Hari Minggu siang (26/8) ini tidak seperti biasanya. Bukannya memilih bersantai di rumah atau menonton film di bioskop, sekitar 100 orang muda dari berbagai komunitas mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Tifa yang bekerja sama dengan Forum Temu Kebangsaan Orang Muda berjudul Merawat Republik Indonesia; Menjaga Nyala, Memelihara Percik Terang Kebhinnekaan.  Wah, dari judul acara saja sepertinya serius dan “berat”. Ternyata tidak juga. Panitia tampak rapi dan pintar mengemas acara sesuai gaya milenial yang asyik dan menarik. Acara yang padat ini berjalan sejak pukul 14.00 – 17.30 WIB tidak terasa menjemukan.

Acara yang diselenggarakan di Goethe Institut Jakarta ini digelar untu merespon berbagai peristiwa di tanah air yang mengancam toleransi dan kebhinnekaan bangsa. Acara diawali dengan menyanyikan bersama lagu kebangsaan Indonesia Raya. Semua peserta lantang dan khidmat membawakannya. Semangat peserta tidak berkurang ketika diajak untuk bersama sediit mengenal lebih lanjut mengenai isu-isu yang penting diketahui demi menjaga keberlangsungan hidup keberagaman di Indonesia.

Isu yang pertama adalah mengenai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) bahwa penghayat kepercayaan diperbolehkan menuliskan kepercayaannya pada Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP).  Untuk mengetahui dampak serta pengaruhnya, maka peserta diajak untuk mengenal Parmalim. Kepercayaan Batak Asli ini dijelaskan dengan detail oleh Fany Samosir, Penghayat Ugamo Malim. Tidak perlu bingung. Parmalim sendiri memiliki arti  kaum / umat penghayat agama (ugamo) Malim. Parmalim tersebar di berbagai daerah di Nusantara. Karena merupakan kepercayaan asli Batak, maka ibadah atau upacaranya pun kental dengan budaya Batak, termasuk bahasa serta pakaiannya.

Menanggapi isu diperbolehkannya penganut kepercayaan untuk mencantumkan kepercayaannya di KK maupun KTP, Fany mengaku senang. Selama ini Ia dan penghayat lainnya seringkali merasa kesulitan, terutama saat belajar agama di sekolah serta saat sedang melamar pekerjaan yang seringkali harus mengisi kolom agama. Para penghayat kepercayaan pun, menurutnya, banyak yang menjadi malu dan tidak berani mengakui kepercayaannya. Maka, Ia berharap dengan putusan ini persoalan di atas tidak akan terjadi lagi. Lebih lanjut Ia menginginkan nantinya di sekolah formal juga disediakan pengajar kepercayaan-kepercayaan, sehingga penghayat yang bersekolah tidak kesulitan. Terkait hal ini, Fany mengungkapkan pula bahwa sejak diadakannya penyuluhan oleh pemerintah, kini sudah ada kurang lebih 80 pendidik yang siap mengajar penghayat Ugamo Malim di sekolah-sekolah.

Isu kedua yang diangkat yakni mengenai hak warga untuk hidup tanpa merasa terancam apalagi dipersekusi. Peserta diajak untuk peduli dan memahami lebih lanjut mengenai persekusi yang ada di masyarakat Indonesia saat ini. Persekusi dapat berupa persekusi fisik, psikis, seksual, maupun online yang kini marak terjadi dan minoritas banyak menjadi korban.

Untuk isu ketiga, panitia menghadirkan pembicara asli dari Papua untuk menunjukkan budaya, buah rasa, serta buah pikir orang Papua. Lain daripada yang lain, pembicara ini menampilkan tarian khas Papua serta stand up comedy dari Mumu, komika asli Papua. Dengan cara ini, terbangunlah ruang narasi alternatif yang bersumber dari warga Papua sebagai upaya mengimbangi narasi-narasi yang tidak berimbang mengenai Papua.

Acara terus dilanjutkan dengan Monolog Kebhinnekaan dari Inaya Wahid. Dengan gayanya yang nyentrik, kasual, dan kekinian, Inaya berbicara tentang kondisi kebhinnekaan bangsa. Di situasi yang suram ini, di mana masyarakat tidak lagi bebas berekspresi/berpendapat, penuh ketegangan, hingga makin banyak persekusi,  anak muda Indonesia diajak untuk menjadi terang, menjadi lilin. Dua lilin yang harus dinyalakan, yang pertama yakni lilin privilege (hak istimewa), di mana anak muda, dengan hak masing-masing yang dimiliki, menggunakan haknya untuk membela saudara yang belum memiliki hak yang sama. Yang mayoritas menggunakan haknya untuk membela minoritas, pria untuk wanita yang tertindas, daerah maju untuk daerah yang masih tertinggal, hingga yang sudah teredukasi untuk yang belum mampu memperoleh pendidikan.

Lilin kedua yang perlu dinyalakan untuk menjadi terang yakni lilin kemanusiaan. Inaya mengungkapkan bahwa kemanusiaan adalah penawar, kunci memadamkan kebencian. Bukan tentang benar atau salah, melainkan keinginan dan kemauan untuk menjadi saudara yang baik bagi teman sebangsa.

“Karena lilin kemanusiaan bisa menyalakan lilin keadilan,” tambah Inaya.

Setelah refleksi kebangsaan disampaikan, dilanjutkan dengan peluncuran Laporan Tahunan Yayasan Tifa 2017. Darmawan Triwibowo, Direktur Yayasan Tifa, mengungkapkan bahwa seturut peristiwa-peristiwa yang terjadi selama tahun 2017, Indonesia bergerak menuju titik nadir gagal menerima perbedaan. Namun laporan tidak hanya dibuat atau dibaca untuk merutuki masa-masa suram.  Dalam laporan yang mengangkat topik Kesetaraan dalam Perbedaan itu, disampaikan pula pesan bahwa Yayasan Tifa bersama mitra-mitranya akan terus meneguhkan keberpihakan pada nilai-nilai kesetaran, keadilan, kebhinnekaan, dan keterbukaan.

Sebagai wujud pertanggungjawaban atas gerak bersama merawat Indonesia, menjaga percik terang, serta menyulut pijar-pijar yang baru, maka diluncurkan pula mini album Cerita Bhinneka berisikan lagu-lagu tentang bangsa yang ditulis dan dinyanyikan teman-teman Forum Temu Kebangsaan Orang Muda.

“Refleksi mengenai situasi bangsa yang diselenggarakan ini bertujuan mengajak sebanyak mungkin orang muda untuk terus bergerak menjaga Indonesia lewat diskusi, sambil berkreasi melalui seni dan budaya” ujar Rial, Ketua Panitia acara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *