagai Rumah Pancasila, dan menjadi salah satu awal munculnya Keuskupan Semarang. Di sinilah lahir gerakan yang peduli terhadap nasib buruh tani, yaitu Ikatan Petani Pancasila. Tapi di tahun 1960-an gerakan ini sempat dianggap berafiliasi dengan komunis. “Kemudian membubarkan diri, dan dari situ muncullah Himpunan Kerukunan Tani Indonesia,” cerita Wawan, aktivis lingkungan sekaligus pengelola kafe buku. Meski Romo telah tiada, gedung ini tetap jadi ruang bagi buah pikir dan gagasan milik John Dijkstra.

Yap, Wawan bersama aktivis lingkungan lain turun tangan mengelola kafe ini dan menjadikannya ruang publik, titik sharing bagi komunitas-komunitas di sekitar Semarang.
Nah, mengapa pengelolaannya “diserahkan” ke kakak-kakak aktivis ini? Ternyata, Wawan telah mengenal Romo Dijkstra secara personal sejak bersama-sama aktif bergerak pada isu buruh, nelayan, tani, dan lingkungan. “Pernah kenal dan sharing bareng dengan Romo dan aktivis senior di LPUBTN, kita sendiri pernah kerja bareng misalnya, memberi pelatihan di desa-desa pendampingan yang jadi titik fokus LPUBTN.”

Romo Dijkstra bersama segenap aktivitasnya memang hendak mewadahi masyarakat kalangan pinggiran. Beliau dikenal sebagai Romo sosialis yang berkonsentrasi di isu sosial, lingkungan, dan kemanusiaan, bukan keagamaan. “Beliau menggandeng Soegijapranoto membentuk yayasan yang sifatnya untuk menaungi pergerakan itu: buruh, tani, nelayan, dinamakan Yayasan Pendamping Usaha Buruh Tani dan Nelayan.”

Salah satu sudut Library Cafe Dijkstra

Isu misionaris pun tak bisa dibendung. Masih ada yang menganggap mereka melakukan misi keagamaan tertentu karena gerakan ini berasal dari kalangan Katolik. Padahal jika mau ditelisik lagi, mayoritas aktivis gerakan peduli tani itu adalah Muslim. Niat mereka lurus untuk melestarikan semangat dari gagasan John Dijkstra demi Rumah Pancasila, sebagai rumah yang penuh kemajemukan.

“Jadi terkadang, orang itu nggak melihat dari sisi apa yang kita lakukan, tapi lebih memberi labeling. Terkadang kalau Tuhan pun berkepentingan dengan manusianya itu atas dasar apa? Perbuatan? Atau labeling itu? Kalau Tuhan berkepentingan hanya atas label itu, berarti kita telah menuduh Tuhan melakukan tipu daya pasar,” tutur Wawan.

Kafe-nya Pegiat Lingkungan
Di tangan para aktivis lingkungan inilah, gerakan Bersama Lindungi Ekosistem (Berline) pun muncul dan digaungkan lewat kafe ini. Wawan dan kawan-kawannya secara rutin menggelar festival seni di hutan bernama Forest Art Camp, yang tentunya jadi wadah untuk ngobrolin isu lingkungan. Sebelum festival itu digelar, biasanya dimulai dulu dengan event Little Step to the Hill. Mau kepo lebih jauh? Singgah saja ke Instagram mereka: @djikstra.cafe.

Perlu digarisbawahi, aktivitas yang dipilih pegiat Berline ini sederhana sekali, bukan agenda muluk, tapi mereka melakukannya dengan penuh komitmen dan konsisten. “Misalnya kami mencoba membangun konsep local wisdom yang ada, tentang guyub rukun, gotong royong, yang mungkin saat ini sudah cukup hilang ruh dan semangat itu. Diharapkan semua terlibat karena persoalan lingkungan itu bukan masalah satu dua orang doang. Makanya kita bikin agenda tahunan sebelum Forest Art Camp itu, kita namai Little Step to The Hill, kita berharap melakukan sesuatu yang kecil dan sederhana, membangun gerakan ini bersama, yang akhirnya menjadi kekuatan besar. Karena kalau kita ngomongin isu lingkungan tapi kita cuma ngomong tok, sementara nggak bisa ngasih contoh nyata ya percuma,” terang Wawan.

Demi menjaga konsistensi semangat kepedulian mereka terhadap lingkungan, pegiat Berline tidak menerima pemberian dari pihak ketiga atau sponsor. Dana komunitas didapat dari kafe, dan hasil penjualan produk kesenian, seperti kaos, notebook, gelang, dan sejenisnya. Nah, kalau kamu kel iling kafe ini, lihat deh, ada satu sudut berisi buku notes hasil kreasi pegiat Berline bersama kawan-kawan lain yang dibuat dari material olahan alias recycle. Hasil recycle ini dijual, lho, dengan kualitas yang tak kalah keren dari bikinan pabrik.

Niat mereka untuk lepas dari pengaruh sponsor mendorong mereka tetap berada pada ranah “akar rumput” awalnya meninggalkan ragu. Namun nyatanya, mereka tetap bisa survive, bahkan aneka workshop dan diskusi yang digelar berhasil menarik antusias anak muda, hingga di luar Semarang.

Koleksi buku Library Cafe Dijkstra

Wawan dan pegiat Berline juga berkeliling ke beberapa kota untuk berbagi soal isu lingkungan. Dari situ, Wawan menemukan satu fakta menarik. “Kita bisa melihat bahwa di sekolah-sekolah pun selama ini mereka sama sekali belum pernah mendapat informasi cukup soal isu-isu tersebut, belum ada kegiatan sharing bersama, workshop, ternyata belum sama sekali.”

Lalu di mana posisi Berline menanggapi isu lingkungan yang belakangan kian panas? Wawan menegaskan bahwa Berline kurang antusias untuk masuk ke isu-isu itu. Ini karena sebagian isu lingkungan masih kental ikatannya dengan politik. “Kita cukup hati-hati atas intervensi dengan banyak pihak untuk menempatkan posisi, karena kita menjaga semangat kawan-kawan dalam movement ini.”

Menurutnya, kalau kita mau betul-betul berkomitmen sebagai aktivis dan serius menyelesaikan masalah, maka langkah yang harus dilakukan adalah turun ke akar rumput, mengorganisir, serta memberi solusi pada masyarakat.

“Ketika ada anak kecil yang menangis karena dipukul oleh bapaknya yang pemabuk, PR ibunya tidak selesai hanya dengan menenangkan si anak dari tangisannya, tapi sang Ibu punya PR juga untuk menghentikan mabuknya si bapak. Kalau nggak ya bakal terus digebukin itu anak. Tidak bakal selesai.”

Wasiat Romo Dijkstra yang Manis itu…
Meski besar dari satu kota yang sama, nama Romo John Dijkstra memang tidak santer dikenal dibanding Romo Soegija. Menurut Wawan, ini karena beliau benar-benar turun ke akar rumput, dan basis kepeduliannya adalah bukan pada isu-isu fenomenal seperti perang. Tapi sesungguhnya, gagasan dan ide John Dijkstra sungguh relevan bahkan urgen buat diterapkan dan dimaknai. Misalnya yang sampai sekarang mungkin masih dilakukan oleh kalangan Katolik, bahkan jadi program, adalah APP, Aksi Puasa Pembangunan.

Wawan, sebagai sosok yang dekat dan kerap diskusi dengan Romo bercerita bahwa Romo punya wasiat yang menyentuh hati. Beliau berpesan, saat meninggal nanti, tempat beliau bersantai dan ngopi bareng kawan-kawan aktivis Muslim itu agar dijadikan tempat beribadah alias mushala! Waw… dan wasiat itu dijalankan. Mushala Library Café John Dijsktra ada di area belakang, dekat lemari-lemari berisi buku lama Romo. Kebetulan, penulis juga berkesempatan shalat di sana.

Teman-teman, bukan hanya semangat juang Romo Dijkstra sebagai pembela kaum terpinggirkan yang perlu kita tiru. Kerelaannya menerima hidup dalam perbedaan sehingga membuat Romo mampu fokus pada tujuan yang lebih besar tanpa meributkan hal-hal yang tak relevan juga adalah pelajaran berharga. Kita, sekali lagi, belajar bertoleransi pada porsinya. Sejak lama, pendahulu kita sudah mewariskan semangat sebaik ini. Kamu tinggal meneruskannya. Tidak mudah, tapi juga bukan tidak mungkin.

Selamat memaknai toleransi lagi, teman-teman.

 

Inasshabihah (BIB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *