Pada hari pendidikan tahun 2018 ini saya sengaja bertemu dengan remaja dampingan tempat saya bekerja. Remaja ini bernama I Made Widiantara Seputra (15) yang sangat berbakat dalam seni lukis. Sudah banyak karya-karya  yang dihasilkan oleh remaja yang biasa dipanggil Widi ini.. Salah satu Lukisan yang saya favoritkan berjudul Save Children’s, Save Pancasila.

Kemudian saya mengajak Widi untuk ngobrol terkait lukisan tersebut. Pada kesempatan tersebut Ia menceritakan pengalamannya ketika membuat lukisan ini. Widi menyampaikan bahwa Remaja yang bersekolah di SMP Negeri 1 Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan, Bali ini merasa senang dan bahagia karena inilah kali pertama baginya mengangkat tema tentang Kebangsaan, Pancasila dan Anak. Ia lantas menceritakan bahwa lukisan ini dibuat ketika Hari Anak Nasional tahun 2017 lalu dengan kerjasama antara Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Kabupaten Tabanan dan Dinas Sosial Provinsi Bali.

Ketika ditanya terkait proses pembuatan, remaja yang gemar meembuat karya seni lukis dan kerajinan tangan ini berkata “Saya cukup lelah ketika duduk dan melukis berjam-jam dan tangan saya terasa pegal dan mata saya terasa begitu mengantuk, tetapi saya tidak mengeluh. Saya melakukanya dengan penuh hati dan tulus ikhlas.”

Lukisan tersebut merupakan hasil diskusi dengan seorang kakak pendamping bernama Tiurma. Widi sebelumnya diajak untuk melihat sebuah video terkait dengan realitas yang terjadi di Indonesia yang menunjukkan kasus-kasus intoleran yang mengatasnamakan agama, berita bohong yang menyinggung suku, agama, ras dan antar golongan.

Selain itu, Widi juga menyampaikan bahwa lukisan itu mengandung beberapa pesan positif. Pertama, pemerintah harus memfasilitasi anak-anak agar tumbuh dan berkembang dengan semakin baik. Kedua, anak-anak bangsa kiranya mulai memperhatikan, mempelajari dan mempraktekkan dasar negara yaitu Pancasila dalam perilaku hidup sehari-hari dengan saling menghargai dan menghormati sesama manusia. Hal ini penting agar bangsa Indonesia tidak mudah terpecah belah dan Indonesia tetap menjadi negara yang satu sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Aktivitas melukis yang dilakukan oleh Widi dengan tema Pancasila ini bisa menjadi metode alternatif yang digunakan setiap fasilitator pendidikan dalam mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila sejak dini. Sudah saatnya fasilitator pendidikan mulai kreatif dan meninggalkan kebiasaan lama yang hanya mengandalakan teks menghafal, ceramah dan mencatat dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila.

Sudah saatnya Pancasila dikenalkan dalam konteks karya nyata dialogis yang sarat akan makna. Memberikan ruang aktualisasi untuk anak dan remaja sesuai konteks realitas yang dialami dan dengan melakukan dialog bersama anak/remaja dapat menjadi pintu masuk pendidikan yang kritis dan partisipatif. Tujuannya tidak lain sejalan dengan yang disampaikan oleh Tan Malaka yaitu “untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan” .

Tiead Adhika Gilham
Family Care Educator di SOS Children’s Village Bali
@tieadhika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *