Siapa bilang pelajar hanya bisa belajar di kelas? Tembok ruang kelas tidak pernah mampu membatasi daya jelajah untuk mampu mengenal dan mengerti nilai-nilai hidup. Dengan demikian, menjadi semakin jelas bahwa apa yang diacu oleh susunan huruf bernama “nilai” bukan hanya sekadar jejeran angka di atas kertas. Ia jauh melampaui apa yang tertulis, merasuk ke dalam hati manusia untuk menjadi pegangan hidupnya.

Rentang waktu antara 10-13 Oktober 2018 merupakan hari-hari istimewa bagi para pelajar yang bersekolah di sekolah-sekolah Kolese. Ratusan pelajar dari delapan Kolese di seluruh Indonesia berkumpul menjadi satu untuk bersama mengikuti sebuah acara yang bernama “Temu Kolese”. Diikuti oleh pelajar dari Kolese Gonzaga-Jakarta, Kolese Loyola-Semarang, Kolese De Britto-Yogyakarta, Kolese Mikael-Solo, Kolese PIKA-Semarang, Kolese Le Cocq d’Armandville-Nabire, Seminari Petrus Kanisius-Mertoyudan, dan Kolese Kanisius-Jakarta, acara ini berlangsung meriah. Menjadi tuan rumah, Kolese Kanisius menjadi ajang perhelatan pertemuan kedelapan kolese ini untuk menyelenggarakan tidak hanya perlombaan olah raga dan non-olah raga, tetapi juga kelas-kelas diskusi, serta malam kesenian.

 

Menikmati Aroma Khas Jakarta

Mengusung tema “Kita tidak Sama, Kita Kerja Sama”, kedatangan kontingen-kontingen kolese dari pelbagai wilayah di Indonesia itu sendiri sudah mewujudnyatakan adanya keberagaman. Kedatangan ke Jakarta mau tidak mau memberi aroma tersendiri perjuangan pelajar ibu kota. Hal demikianlah yang mungkin tidak dirasakan oleh para pelajar kolese yang berasal dari Jawa Tengah atau juga Nabire.

Dengan sistem live in, beberapa pelajar menginap di tempat orang tua murid Kolese Kanisius. Dengan demikian, mereka dapat merasakan langsung bagaimana rasanya tinggal di Jakarta dan berjuang sebagaimana layaknya anak khas Jakarta. Tidak semua anak Jakarta identik dengan kenyamanan. Ada yang harus bangun pagi-pagi buta dan berangkat dengan kendaraan umum berdesak-desakan dengan ribuan orang lainnya yang juga berjuang di Jakarta. Belum lagi, macetnya kendaraan yang lalu lalang di jalanan.

Tinggal bersama dengan orang tua live in tentu mengajarkan pada mereka bahwa setiap orang punya perjuangannya masing-masing. Perjuangan itu berbeda. Dan, untuk itu tidak perlu ada keluh kesah yang berlebihan atas perjuangan yang tengah aku lakukan. Mengapa? Karena perjuangan itu toh sedang menuntunku untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh.

 

Kolaborasi dan Kerja Sama

Apa yang juga tidak kalah menarik adalah sistem yang digunakan dalam pertandingan-pertandingan kontak fisik, seperti sepak bola, basket, dan futsal. Tidak seperti kompetisi-kompetisi atau penyelenggaraan cup-cup biasanya, kompetisi di dalam Temu Kolese 2018 disajikan dengan format kolaborasi. Artinya, setiap tim terdiri dari pelajar yang berasal dari kedelapan kolese. Menarik bukan?

 Mereka baru saja berjumpa di hari pertama. Akan tetapi, sejak saat itulah mereka diminta untuk mulai berkolaborasi dan bekerja sama. Mereka berusaha untuk “meraba” dan mengenal teman baruku. Hal ini tidak mudah mengingat mereka mesti keluar dari zona nyaman diri sendiri yang mungkin terbentuk bila mereka bermain dengan teman yang berasal dari kolesenya sendiri.

Tidak mungkin bukan selama melakukan beberapa pertandingan, mereka hanya memanggil rekan mereka dengan sebutan “Oi, oi, oper sini…” Selama break atau waktu-waktu pre dan post pertandingan, mau tidak mau mereka berkenalan satu sama lain. Dan, dengan sebutan nama itulah mereka mulai saling memanggil nama untuk meminta operan dari temannya.

 

Mengenal Budaya Lain

Selain kompetisi olahraga, ada pula beberapa cabang non-olahraga yang dipertandingkan. Sebut saja, musikalisasi puisi, akapela, stand-up comedy, temu kolese got talent, dan tari tradisional. Di dalam cabang-cabang tersebut, mereka belajar untuk mengenal budaya lain terutama melalui seni dan atraksi yang ditampilkan oleh teman lain.

 Dalam tari tradisional misalnya, para pelajar dari Nabire tentu mendapat tepuk tangan hangat dari rekan-rekan pelajar lainnya ketika mereka menampilkan tariannya dengan pakaian adat Papua. Dalam kesempatan ini, peserta dari kolese-kolese lain menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana koteka itu digunakan. Semuanya tanpa perantara. Langsung terjadi saat itu.

Atau, misalnya ketika lomba stand up comedy. Masing-masing peserta menggunakan dialek dan logatnya sendiri-sendiri yang khas ketika hendak melontarkan joke-joke kepada penonton. Coba saja, mana ada anak Jakarta yang tahu ketika pelajar dari Jawa Tengah menggunakan ungkapan “rupamu”. Meski demikian, dari atraksi dan mimik wajah, mereka yang tadinya tidak mengerti menjadi sedikit paham dan ikut tertawa.

 

Bukan Hanya Budaya, tetapi juga Agama  

Keberagaman yang terwujud dalam acara Temu Kolese 2018 bukan hanya terjadi dalam ranah budaya, tetapi juga agama. Temu Kolese 2018 merupakan acara Temu Kolese pertama kali yang mengikutsertakan teman-teman dari Gusdurian untuk menjadi peserta dalam acara ini dan ikut menginap di Kolese Kanisius. Tidak hanya teman-teman dari Gusdurian, tetapi juga ada teman-teman santri yang ikut memeriahkan acara ini, tepatnya teman-teman santri dari Pesantren Asshiddiqiyah, Jakarta Barat.

Di dalam rangkaian acara Temu Kolese 2018 ini, teman-teman Gusdurian setiap harinya mengisi input selama satu jam. Mereka memberikan sesi-sesi mengenai keberagaman, tepatnya isu-isu mengenai prasangka dan bagaimana kita perlu mencegah prasangka-prasangka yang kerapkali membatasi diri kita untuk membangun dialog dengan sesama yang beragama lain. Bagaimana dengan teman-teman santri? Mereka ikut serta dalam acara olahraga (sepak bola) dan ikut mengisi tampilan di dalam acara malam kesenian. Keberadaan mereka inilah yang turut mewarnai keberagaman yang ada di dalam acara Temu Kolese 2018.

 

Kita Tidak Sama, Kita Kerja Sama

Apa yang membungkus acara Temu Kolese 2018 pada akhirnya adalah jargon yang selalu didengung-dengungkan oleh para panitia dan peserta selama acara ini berlangsung: “Kita Tidak Sama, Kita Kerja Sama”. Setiap acara, setiap kegiatan, juga setiap peserta dan panitia memiliki latar belakangnya masing-masing. Setiap dari mereka tidak sama. Mereka unik. Apakah harus disama-samakan? Tentu tidak.

Penyelenggaraan Temu Kolese 2018 hendak menyampaikan sebuah pesan sederhana. Di tengah fakta ketidaksamaan yang ada di antara kita, toh akhirnya kita dapat bekerja sama. Para panitia dan peserta mampu bekerja sama menyukseskan acara. Ini menjadi sebuah simbol sekaligus langkah awal yang menandai bahwa mereka yang tidak sama dapat bekerja sama untuk mewujudkan sebuah kebaikan bersama.

Buat apa mengutuki ketidaksamaan? Lebih baik menerima dan mensyukurinya, menyalurkannya sebagai sebuah energi positif untuk membangun kemajuan bersama. Kita memang tidak sama, tetapi kita mampu kerja sama!

 

Paulus Bagus Sugiyono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *