Pada awal Maret 2018, mahasiswa Indonesia yang diprakarsai oleh Kelompok Mahasiswa Universitas Imperial College London (ICL) dan didukung oleh University College London (UCL), London School of Economics and Political Science (LSE), King’s College, PPI United Kingdom, serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di London menyelenggarakan acara bertajuk Indonight: KE(M)BALI. Diadakan di Great Hall, Imperial College, London, acara ini sukses menyajikan hiburan dan menampilkan kebudayaan Indonesia di depan hampir 400 orang, baik yang berasal dari Indonesia maupun mancanegara.

 Indonight: KE(M)BALI menyajikan drama musikal komedi-romantis tentang perempuan muda bernama Anissa yang sudah belasan tahun menetap di Inggris dan belum pernah pulang ke Indonesia. Karena tidak mendapat pekerjaan di Inggris, Anissa terpaksa pulang ke Indonesia. Tak disangka, keputusan Anissa kembali ke Indonesia merupakan keputusan yang paling tepat karena di “rumah”-lah ia menemukan pekerjaan, cinta, dan kasih sayang yang ia dambakan. Pertunjukan ini menjadi kian menarik karena disisipi oleh tari-tarian serta musik daerah mulai dari tari Lenggang Nyai, Marpangir, Saman, dan alat musik angklung.

Di tengah kesibukan belajar yang padat, aktor, aktris, pelatih, serta penari semuanya diisi oleh pelajar-pelajar Indonesia di Inggris. Para pengisi acara juga berbagi kisah dan pesan menarik mengenai keikutsertaan mereka dalam acara ini.

Faris Naufal (ICL), Hilda Mulu (UCL), dan Pradipta Hakim (LSE) merasa senang dan bangga bisa ambil bagian dalam mengenalkan budaya Indonesia di luar negeri. Menurut mereka, ini merupakan kesempatan langka yang harus dimanfaatkan. Faris menyadari bahwa bagaimana pun juga, kita hidup dari tanah air Indonesia. Selama kurang lebih empat bulan latihan bersama, mereka tidak membedakan suku, agama, ras, dan usia. Baik mahasiswa S1 dan S2 semuanya bisa kerjasama tanpa ada senioritas.

 Untuk Pradipta (Dito) yang berperan sebagai Fajar, salah satu teman Anissa yang berkarakter ceria dan aktif, mengambil bagian dalam pertunjukan di luar negeri merupakan kegemarannya. Selain bisa bertemu dengan teman-teman sesama orang Indonesia, Dito juga senang karena dapat mempromosikan budaya Indonesia pada teman-teman internasionalnya. Tampil di panggung dengan membawa nama Indonesia menjadi kebanggaan tersendiri buat Dito. Ia juga berpesan kalau kita sebaiknya tidak membedakan asal-usul dalam pertemanan, bertemanlah sebanyak-banyaknya dengan teman-teman internasional, tapi jangan lupa menjaga hubungan dengan teman sebangsa karena di situlah kita menemukan kenyamanan yang sesungguhnya.

Menurut Hilda—yang membawakan tarian Lenggang Nyai—bertemu dan berproses dengan anak-anak Indonesia itu paling dinantikan, seperti bertemu keluarga di tempat jauh. Kebanyakan mahasiswa Indonesia di sini berkarakter mandiri. Mereka juga sudah punya rencana masing-masing saat lulus nanti. Ada yang ingin kembali ke Indonesia, ada juga yang ingin menetap atau bekerja di luar negeri. Namun semuanya dilakukan untuk memajukan Indonesia dengan caranya masing-masing.

 Selain itu, Hilda juga menambahkan bahwa mereka juga sangat mengenal Indonesia dari ujung barat sampai ujung timur dan berusaha menghadirkan kekayaan seni budaya tiap daerah di Indonight. Dari mulai proses pemilihan tarian sampai penampilan yang akan disajikan pun juga berlangsung demokratis dan profesional. Semua usulan dipertimbangkan dengan alasan yang logis seperti durasi, jumlah penari yang dibutuhkan, ketersediaan properti, keterwakilan wilayah Indonesia, serta keinginan si penampil.

 

Seru banget ya, pengalaman teman-teman kita pelajar Indonesia di London? Yuk, jangan mau kalah dengan semangat nas ionalisme dan kebhinekaan mereka, dan terus harumkan nama Indonesia di mana pun kita berada!

Finka (BIB)
London/Mar 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *