Suatu pagi, di grup WA keluarga:

Budhe A

BAHAYA MINUM AIR ES SETELAH MAKAN!

Tahukah Anda bahwa minum air es setelah makan bisa menyebabkan pencernaan dalam lambung menjadi lambat? Saat bertemu asam lambung, gumpalan akan terurai dengan cepat dan diserap oleh usus, lalu akan menempel di dinding usus. Lemak tersebut kemudian dapat menyebabkan serangan jantung…. Read more

 

Pesan sejenis itu terasa familier, Sobat BIB?
Kalau kamu mendapat pesan sejenis itu di grup WA, kamu termasuk tim baca-lalu-percaya, tim baca-lalu-bodo amat, atau tim baca-googling kroscek-nanggepin?

Kalau kamu termasuk tim ketiga, terima kasih banyak!
Kalau kamu masuk dua tim pertama, yuk jangan mager!
Emang kenapa sih? Penting banget ya?

Lihat kalender sebentar yuk, Sobat BIB… sudah Agustus lho!
Agustus 2018 ini menjadi waktu yang krusial buat perjalanan bangsa kita. Ya, sudah 73 tahun kita merdeka, dan masih banyak PR yang menuntut peran kita untuk turut menyelesaikannya. Agustus 2018 juga jadi momen penting dalam dunia politik Indonesia karena pasangan calon presiden dan wakil presiden untuk Pilpres 2019 sudah diumumkan.

Ngga, saya ngga akan mengarahkan kamu untuk memilih siapa. Tapi saya ingin mengajak kamu, pertama-tama, membayangkan apa yang kira-kira bakal terjadi setahun ke depan.

Ngga usah nunggu jelang Pilpres, info-info melenceng soal kesehatan, gaya hidup, teknologi, dan lain-lain berseliweran di media sosial seperti Facebook, Twitter, sampai grup WA kerap bikin kita sakit kepala. Hoax merajalela. Saya yakin seyakin-yakinnya, makin dekat Pilpres nanti volumenya bakal menggila, terutama buat info politik. Siapkah kita menghadapi itu?

Kita? Elu aja kali, gue ngga!

Mungkin kamu berpikir begitu. Tapi beri saya waktu menjelaskan kenapa KITA harus peduli dan siap menghadapinya.

KITA MUDA

Media sosial dan politik sekarang sudah jadi bagian yang tidak terpisahkan. Para politisi pun tahu efektifnya media sosial, hingga pasukan siber dan segala embel-embelnya pun bisa mereka kerahkan untuk membentuk opini publik. Dari level lokal sampai nasional, yang grafisnya paling keren sampai yang paling cupu, semua bakal tumpah ruah di linimasa kita sebentar lagi.

Sebagai generasi yang masih muda(an), kalau kita masih punya energi buat stalking gebetan atau ikutin akun gosip lambe-lambe, mestinya masih ada juga dong, energi buat mantengin berita-berita yang beredar? Kita yang masih dalam usia produktif sampai 30 tahun ke depan bakalan jadi yang paling merasakan dampak dari program dan kebijakan pemimpin kita. Jadi apakah kamu rela menyerahkan masa depan kamu ke tangan orang lain dengan memilih apatis dan golput?

Kita yang masih muda, katanya idealis dan kritis. Kalau kamu ingat pelajaran sejarah di sekolah, golongan muda yang keukeuh mendorong golongan tua menuntut kemerdekaan. Mungkin saatnya kita refleksi juga, semangat itu terwariskan ke kita ngga ya? Kalau dulu mereka angkat senjata dan suara, sulitkah buat kita angkat jari untuk browsing berbagai informasi dan rekam jejak calon pemimpin kita?

KITA MELEK

Melek media sosial, atau literasi media sosial, saya rasa jadi salah satu kemampuan yang wajib kita miliki. Melek bukan soal tahu cara pakainya saja lho, Sobat BIB, tapi juga melek soal konsekuensinya. Kita tahu media sosial itu pedang bermata dua, jadi yuk makin kritis dan cermat sama informasi yang beredar di sana.

Selalu kroscek sebelum share informasi. Tetap santun saat menulis apa pun di media sosial. Selalu berpikiran terbuka dan menerima bahwa ngga semua orang bakal sependapat sama kita. Aktiflah melaporkan ujaran kebencian, konten sensitif, atau info yang terbukti hoax.

Yang ngga kalah penting, please please please beri pengertian juga ke orangtua, om tante, pakdhe budhe maupun adik kandung, adik sepupu, adiknya teman, adik ketemu gede (uhuk!). Intinya berikan perhatian lebih pada orang-orang di sekitar kita yang sudah sulit mengikuti maupun yang masih perlu dibimbing dalam hal perkembangan teknologi informasi. Ingat contoh WA di atas? Itu salah satu bukti maraknya peredaran hoax tidak hanya disebabkan pihak-pihak yang berniat negatif, tapi juga orang-orang polos yang belum/tidak sepenuhnya menyadari efek domino satu kali klik share.

KITA MAWAS DIRI

Last but not least, selalu sediakan waktu untuk introspeksi dan refleksi. Tanyakan pada dirimu sendiri, sudahkah kamu mendapat cukup informasi, sudahkah kamu menilai semua kandidat secara berimbang, dan seberapa yakin kamu dengan keputusanmu.

Jaga dirimu tetap waras dengan mencari teman atau orang terdekat yang bisa jadi rekan diskusi. Arus informasi yang deras juga bisa membuatmu kewalahan lho, jadi jangan lupa mengukur kapan kamu harus berhenti dan menjernihkan pikiran kembali. Kesehatanmu itu lho, Sobat BIB…

***

Akhir kata, sebagai anggota #antigombalgombalclub, teriring pesan dari saya:
Pilpres itu berat, tapi kamu pasti kuat, Sobat BIB!

Maria Felicia (BIB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *