Selain perayaan Hari Proklamasi Kemerdekaan negara kita, adakah yang dapat mengalahkan gagap gempita Asian Games XVIII 2018 di bulan Agustus ini? Inilah saatnya Indonesia kembali dipercaya untuk menyelenggarakan pesta olahraga bangsa-bangsa Asia. Lebih dari 15.000 atlet dan ofisial dari 45 negara Asia akan bertanding di Jakarta dan Palembang.

Lalu, apa istimewanya? Bukankah Indonesia sudah sering menjadi tuan rumah SEA Games dan kompetisi olahraga internasional lainnya? Faktanya, Indonesia kembali dipilih sebagai tuan rumah Asian Games setelah lebih dari setengah abad lalu! Ya, kesempatan itu pertama dan terakhir kali datang 56 tahun lalu, tepat pada 1962, ketika Asian Games IV diselenggarakan di Jakarta. Kesempatan yang bisa jadi hanya datang setengah abad sekali itu menjadikan Asian Games kali ini istimewa bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, tidak mengherankan, pelaksanaannya pun didekatkan dengan momen istimewa lainnya: perayaan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

 

Sejauh Mana Istimewa?

Akan tetapi, ada satu pertanyaan menggelitik: sejauh mana pesan keistimewaan Asian Games itu bisa dirasakan khalayak ramai? Cukupkah dengan memamerkan fasilitas olahraga yang “wah”? Dengan prestasi olahraga mentereng ditambah target masuk 10 besar? Mendandani kota-kota penyelenggara seelok mungkin? Merancang upacara pembukaan yang megah dan tak terlupakan?

Bagi sebagian orang, baik fasilitas olahraga yang bau catnya masih baru maupun prestasi tinggi mungkin sudah cukup menyampaikan pesan keistimewaan itu. Kemasan yang memukau sudah dapat membuat para tamu luar negeri merasa senang dan kagum. Kerja keras tim panitia penyelenggara juga cukup membuat kita percaya diri; Indonesia sejajar dengan bangsa lain dalam membuat ajang olahraga yang megah. Setiap medali emas yang atlet kita raih dapat menunjukkan kemajuan dunia olahraga kita. Semua itu cukup untuk memperlihatkan betapa bangsa kita berusaha sebaik mungkin menyiapkan pesta olahraga yang istimewa ini.

Namun, memandang keistimewaan Asian Games XVIII sedangkal itu sama dengan mengatakan, “Asian Games kali ini tidaklah istimewa. Biasa saja.” Ketika kita terlalu sibuk bersolek agar dikagumi orang luar, Asian Games mentok menjadi ajang pamer yang menghamburkan uang tanpa keistimewaan apapun. Keistimewaan itu menjadi mendalam ketika kebanggaan sebagai tuan rumah dapat mempersatukan kelompok dan golongan masyarakat yang terpecah belah. Keistimewaan itu mendalam saat setiap orang berusaha memberi yang terbaik bagi bangsa dengan caranya masing-masing karena terinspirasi atlet peraih medali. Keistimewaan itu mendalam ketika ada gerak bersama masyarakat dan pemerintah untuk terus memelihara berbagai fasilitas dan kebersihan kota. Bahkan, kalau perlu, gerak bersama itu harus menular ke seluruh wilayah Indonesia.

Singkatnya, Asian Games sungguh istimewa bila tampilan lahiriah yang mengagumkan dapat memperbarui kebiasaan dan mentalitas masyarakat Indonesia. Bukan hanya yang tinggal di Jakarta dan Palembang, melainkan juga yang tinggal di seluruh Indonesia. Tidak hanya berhenti pada saat pagelaran Asian Games, tapi juga berlanjut seterusnya. Hal ini hanya mungkin bila pemerintah dan jajarannya terus menggemakan pembaruan mentalitas dan kebiasaan itu lewat kebijakan yang mendukung serta didukung gerak masyarakat luas. Tanpa itu, keistimewaan superfisial Asian Games akan segera tergantikan oleh keistimewaan superfisial lainnya.

 

Rafael Mathando Hinganaday
Saat ini masih menjalani studi di Program Magister
Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *