Sosok Kartini yang hari kelahirannya diperingati tiap 21 April, tak lepas dari tumbuhnya ruh emansipasi yang kian dibahasakan para akademis sesudahnya. Akan tetapi semangat emansipasi nyatanya masih asing bahkan bergesekan dengan ragam tradisi di Indonesia. Sudah banyak literatur yang membahas posisi perempuan dalam tradisi dari pelbagai suku dan budaya di negeri ini. Tentunya, diperlukan sebuah penalaran yang kritis dan komprehensif untuk dapat memahami ini.

Sebagai contoh, berikut ini lima tradisi yang masih bergesekan dengan semangat emansipasi kaum perempuan di Indonesia:

1. Pengasingan Wanita di Suku Narulu

 Ketika perempuan kota telah aktif bersuara memperjuangkan hak untuk mendapat keistimewaan cuti haidnya, perempuan di Suku Naulu, Pulau Seram, Maluku, masih terikat tradisi. Di sana, perempuan yang sedang datang bulan dimasukkan ke dalam gubuk kecil yang dibangun khusus untuk mengasingkan mereka selama beberapa hari hingga masa haidnya berakhir. Mereka akan menempati bangunan berukuran 2×2 meter, yang hanya berisi sebuah tempat tidur. Saat berada di pengasingan ini, para perempuan tidak diperbolehkan dikunjungi oleh pria, apapun statusnya. Untuk makan dan minum, seorang wanita akan mengirimi makanan setiap hari. Saat mengirim makanan pun, mereka juga tidak diperkenankan melakukan pembicaraan. Wanita yang diasingkan ini akan hidup sendirian dari pagi hingga malam di sebuah kebun atau bahkan pinggiran hutan.

2. Tradisi Sunat Perempuan

Tradisi sunat perempuan telah dijalankan warga komunitas asal Makasar di Jakarta Utara, secara turun-temurun, dan dirayakan dengan pesta besar. Untuk teknisnya, saya agak ngeri menulisnya di sini (maaf). Tujuan sunat ini agar saat tumbuh remaja, para perempuan tidak genit kepada teman laki-lakinya. Juga demi kepuasan suami saat mereka menikah nantinya.

 

3. Ditiduri Dahulu Sebelum Dinikahi

Pandangan tentang nilai keperawanan bagi perempuan dalam Suku Trunyan di Bali sungguhajaib”. Sebelum dinikahi, para perempuan ditiduri terlebih dahulu oleh laki-laki.Jika ia bisa mengandung, maka ia harus dinikahi oleh laki-laki. Sebaliknya, jika ia tidak mengandung, ia ditinggal begitu saja oleh laki-laki yang telah menidurinya tersebut.

4. Hamil Tujuh Bulanan

Bagi beberapa tradisi, perayaan usia kandungan yang mencapai bulan ketujuh merupakan tanda syukur sekaligus keramat. Namun berbeda di Papua. Perempuan hamil akan menjadi ritual isolasi dari masyarakat. Ritual ini didasari anggapan bahwa darah yang dikeluarkan wanita pada saat menstruasi atau saat melahirkan (persalinan) adalah darah yang membawa hal buruk bagi lingkungan sekitarnya. Aktivitas ibu hamil seperti makan, memasak, mandi, dan tidur selama kurang-lebih 2-3 minggu terakhir menuju proses persalinan nantinya dilakukan sendirian di tengah hutan belantara atau di pantai.

5. Kawin Lari

Bila umumnya pernikahan dimulai dari mempelai pria bersama keluarganya datang melamar sang perempuan, maka tidak bagi sebagian Suku Sasak di Lombok. Mereka menempuh cara berbeda, yaitu lewat merarik atau “kawin lari”, yaitu anak perempuan akan dilarikan untuk dijadikan istri. Pria dan perempuan biasanya lebih dulu berjanji untuk bertemu di suatu tempat. Setelah itu perempuan dilarikan oleh pihak pria ke rumah keluarga mereka. Biasanya perempuan diinapkan satu hingga tiga hari. Sayangnya, tradisi ini sering menjadi celah untuk menikahi anak perempuan di bawah umur atau pemaksaan lainnya karena mereka tidak punya posisi dalam tradisi untuk menolak laki-laki yang membawanya kabur.

 

Apa yang ada di benakmu setelah melihat kondisi-kondisi di atas? Bagaimana menurutmu, apakah ini tergolong penghinaan atas harkat perempuan, atau sah-sah saja?

Melihat tradisi-tradisi tadi, tentunya melahirkan pertanyaan besar, atau setidaknya rasa heranmengapa tradisi ini masih ada di zaman sekarang? Akan tetapi; itu telah jadi tradisi. Menurut saya, apa yang kita bahas di atas merupakan dua ranah berbeda yang tidak bisa dibandingkan atau dipertentangkan begitu saja.

Pada 27 Oktober 1902, Kartini menuliskan surat kepada Nyonya Abendanon, “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” Surat -surat dari Kartini inilah yang kemudian menjadi suatu karya fenomenal. Setelah R.A. Kartini wafat pasca melahirkan, surat-surat itu dirangkai dalam sebuah buku berjudul Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang. Inti dari buku ini, Kartini menyuarakan cita-citanya agar perempuan mendapatkan hak yang sama seperti kaum lelaki, misalnya pendidikan yang setara. Dari sinilah saya kira bahwa ide “emansipasi” wanita dibahasakan oleh para sejarahwan sesudah Kartini meninggal.

Mari sejenak melihat sejarah dunia. Pada 1949, Simone de Beauvoir, seorang filsuf Perancis menghasilkan karya pertama berjudul The Second Sex (Le Deuxième Sexe). Dua puluh tahun setelah kemunculan buku itu, pergerakan perempuan barat mengalami kemajuan pesa. Memang, untuk hal ini lebih tepat dikatakan sebagai feminisme, toh buku itu hingga saat ini masih dirujuk oleh kaum feminis sebagai bacaan standar layaknya Das Kapital karya Marx bagi mereka yang ingin memahami aliran kiri. Feminisme sendiri banyak memiliki tokoh pionir lainnya dan tumbuh cukup subur di Barat. Lantas, apa hubungannya dengan sosok Kartini?

Di Indonesia, istilah emansipasi wanita lebih dikenal daripada feminisme. Setidaknya sejak SD kita sudah diperkenalkan dengan Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita. Tentang perbedaan feminisme dan emansipasi wanita, saya tidak akan bahas dalam tulisan ini. Yang perlu kita perhatikan adalah perjuangan kesamaan gender (sederajat baik hak dan kewajibannya) seringkali membentur tembok tebal bernama tradisi. Lantas apakah tradisi harus dihilangkan demi nilai kesetaraan? Apapun jawabannya, tentu masih akan menimbulkan pro dan kontra.

Sebagai agen keberagaman, anak muda seperti kita (saya harap demikian), paling tidak memiliki wawasan luas dan pikiran yang terbuka. Apalagi setelah kita tahu faktafakta mengenai nilai emansipasi dan keberagaman tradisi di Indonesia. Pertanyaan lebih luas lagi saya tawarkan di akhir tulisan ini adalah, mampukah kita menjadi agen keberagaman di tengah dua titik ekstrem: tradisi dan nilai kemanusiaan?

 

Hendarto (BIB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *